16 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya

Ida Ayu Made Dwi Antari by Ida Ayu Made Dwi Antari
March 16, 2026
in Esai
Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

​Di panggung kehidupan yang menuntut produktivitas tanpa jeda, sering kali kita terjebak dalam sebuah ironi : tubuh yang tetap bergerak, namun jiwa yang perlahan memudar. Orang-orang mengenalnya sebagai Soft Burnout.

Jika burnout konvensional adalah sebuah hantaman keras yang membuat seseorang tersungkur, maka soft burnout adalah sebuah “keheningan yang mematikan”  fase di mana kita berfungsi seperti mesin autopilot, namun kehilangan kemampuan untuk “merasakan”.

Analogi Mesin dan Kekosongan

​Bayangkan sebuah mesin yang lampu-lampunya masih menyala terang, namun tangki bahan bakarnya telah kering kerontang. Kita tetap berangkat ke kampus, tetap menari, tetap melakukan rutinitas seni di bawah terik matahari, bahkan ketika keterbatasan fisik mencoba menghalangi. Dari luar, dunia melihat diri ini sebagai sosok yang produktif dan tangguh.

Namun tanpa sadar kita sedang berteriak dalam kekosongan. Sebuah kondisi di mana eksistensi hanya didorong oleh tuntutan tanggung jawab, bukan lagi oleh api semangat. Inilah The Fade redupnya cahaya batin sebelum ia benar-benar padam. Pikiran adalah sumber dari segala perbuatan. Sarasamuscaya Sloka 79, menekankan pentingnya manusia mengendalikan pikiran yang dimana sebagai kunci utama dari moral dan spiritual.

Jika pikiran dibiarkan kering seperti mesin tanpa bahan bakar seseorang akan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Sarasamuscaya mengingatkan bahwa pikiran yang tidak terkendali akan membawa kekosongan makna, dimana tubuh bergerak akan tetapi esensi kemanusiaannya menghilang begitu saja.

Produktivitas sebagai Pelarian

​Ada sebuah rahasia yang jarang diungkap : terkadang produktivitas yang berlebihan adalah mekanisme pelarian dari luka lama. Sekujur tubuh kian berlari menuju kesibukan agar tidak punya waktu untuk menoleh pada trauma, penolakan, atau rasa sakit yang belum tuntas di masa lalu.

Kita menumpuk pencapaian seperti karya-karya literasi untuk membuktikan bahwa diri sendiri “berharga” di hadapan mereka yang pernah meremehkan. Namun, mengabaikan luka sambil terus memacu  mesin batin adalah resep menuju kehancuran yang sunyi. Menjadi manusia yang “dingin”. Sikap tenang dan tanpa emosi yang ditunjukkan sebenarnya adalah tembok pertahanan (emotional numbing) agar tidak ada lagi rasa sakit yang bisa masuk.

Di dalam Sarasamuscaya,  kebahagiaan sejati hanya bisa digapai melalui konsep Citta Suddhi dalam Sarasamuscaya merupakan etika tertinggi dimana penting bagi seseorang menekankan penyucian pikiran sebagai fondasi utama dalam melaksanakan kebenaran. Ketika seseorang menumpuk pencapaian hanya untuk membuktikan harga dirinya sendiri. Tanpa sadar sebenarnya sedang mengabaikan noda di dalam batin. Pelarian melalui kesibukan hanyalah ‘tembok pertahanan’ yang justru menjauhkan dirinya dari hakikat kedamaian yang diajarkan para leluhur.

Mengurai Benang Kusut Pikiran

​Overthinking sering kali menjadi beban tambahan yang mempercepat proses redupnya cahaya ini. Ia seperti benang kusut yang terus ada di kepala yang semakin ditarik menimbulkan kehilangan jiwa. Maka saya sebagai Narasumber Kesehatan mental, memilih mengurainya untuk dijadikan sebuah karya seni. Kelelahan mental ini merampas kemanusiaan  dan mengubah insan menjadi robot yang hanya tahu cara bekerja, namun lupa cara merasa.

Maka, saya menemukan bahwa katarsis paling jujur adalah melalui Sastra. Menulis puisi bukan sekadar merangkai kata, melainkan upaya untuk memindahkan beban di kepala ke atas kertas. Sastra menjadi tabung oksigen ketika realita terasa menyesakkan.

