Hidup Bagai Galeri Ponsel
Tatapanmu seperti sinar yang tersasar
di antara bantal-bantal bau peluh
kita bicara soal hidup sambil mengunyah gorengan
tapi hening itu tetap menetes dari ujung keningmu
Masih adakah potret masa lalu
di galeri gawai yang memorinya nyaris habis?
dan sajak-sajak itu sekarang seperti pajangan etalase
dengan filter usang dan sinyal yang sering menjerit
Hari-hari lewat seperti tagihan nafas yang kehilangan denyut nadi
dan kita menyusuri malam
dengan sandal jepit putus dan saldo rekening kosong
Jejak yang belum kita tulis
mungkin tertinggal di kertas tisu warung kopi
seperti kisah yang belum lelap—karena kopi itu terlalu manis
dan rindu tak bisa ditanak
dalam panci yang telah lama bocor
Kita melipat hari seperti handuk hotel yang selalu lembap
tetap basah, tetap bau
tapi siapa peduli, asal cukup menutup dada
Satu yang tersisa darimu:
bau parfum pasar malam
dan sejumput cahaya dari ponsel retakmu
di jalanan sepi penuh poster iklan yang telah sobek dan kusam
di mana seruling dan kecapi
mungkin cuma nada ritual
yang tak pernah engkau ganti
Malang, 2026
Simfoni Tak Bernada
_ Arsy
di simpang musim yang kehilangan arah,
wajahmu lebam
seperti fragmen mimpi yang gagal dilahirkan
sajak-sajak retak dalam kepalaku
terlalu lama mengendap di rahim kekosongan
dan kini hanya ada jendela
tempat kematian menyimak harapan yang tak rampung
Tradisi menjelma kabut
memenggal waktu seperti arloji kehilangan jarum detik
yang berdetak ke dalam mata
sementara langit retak di persimpangan
bulan pecah berkeping—menjadi saksi bisu
jenazah rindu yang dikebumikan senja
Senyummu, bayang tanpa tubuh
berembus seperti virus yang tidak berwujud
menyusup dalam lipatan nadi yang gemetar
bersembunyi dari cahaya
di lorong tempat malaikat tak lagi percaya doa
dan duka,
berlari ke arah yang tidak memiliki arah
Masih adakah aksara
yang bisa memisahkan roh dan gema?
ketika rindu dan gelisah sudah menyatu dalam liang
filsuf jadi abu,
kata-kata jadi bom waktu
pikiran dibekap oleh kefanaan yang menganga
Tuhan mungkin tinggal dalam koma
atau menulis ulang dunia dari balik kabut
sementara tanah-tanah ini:
rahim para penjilat
melahirkan puisi yang menangis
di antara lolongan serigala
dan simfoni tidak bernada
Ke mana wajahmu menakar kematian?
matahari tumbuh dari luka
dan waktu tak pernah mau sembuh
tubuhku jadi papan nisan yang menulis namamu
dengan tinta kehilangan warna
di bawah langit memar
dan engkau berdiri di etalase
jadi artefak dari keabadian
yang terlalu sunyi untuk dikenang
Malang, 2026
Eksil di Tubuh Kota
Aku menjelma residu dari kehendak tanah dan bumi
tumpah di lengkung lorong
yang tak mengenal nama
hanya bau
dari lalat yang membaca sunyi
Di kerumunan sampah pasar: aku bukan aku
hanya cangkang plastik
yang pernah gagal menjadi nyanyian
disobek senja, dibuang puisi
yang tak sempat lahir dari rahim lidah
Aku bersandar di dinding retak
di mana huruf-huruf terinfeksi debu
dan waktu,
mengeja tubuhku sebagai limbah sajak
disalib dalam arus diksi
Tanah ini,
yang dulu peradaban
kini menolak jejakku
aroma pengkhianatan naik dari pori-pori bumi
setelah metafora diperdagangkan
dan kata-kata menjadi barang antik
Aku tak lagi bertanya
tentang siapa yang melempar
hanya menunggu
kapan angin mengangkat aku
menjadi bayang,
yang akhirnya diakui langit
Malang, 2026
Di Altar Semesta
Barangkali lidah angin
telah menyayat suara yang terkubur
di pusaran sunyi yang menjelma doa luka
dan kita hanya sisa gema—tercetak
di tulang-tulang waktu yang retak
Kadang, kita lupa
bahwa aksara lahir dari luka semesta
yang merintih tiap kali langit menua
dan waktu berdarah
dalam putaran arlojinya sendiri
Jika cinta hanya gema yang dipukul
oleh jantung rindu yang beku
maka jarak adalah pusara
tempat sunyi melahirkan bayang-bayang
yang menjelma mantra
di altar semesta yang kehilangan Tuhan
Dan dari puing-puing perbedaan
kita rangkai frasa seperti:
perdamaian yang tanpa tubuh
persaudaraan yang tak bernama
di antara retakan cahaya
yang menjauh sejauh barat
dan timur yang tak pernah kembali
Malang, 2026
Pulang ke Matahari
Aku mulai curiga
pada retakan siang yang menganga
matahari adalah dewa purba
menusuk mataku dengan tombak emas
dan aku hanya bayang
yang tak lagi berani mencintai terang
Mungkin aku telah salah
mengira cahaya sebagai wajah
padahal ia hanya bayangan
yang menyesatkan arah pulang
Andai kita bisa menenun rindu
dari serpihan abu yang tak bernyawa
menyulam dendam menjadi tubuh
dan menjahit luka ke langit malam
agar kita bisa bercermin
tanpa wajah
Mungkin kita telah gagal
menjadi nyala dari gugusan remang itu
cinta adalah kabut
yang tak bisa disentuh
yang tumbuh di bawah kaki langit waktu
Dan manusia—adalah debu
yang dibentuk dari rahim yang berbeda
untuk menari di atas jurang
dan menyebutnya: sepasang matahari
tanpa pernah paham maknanya
Malang, 2026
.
Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole



























