SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu, Bulan Bahasa Bali memberi pengaruh baik pada karir kesenimanannya, dan kini ia mulai menulis cerita pendek (cerpen) Bali modern.
Dan, betapa terkejut ia. Cerpen pertama berjudul “Medal Medil” yang ditulisnya berhasil meraih juara dua dalam lomba menulis cerpen Bali pada kegiatan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026. Tentu saja ia senang.
“Bagi saya pribadi, ini sebuah apresiasi yang benar-benar mengejutkan, mengingat berawal dari keisengan dan baru pertama kali menulis cerpen!” Begitu kata Wahyu Ardi menanggapi kemenangannya di ajang Bulan Bahasa Bali itu.
Wahyu Ardi bernama lengkap Kadek Wahyu Ardi Putra, S.Pd., M.Pd. Ia lahir di Cenigaan, Bangli, 28 Desember 1992, dan kini tinggal di Jalan Batuyang, Batubulan, Gianyar. Yang membuat orang juga kaget, ia bukan guru seni dan bukan guru sastra, melainkan guru pengajar Matematika di SMA Negeri 1 Sukawati
Meski jadi guru matematika, Wahyu Ardi yang diketahui punya pengalaman bermain drama sejak masa SMA dan kuliah, juga didapuk untuk menjadi guru pembina teater di sekolahnya. Namanya Teater Jungut Sari.

Teater Jungut Sari yang dibinanya punya jam pentas yang tinggi dan beberapa kali memenangkan juara lomba drama modern. Teater Jungut Sari lumayan sering berpartisipasi di ajang Bulan Bahasa Bali dan selalu mendapat sambutan positif dari pengunjung atau penonton.
Wahyu Ardi bisa disebut berhasil melambungkan nama Teater Jungut Sari sebagai teater sekolah yang bisa bersaing dengan teater semi profesional di Bali. Sebaliknya, Teater Jungut Sari juga mengukuhkan namanya sebagai penulis naskah dan sutradara muda di Bali. Dan, sepertinya, kini Wahyu Ardi tak bisa dipisahkan dengan kehidupan teater, selaian kehidupan guru sekolah yang juga dilakoninya dengan serius.
Cerpen “Medal Medil” yang menjadi juara dua dalam lomba cerpen di Bulan Bahasa Bali ini juga punya riwayat unik yang juga bersumber dari penulisan naskah drama.
Awalnya ia menulis naskah drama, dan punya keinginan mencari jalan agar naskah yang juga berjudul Medal Medil itu bisa dikenal, bahkan mungkin suatu saat bisa dimuat atau menjadi bagian dari buku kumpulan naskah. Namun, secara kebetulan, pada ajang Bulan Bahasa Bali tahun 2026 ia mendengar ada lomba menulis cerpen, sehingga ia berpikir kenapa naskah drama itu tidak dibuat dalam bentuk cerpen saja agar bisa diikutkan dalam lomba.
“Mengetahui adanya lomba menulis cerpen pada Bulan Bahasa Bali tahun ini, menggugah saya untuk kenapa tidak dibuatkan cerpen terlebih dahulu, siapa tahu bisa membuka jalan yang saya impikan,” katanya.
Dan, benar saja. Jalan pun terbuka. Cerpen itu meraih juara, dan pencapaian itu membuatkan lebih bersemangat untuk menulis lagi, siapa tahu nanti bisa menerbitkan buku kumpulan cerpen Bali modern.
“Saya sangat bersyukur bisa menjadi salah satu pemenang, bahkan bisa ikut berpartisipasi dan berkontribusi saja sudah membuat saya bangga,” ujar Wahyu Ardi.
***
Sebagai guru sekolah, Wahyu Ardi juga mencatat prestasi yang tak kalah dengan prestasinya di dunia seni teater. Ia pernah meraih juara 1 Lomba Implementasi Quizziz pada Pembelajaran antar Guru se-Bali Tahun 2021, juara 2 Lomba Media Pembelajaran Guru tingkat Nasional tahun 2022 (karya: Math Virtual Exhibition) , dan juara 3 Lomba Media Pembelajaran Guru tingkat Nasional tahun 2024 (karya: Komik Matematika Interaktif).