Menulis puisi bukan sekadar memindahkan beban di kepala ke atas kertas. Ini adalah laku Dharma untuk menata Manacika. Dengan mengurai benang kusut pikiran menjadi karya , seorang insan sedang berusaha memenuhi kodratnya sebagai makhluk yang berakal, mengembalikan cahaya batin agar tidak benar-benar padam.

Kedaulatan Diri dan Pemulihan

​Pulih dari Soft Burnout dimulai dari sebuah keberanian : mengakui keterbatasan. Keberanian mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak apa-apa untuk beristirahat sebentar. Self-compassion bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kedaulatan diri. Dengan memberikan izin bagi diri sendiri untuk merasa sedih atau lelah tanpa perlu menghakimi. Sarasamuscaya Sloka 2,  diantara segala mahluk hidup, hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah, yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk; leburlah ke dalam perbuatan baik; segala perbuatan yang buruk itu; demikianlah guna (pahalanya) menjadi manusia.

​Pola pikir bertumbuh (Growth Mindset) adalah kunci. Tantangan dan rasa sakit tidak seharusnya menghentikan insan, melainkan menjadi guru yang mendewasakan. Hidup memang harus ada tantangan, karena sebagaimana disebutkan dalam Sarasamuscaya Sloka 2, menjadi manusia adalah kesempatan yang sulit didapat (Manusyah sarvabhutesu) dan hanya manusia yang bisa memperbaiki nasibnya melalui perbuatan baik.

Maka, bertahan dalam proses yang berat dengan mental yang kokoh  adalah cara seseorang menghargai anugerah kelahiran ini. Kepada kawan-kawan yang sedang merasakan lampunya mulai meredup, ketahuilah bahwa kehebatan seseorang tidak diukur dari seberapa cepat ia berlari, melainkan seberapa tangguh ia bertahan dalam proses yang berat.

Meskipun fisik terbatas, selama mental tetap kokoh, insan akan selalu menemukan jalan untuk maju. Biarlah mesin kian tetap menyala, namun jangan biarkan ia kehilangan jiwanya. Karena pada akhirnya, karya yang paling bernyawa adalah karya yang lahir dari kejujuran seorang manusia, bukan dari ketangguhan sebuah mesin. [T]

Tags: burnoutmodernitassarasamuscaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif

Ida Ayu Made Dwi Antari

Ida Ayu Made Dwi Antari

Lahir dan menetap di Bali. Seorang penyuka musik dan sastra. Mengawali jejak kepenyairannya lewat Antologi Puisi pada 2021, ia juga pernah menjadi Narasumber Kesehatan Mental. Baginya, kata adalah nada yang tak bersuara. Sapa ia di Instagram @i.a_ant.

Related Posts

Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
March 16, 2026
0
Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif

FENOMENA “monyet keseratus” yang diperkenalkan oleh Lyall Watson (1979) dalam buku Lifetide, kerap dijadikan metafora untuk menjelaskan bagaimana transformasi perilaku...

Read moreDetails

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

by Gede Made Cahya Trisna Pratama
March 15, 2026
0
Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Coba ingat kembali, berapa gelas air putih yang sudah Anda habiskan hari ini? Di tengah cuaca yang semakin panas, segelas...

Read moreDetails

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

by Angga Wijaya
March 15, 2026
0
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan...

Read moreDetails

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

by I Wayan Westa
March 15, 2026
0
Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan

KETERATURAN adalah  hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur...

Read moreDetails

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

by I Gede Tilem Pastika
March 14, 2026
0
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

SETIAP Tumpek Wayang di Bali secara inheren menawarkan momen meditatif yang mengetuk kesadaran batin melalui ritual yang khas, namun pengalaman...

Read moreDetails

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

by I Wayan Yudana
March 14, 2026
0
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu...

Read moreDetails

Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

by Agung Sudarsa
March 14, 2026
0
Elektron, Dharma, dan Kesadaran: Membaca Alam Semesta dengan Mata Jiwa

Kita Bukan Kebetulan SERING kali kita merasa hidup ini kacau. Politik gaduh. Ekonomi tidak pasti. Hubungan manusia penuh konflik. Kita...

Read moreDetails

Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

by Angga Wijaya
March 13, 2026
0
Bali dan Intelektual yang Hanya Aktif di Media Sosial

Di Bali, ada fenomena yang lucu tapi sekaligus menyedihkan. Sebagian intelektual generasi tua yang dulunya produktif menulis, kini hanya aktif...

