Di Bali, ada fenomena yang lucu tapi sekaligus menyedihkan. Sebagian intelektual generasi tua yang dulunya produktif menulis, kini hanya aktif di media sosial. Mereka yang dulu melahirkan buku, esai panjang, bahkan artikel yang mampu memengaruhi cara pikir orang, sekarang rajin menulis status di Facebook atau Instagram.
Isinya sering tentang Bali, penguasa, kebudayaan, dan isu sosial yang menurut mereka penting. Sayangnya, tulisan-tulisan itu sering berhenti pada romantisme belaka, pada perasaan dan opini pribadi yang disembunyikan di balik kata-kata indah dan kalimat penuh retorika.
Ada yang menulis tentang penguasa dengan nada kritis, tapi nadanya selalu sarat kebencian. Ada yang membahas budaya Bali, tapi rasanya lebih ingin mengulang kenangan masa lalu daripada menawarkan analisis baru.
Ada yang menyinggung masalah sosial, tapi selalu dari perspektif emosi yang melekat pada pengalaman pribadi. Mereka mengkritik, menilai, bahkan mencela, tapi semuanya dilakukan di ruang sempit media sosial yang sebenarnya tidak menuntut kedalaman atau obyektivitas.
Sejak dulu saya meyakini, seorang intelektual sejati harus bebas dari beban emosional yang mengikat. Bebas dari kebencian, iri, atau dendam pribadi. Bebas dari obsesi terhadap citra atau reputasi yang ingin dipertahankan. Bebas dari ego yang memerintah cara berpikir.
Hanya dengan kebebasan itu intelektual bisa berpikir obyektif, menulis dengan jujur, dan menyajikan kritik yang konstruktif. Sayangnya, banyak yang saya lihat masih terperangkap dalam amarah kecil, dalam rasa tidak suka terhadap penguasa atau orang-orang yang dianggap “jelek” di mata mereka.
Ironisnya, mereka mengekspresikan semua itu di media sosial. Status pendek, komentar pedas, atau unggahan yang dibuat terburu-buru menjadi pengganti tulisan panjang yang bermakna. Mereka menulis dengan lantang, tapi seringkali hanya untuk didengar sesama pengikut atau teman Facebook yang seideologi.
Tidak ada dialog mendalam, tidak ada ruang untuk kritik yang lebih matang, tidak ada pertanggungjawaban publik terhadap gagasan yang mereka lontarkan.
Saya masih ingat beberapa nama yang dulunya menulis produktif, melahirkan buku yang dibaca luas, esai yang dibicarakan di kalangan akademik, bahkan kolom opini yang menjadi rujukan. Mereka mampu menghadirkan argumen yang kompleks, analisis yang tajam, dan refleksi yang dalam tentang kondisi sosial, politik, dan budaya.
Kini, kemampuan itu, bak tersimpan rapih di lemari tua, hanya keluar sebentar untuk status yang bisa dibaca dalam lima detik. Mereka kehilangan momentum untuk menulis panjang dan bermakna.
Apa yang membuat mereka berubah? Mungkin kenyamanan. Media sosial memberikan ruang cepat, instan, dan tidak menuntut banyak energi. Tidak ada editor yang mengoreksi, tidak ada penerbit yang menuntut kejelasan argumen, tidak ada pembaca yang menunggu esai panjang yang memerlukan perhatian.
Di media sosial, setiap kata adalah aksi spontan, setiap kalimat adalah refleksi sesaat. Mudah bagi intelektual untuk mengekspresikan perasaan, melampiaskan amarah, atau sekadar menunjukkan kepedulian terhadap isu tertentu.
Tapi kenyamanan itu juga jebakan. Intelektual yang terbiasa hanya menulis di media sosial lambat laun kehilangan kemampuan untuk menulis serius, menyusun argumen koheren, dan menghadirkan kritik obyektif. Mereka menjadi lebih reaktif daripada reflektif.
Lebih sering menanggapi postingan orang lain daripada membangun gagasan sendiri. Lebih senang memelihara kebencian atau kemarahan daripada merenungkan penyebab dan solusi dari masalah yang mereka kritik.
Bali membutuhkan intelektual yang menulis bukan untuk melampiaskan emosi, tetapi untuk membangun pemahaman. Bali membutuhkan suara yang mampu memotret realitas tanpa bias pribadi, tanpa dendam terhadap penguasa, tanpa obsesi terhadap citra masa lalu.
Suara yang mampu menyajikan analisis kritis tentang politik, budaya, dan masyarakat, yang bisa dibaca dan dipahami oleh generasi berikutnya.
Karena itu, saya sering menyampaikan kepada mereka, daripada menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk aktif di media sosial, alangkah baiknya mereka mulai menulis di media massa atau media online.
Esai kritis, tulisan reflektif, atau artikel mendalam jauh lebih pantas daripada sekadar status Facebook. Dengan tulisan panjang, intelektual dipaksa berpikir lebih keras, menyusun argumen dengan runtut, dan menyajikan fakta yang mendukung analisis mereka.
Mereka dipaksa lebih obyektif, lebih reflektif, dan lebih bertanggung jawab terhadap gagasan yang disampaikan.