Prestasi di bidang teater, ia pernah dinobatkan sebagai Sutradara Terbaik pada Lomba Teater Berbahasa Daerah oleh Balai Bahasa Provinsi Bali tahun 2024. Saat itu ia menyutradarai Teater Jungut Sari dengan judul karya Sang Bang Manik Angkeran.
Naskah drama Bali modern yang dibuatnya adalah “Segara Saksi”, “Sang Bang Manik Angkeran” dan “Medal Medil”. Ia juga membuat naskah drama berbahasa Indonesia berjudul ” Penangkapan”.
***
Wahyu Ardi memang dikenal sebagai pemain teater sejak ia bersekolah dan kulaih di Singaraja. Ia pernah menjadi pemain di sejumlah kelompok teater di Singaraja, seperti teater sekolahnya dan Teater Komunitas Mahima. Prosesnya sebagai seniman teater dan sastra memang dilalui lewat proses yang panjang.
“Benar bahwa belajar tentang sesuatu hal itu bisa dari mana saja, kapan saja, dalam kondisi apa saja, sekalipun kita tidak mempunyai skill di bidang itu, asalkan mau mencoba dan niat tulus untuk berkontribusi dan berbagi kepada sekitar,” kata Wahyu Ardi menyampaikan pesan kreatifnya.
Karya cerpen Medal Medil yang menjadi juara itu juga tak luput dari proses panjang. Cerpen itu tidak serta merta jadi cerpen begitu saja. Cerpen itu berawal dari sebuah sketsa gambar, lalu naskah drama, kemudian garapan pertunjukan teater, hingga terakhir menjadi sebuah cerpen.
“Dan semua proses ini bisa dikatakan sebuah eksperimen bagi saya yang pada dasarnya seorang guru matematika yang hanya mungkin bermodalkan pengalaman berkesenian dan berteater sejak muda,” ujar Wahyu Ardi.

Wahyu Ardi kemudian bercerita karya “Medal Medil” ini berawal dari sketsa gambar, lalu menjadi naskah drama yang kemudian sempat dipentaskan di lomba drama Bali modern oleh Teater Jungut Sari SMA Negeri 1 Sukawati.
Menulis cerpen ini, kata Wahyu Ardi, adalah pengalaman pertama baginya. Dalam penulisannya, lebih banyak bermodalkan nekat dan eksperimen saja, sebab saya menyadari bukanlah seseorang yang terbiasa untuk menulis.
Untuk menjadikannya sebuah cerpen ia banyak mengambil refrensi dan terinspirasi dari cerpen-cerpen berbahasa Bali yang sudah ada. Ini dilakukan karena menyadari bahwa ia merasa benar-benar miskin akan teknik penulisan, kosa kata atau bahasa yang sering digunakan dalam pembuatan cerpen.
“Dari sanalah saya kemudian mengkaitkan dengan cerita pada naskah drama yang saya miliki,” ujarnya.
Kesulitan yang dihadapi antara lain, bagaimana naskah yang cukup panjang, penuh dengan percakapan atau dialog-dialog dapat diubah ke dalam bentuk cerita pendek, apalagi menggunakan bahasa Bali. Ia sempat tidak percaya diri dan bertanya dalam hati apakah benar struktur cerpen yang ia buat. Apakah benar penggunaan bahasa Bali dalam cerpen itu?
“Namun karena saya ingat kembali tujuan awal saya untuk ingin ikut berkontribusi, khususnya dalam pelestarian sastra, saya menjadi tidak beban, dan justru besar harapan saya bisa belajar dan ada kritik serta saran membangun yang bisa saya perloleh melalui kompetisi ini,” kata Wahyu Ardi.
Dan, kontribusi itu membuahkan hasil. Selamat, Wahyu Ardi! [T]
Reporter/Penulis: Adnyana Ole
Editor: Jaswanto



