Read moreDetails

Diobati Perempuan Penyembuh

by Angga Wijaya
March 12, 2026
0
Diobati Perempuan Penyembuh

DUA bulan belakangan saya sering merasa lelah. Saya pikir mungkin ini burnout, lelah tidak hanya pada fisik tapi juga mental....

Read moreDetails

Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

by Muhammad Khairu Rahman
March 12, 2026
0
Korban Dipermalukan, Pelaku Dilupakan: Kebusukan Moral ‘Victim Blaming’ di Indonesia

Fenomena victim blaming — yaitu kecenderungan sosial untuk menyalahkan korban atas kekerasan atau kejahatan yang menimpa mereka — bukan sekadar...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya
Esai

Manacika dalam Modernitas : Menavigasi Soft Burnout Melalui Lensa Sarasamuscaya

​Di panggung kehidupan yang menuntut produktivitas tanpa jeda, sering kali kita terjebak dalam sebuah ironi : tubuh yang tetap bergerak,...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
March 16, 2026
Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif
Esai

Efek Monyet Keseratus dan Kesadaran Kolektif

FENOMENA “monyet keseratus” yang diperkenalkan oleh Lyall Watson (1979) dalam buku Lifetide, kerap dijadikan metafora untuk menjelaskan bagaimana transformasi perilaku...

by Agung Sudarsa
March 16, 2026
Laporan Survey Program Desa Binaan FBS Undiksha di Desa Pedawa: Membangun Desain Pembangunan Desa Berbasis Komunitas
Khas

Laporan Survey Program Desa Binaan FBS Undiksha di Desa Pedawa: Membangun Desain Pembangunan Desa Berbasis Komunitas

PROGRAM Desa Binaan yang dikembangkan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Pendidikan Ganesha merupakan bagian dari upaya menghadirkan perguruan...

by I Wayan Artika
March 16, 2026
Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?
Esai

Cuaca Makin Panas, Bagaimana Nasib Ginjal Kita?

Coba ingat kembali, berapa gelas air putih yang sudah Anda habiskan hari ini? Di tengah cuaca yang semakin panas, segelas...

by Gede Made Cahya Trisna Pratama
March 15, 2026
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari
Puisi

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara | Hari-hari

Sabtu waktu tak banyakmenit yang kau punyasebentar-sebentar habislangit mencatat semuanya tatapanmu menyeretkuke labirin cerminkau berbicara lewat pelukdan dua butir kecupdengan...

by Wayan Esa Bhaskara
March 15, 2026
‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali
Esai

‘Mauna’ di India, ‘Koh Ngomong’ di Bali

Di dunia yang semakin bising, diam menjadi sesuatu yang langka. Orang berbicara di televisi, di rapat, di media sosial, bahkan...

by Angga Wijaya
March 15, 2026
Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul
Kuliner

Menikmati Sate Klatak, Menikmati Malam di Pasar Wonokromo Bantul

Jogja, perjalanan yang tak singkat. Menghabiskan waktu hingga 9 jam lamanya. Beberapa kali singgah di Rest Area sepanjang Toll Cipali,...

by Tobing Crysnanjaya
March 15, 2026
Wayan Westa: Upacara Banyak, Yang Kurang Adalah Doa Dalam Tindakan
Esai

Nyepi: Dari Ramya Menuju Sunya

KETERATURAN adalah  hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur...

by I Wayan Westa
March 15, 2026
Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar
Panggung

Kritik Sosial dan Wajah Bhuta Kala Hari Ini pada Ogoh-Ogoh Barbar

SIANG itu, jalanan Kota Negara penuh oleh lautan manusia. Dentuman gambelan baleganjur bertalu-talu, sorot matahari memantul pada wajah para penonton...

by Satria Aditya
March 14, 2026
Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma
Esai

Sudamala Digital:  Ruwat Bayang-Bayang di Tengah Panggung Flexing dan Intrik Algoritma

SETIAP Tumpek Wayang di Bali secara inheren menawarkan momen meditatif yang mengetuk kesadaran batin melalui ritual yang khas, namun pengalaman...

by I Gede Tilem Pastika
March 14, 2026
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran
Esai

Tumpek Wayang dan Bali Masa Kini

Di Bali, kalender bukan sekadar penanda hari, tetapi juga pengingat tentang cara manusia menempatkan diri di tengah semesta. Salah satu...

by I Wayan Yudana
March 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co