Media sosial memang penting, tapi tidak bisa menjadi satu-satunya arena intelektual. Status atau tweet yang singkat tidak pernah bisa menggantikan esai panjang dan mendalam. Komentar yang pedas tidak pernah bisa setara dengan kritik yang bernas dan berbasis data. Unggahan instan tidak pernah menandingi refleksi yang matang dan analisis yang komprehensif.
Yang saya sayangkan adalah, banyak intelektual yang dulunya produktif kini lebih senang menjadi pengamat dari jauh, menjadi komentator tanpa risiko, menjadi pengkritik yang aman di ruang virtual.
Mereka merindukan Bali yang ideal, penguasa yang ideal, masyarakat yang ideal, tapi tidak pernah berani menulis dengan serius, tidak pernah berani menantang diri mereka sendiri, tidak pernah berani membuka argumen mereka kepada publik yang lebih luas.
Intelektual sejati itu tidak boleh nyaman di zona aman. Mereka harus siap menghadapi kritik, siap mempertanggungjawabkan gagasan, dan siap menghadapi konsekuensi dari tulisan mereka. Mereka harus berani keluar dari lingkaran teman-teman yang seideologi, dari komentar yang hanya memelihara egonya. Mereka harus menulis untuk menguji gagasan mereka, bukan untuk melampiaskan emosi.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa intelektual media sosial seringkali masih terikat pada nostalgia masa lalu. Mereka membicarakan Bali dari sudut pandang sentimental, memuja masa lalu yang menurut mereka lebih murni atau lebih ideal. Mereka membandingkan kondisi sekarang dengan masa lalu, tapi sering lupa meneliti fakta dan konteks yang sebenarnya.
Mereka menulis dengan hati, tapi lupa menulis dengan pikiran. Mereka merindukan sesuatu yang sempurna, tapi tidak pernah mencoba menghadirkan sesuatu yang konkret melalui tulisan mereka.
Seharusnya, intelektual mampu melampaui perasaan pribadi. Kritik yang baik bukan hanya soal mengekspresikan ketidaksukaan, tapi juga soal menganalisis penyebab, mencari solusi, dan menyajikan perspektif baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Kritik harus bebas dari kebencian, dendam, atau obsesi terhadap citra orang lain. Kritik harus obyektif, reflektif, dan produktif.
Menulis di media massa atau media online berarti membuka diri terhadap penilaian publik. Setiap kata yang ditulis harus dipertanggungjawabkan. Setiap argumen yang disampaikan harus memiliki dasar. Setiap opini yang dikemukakan harus diuji melalui logika dan fakta. Tidak ada jalan pintas, tidak ada pelarian dari tanggung jawab.
Dan inilah tantangan yang sering dihindari oleh intelektual media sosial. Mereka ingin menulis, tapi hanya sebatas yang nyaman. Mereka ingin berargumen, tapi hanya dalam ruang sempit yang aman.
Mereka ingin kritis, tapi tidak ingin menghadapi risiko. Akhirnya, Bali kehilangan potensi besar dari kapasitas intelektual yang seharusnya bisa memengaruhi masyarakat, budaya, dan politik secara positif.
Jika intelektual generasi tua di Bali mampu menulis serius, mereka bisa membentuk wacana yang lebih sehat. Mereka bisa mengajak generasi muda berpikir kritis, menyajikan analisis mendalam tentang isu-isu penting, dan membangun budaya membaca dan menulis yang lebih kuat.
Masih ada sebagian dari mereka yang memiliki kapasitas itu. Mereka hanya perlu mengalihkan sebagian waktu dari media sosial, menyalurkan energi dan pemikiran ke tulisan yang lebih panjang, lebih dalam, dan lebih bermakna.
Bukan berarti saya menolak media sosial. Media sosial bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk menyebarkan gagasan, mengajak diskusi, atau memperluas jangkauan tulisan. Tapi media sosial harus menjadi alat, bukan tujuan. Status atau unggahan singkat bisa menjadi pengantar, tapi tidak bisa menggantikan esai panjang dan mendalam. Komentar atau like tidak bisa menggantikan kritik yang bernas dan reflektif.
Intelektual sejati itu menulis bukan untuk popularitas atau melampiaskan emosi. Mereka menulis untuk berpikir lebih keras, memahami lebih dalam, dan mengajak orang lain berpikir. Menulis bukan untuk menyerang, tapi untuk membangun. Bukan untuk menunjukkan kebencian, tapi untuk menampilkan obyektivitas dan kebebasan berpikir.
Di Bali, intelektual generasi tua memiliki potensi besar untuk melakukan itu. Mereka memiliki pengalaman, kapasitas berpikir, dan wawasan luas. Mereka hanya perlu berani keluar dari kenyamanan media sosial, menulis dengan serius, dan menghadirkan kritik yang obyektif dan reflektif.
Hanya dengan begitu mereka bisa kembali menjadi intelektual sejati yang memberi manfaat bagi masyarakat dan budaya Bali. Semoga tulisan mereka tidak hanya menjadi kata-kata indah di Facebook, tetapi gagasan yang bisa mengubah cara kita berpikir, cara kita melihat Bali, dan cara kita membangun masa depan bersama. Karena pada akhirnya intelektual itu bukan sekadar yang rajin menulis status, tetapi yang mampu menulis untuk membebaskan pikiran dan membangun masyarakat. Bali, masyarakatnya, dan generasi mendatang pantas mendapatkan itu. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole




























