ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam pergaulannya. Namun, pada satu ketika kebiasaannya itu berubah. Ia menyukai Gus De, seorang siswa yang gemar melestarikan bahasa Bali khususnya di lingkungan sekolahnya, sehingga mulai menyukai Bahasa Bali. Cinta pada Gus De itu, Ana akhirnya belajar bahasa Bali secara serius. Keinginan itu, hanya agar bisa menjadi pacar Gus De.
Itulah konten yang berjudul “Elek” (malu) merupakan karya Ni Komang Pradnyawati yang terpilih sebagai Juara 1 Lomba Konten Media Sosial Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026. “Jujur saya tak menyangka bisa terpilih sebagai juara I. Saya hanya membuat konten yang biasa saya buat dalam sehari-hari,” kata Pradnyawati, Sabtu 28 Pebruari 2026.
Gadis ramah ini sungguh-sungguh tidak menyangka terpilih sebagai pemenang, terlebih lagi sebagai juara 1. Lomba Konten Media Sosial Berbahasa Bali ini merupakan kali pertama diikutinya. Lomba ini membuatnya ikut berpartisipasi dalam ajang Bulan Bahasa Bali yang sudah memasuki pelaksanaan ke 8 ini. “Saya sangat berterimakasih karena dipercayakan sebagai juara,” ucapnya.

Pradnyawati benar-benar merasa bersyukur atas prestasi itu. Namun, ia tidak akan pernah puas karena ini baru awal dari segalanya. “Saya ingin agar budaya Bali bisa dikenal di kancah internasional. Saya juga tidak pernah lupa berterimakasih kepada tim yang sudah membantu di balik layar baik dari pembina, teman teman saya yakni Listiana, Rama dan David,” sebutnya penuh syukur.
Siswi kelas 11 jurusan Produksi Film SMKN 1 Denpasar itu mengatakan, konten Elek ini lahir dari kekhawatiarannya terhadap keberadaan budaya Bali, khususnya bahasa, aksara, dan sastra Bali yang kian hari menjadi semakin sedikit peminat. “Maka dari itu, saya ingin merevitalisasi budaya Bali melalui konten “Elek” yang saya buat ini. Saya sengaja membuat karakternya gen Z karena melihat, populasi Gen Z di Bali sangat banyak dan agar relate dengan mereka,” ujarnya.
Proses pembuatannya dimulai dari pra produksi yaitu brainstorming dengan membuat naskah. Ide itu tak langsung jadi, karena itu lebih banyak menonton video lawak Bali di youtube agar bisa membantu dalam penyusunan naskah. Ia kemudian memulai dengan produksi (syuting) dan pasca produksi, yakni editing dengan melakukan rought cut, sound design, coloring, dan menambahkan subtitle secara manual di adobe premiere.

Lokasi syuting tidak jauh-jauh dari keseharainnya, yakni SMKN 1 Denpasar. Sekolah ini merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh Gen Z, dan anak-anak remaja kerap kali melakukan cinta monyet di sekolahnya sebagai semangat belajar. Selain itu, lokasi sekolah dipilihnya agar mempermudah lokasi take video, sehingga bisa melakukan take video ini di hari sekolah, belajar sambal membuat konten. “Sering kali jadwal syuting itu berubah karena harus menyesuaikan waktu luang talent. Itu terkagang yang menjadi kendala,” akunya polos.
Gadis ketiga dari empat bersaudara itu yang tinggal di Banjar Penenjoan, Desa Darmasaba, Kabupaten Badung itu memang memiliki pengalaman dalam membuat konten. Ia pertama kali belajar membuat konten sejak kelas 5 SD. Namun itu tidak konsisten, karena sempat berhenti dan lanjut di SMP. Saat dibangku SMP pun konten itu terkadang ada, dan sering pula absen. Lalu, setelah menjadi siswi SMK baru konsisten membuat konten, dan konten “Elek itu menjadi yang meraih juara,” ceritanya.

Pradnyawati sendiri sebagai Gen Z yang lahir di Bali sangat sadar budaya Bali itu menjadi identitas Bali yang dikenal dunia. Maka itu, ia merasa dengan membuat ini sebagai upaya yang bisa dilakukan anak muda untuk Bali. “Jadi konten ini saya buat dari saya, oleh saya, untuk Bali, dan saya berharap semoga lomba konten ini kembali diadakan di tahun depan, dan lebih banyak instansi yang mengadakan lomba konten khususnya terkait budaya Bali sebagai bukti bahwa teknologi bisa bertemu dengan budaya Bali,” harap gadis ini tersenyum. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























