MAMPIR DI NAKAREMPE
angin berlalu liar
menelisik dan menjelma lalim yang jemawa
membawa perkara
bersoal tentang pendapa di ujung desa
tapi atap ijuknya tebal, tak tembus panas dan kesombongan
tembok anyamnya rapat,
tak berburai dingin dan kemunafikan
dapurnya sesak ketan dan kecukupan
berugaknya padat segan dan sirih-sirihan
lalim yang takzim
kembalilah angin
berlalu dengan alim
ah, lalim telah menyublim
LAPORAN
tenang, Pak Kades!
tugas mencicip mesam-mesem 7 warga kemarin
sudah terjamin
karena di hari sebelum kemarin
baru sampai di rumah Pak Udin
saya sudah cicip mesam-mesem satu lusin
laporannya akan saya taruh di meja depan
isinya rincian senyuman
yang menyapa saya sepanjang jalan
tapi, harus saya tulis di bagian mana
kalimat kesimpulan,
“saya sudah lihat semua lengkung mesam-mesem warga berikut
legit rasa di lidah ingatan?
SESAL DAN BUAL
warsa seperlima dari abad
empat hari sebelum sabit luput dari lihat
hari kedua dari pekan
dan detik pertama dari urip
cuaca Selasa
terik yang tak begitu leluasa
sakral menyeruak hinggap di ujung saraf perasa
lecah lecak tanah
lekat di kaki, lekat di kesan
meresap merasuk
pada tiap pori dan memori
Sesal dan bual
aku disundut tepat di keberanian
seteguk,
dua teguk,
cair sudah ayat Tuhan dan anutan
mengalir jadi panas di tenggorokan
.
Penulis: Aura Syfa Muliasari
Editor: Adnyana Ole



























