WAJAHNYA merah seperti para pemabuk yang setiap malam berteriak di depan rumah orang. Kepalanya menggelayut dan tangannya mengibas-ngibas seperti ikan yang menggelepar di tanah. Kedua kaki Grudug diikat di plafon Balai Banjar sehingga ia tampak seperti kelelawar kesiangan. Tapi, bagi anak-anak yang datang mengerubunginya sambil menunjuk-nunjuk, berbisik-bisik, bahkan tertawa kecil, Grudug adalah penampil sirkus.
Rasanya sudah jelas, tapi tak ada yang tahu pasti siapa yang mengikatnya. Setiap orang enggan bertanya. Bedanya dengan anak-anak begitu jelas, orang tua dan muda hanya melihat, kadang melirik, ada pula yang mengamati dari jauh, tapi semuanya akan kembali pada urusan masing-masing. Peristiwa itu seolah-olah memang mesti begitu–tak usah ditanyakan lagi, apalagi dijelaskan. Tentu semua orang tahu, desa ini selalu memiliki tempat khusus bagi orang-orang seperti Grudug, yaitu langit-langit Balai Banjar.
Jujur saja, aku tidak terkejut. Bahkan, aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Cepat atau lambat. Sekarang atau nanti. Hari ini atau besok. Hal ini terjadi karena kebodohannya sendiri. Kalau aku bisa membisikinya sebelum ini terjadi, maka aku akan berkata: “Diam saja, tak usah banyak tingkah!”
Ia menantang lelaki berlengan paha yang tingginya hampir dua kali lipat tubuh Grudug, lelaki yang namanya cukup disebut dengan nada pelan, atau hanya dengan gerakan mata. “Ia cari mati!” bisik warga yang melihat tingkah Grudug.
Lelaki kekar berkepala botak itu adalah preman kampung. Namanya Pan Dalem. Ia preman kampung, pejudi, dan kini, kepala desa. Tubuhnya berat, dompetnya berat, dan pengaruhnya pun sangat berat. Ia biasa menghambur-hamburkan uang di arena sabung ayam hanya untuk menyebar sesuatu yang jauh lebih berharga dari kemenangan ayam jantan.
***
Nah! menjadi seorang pemain sabung ayam memiliki keuntungan yang tak dimiliki orang seperti Grudug. Pejudi memiliki banyak teman, orang kaya memiliki kuasa, dan Pan Dalem memiliki keduanya. Maka, suatu hari pastilah orang-orangnya bisa menjadi pelindung, pasukan, bahkan algojo. Algojo! Jika Grudug memiliki satu banjar pasukan, tentu itu tak cukup untuk dibandingkan dengan Pan Dalem, karena Pan Dalem memiliki lebih dari itu.
Sial kepalang sial, Pan Dalem juga murah hati. Paling tidak begitulah imbuhan mitos mengenai dirinya. Hal ini bisa dilacak, sebab ia biasa memberi uang dua ratus ribu hanya untuk seseorang yang membawa ayam-ayamnya dari parkiran mobil ke arena sabung ayam: dua ratus ribu untuk pekerjaan yang selesai dalam hitungan menit. Tentu sesederhana itu. Pan Dalem tahu persis bahwa uang itu adalah kecambah yang kelak tumbuh menjadi sesuatu.
Cerita tentang Pan Dalem menjalar seperti akar ketapang: dari pembawa ayam ke pejudi lain, dari pejudi ke pedagang lawar, dari pedagang lawar ke tukang parkir, lalu kembali lagi ke tempat asalnya. Nah…ketika cerita itu kembali, ia akan berbentuk sesuatu yang lain. Sesuatu yang tentu saja diharapkan oleh Pan Dalem. Kadang, sesuatu itu tumbuh lebih dari apa yang ia harapkan. Ketika ia mendengar mitos tentang dirinya, ia akan tersenyum, lalu pura-pura malu.
“Katanya, Pan Dalem itu sakti.”
“Ya… Katanya, dia biasa terbang setiap malam Kajeng Kliwon.”
“Ya… ya… ya…! Katanya, dia bisa mendengar orang yang membisiki namanya tiga kali.”
Di titik itu, tak penting lagi dari mana cerita itu berasal. Pan Dalem pun tak peduli dengan itu. Tapi semua orang tahu cerita itu. Cukup! Sesungguhnya, sampai pada titik itu, Pan Dalem bukanlah manusia biasa di mata orang-orang. Ia sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar, membesar, makin besar, dan Pan Dalem menyukainya.
Sialnya, Grudug melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Grudug hanyalah tamatan kuliah dan pengangguran. Apa yang bisa diharapkan? Siapa yang percaya? Tubuhnya kecil, suaranya melengking, dan selalu terasa terlalu keras. Ia memang pembaca buku, pengagum tokoh-tokoh tertentu–sekali lagi–sialnya, ia percaya bahwa pengetahuan akan mengubah banyak hal. Benturan itu normal. Pukul-pukulan itu wajar. Tapi, tentu dia salah tempat! Apa artinya pintar jika bisa dikeroyok? Apa artinya pintar jika lengan besar Pan Dalem sudah bertindak? Dan, apa artinya pintar jika kekuasaan tak mengharapkan itu?
***
Kisah ini bermula ketika baliho Pan Dalem muncul seperti jamur setelah hujan di seluruh sudut desa. Kepala mengkilap Pan Dalem begitu mentereng. Senyumnya yang bagi Grudug mengada-ada terpampang jelas di perempatan desa: tinggi, angkuh, dan terlalu percaya diri. Ketika itu, Pan Dalem mencalonkan diri sebagai kepala desa. Grudug menggerutu setelah tahu bahwa lawan Pan Dalem adalah anak buahnya sendiri. Semua orang pun tahu hasil akhirnya.
“Kita dirugikan!” kata Grudug di Bale Banjar waktu itu.
Semua orang diam. Grudug berdiri tapi tubuhnya tetap tampak terlalu kecil di kerumunan itu. Dan, suaranya yang melengking terasa memenuhi ruangan. Tapi aku tahu bahwa dia terlalu keras. Dasar anak muda! Dia belum tahu hakikat selamat.
“Penjudi, preman, dan pembunuh tidak boleh menjadi pemimpin! Mereka akan menggunakan kekuasaan untuk kepentingan mereka sendiri!” Lanjut Grudug.
Tidak hanya itu, ia juga bicara panjang tentang pajak, kekuasaan, dan bagaimana rakyat bekerja tapi pemimpin menikmati hasilnya–ia bicara perbudakan modern, ia bicara penindasan, dan banyak hal lain yang tidak sungguh-sungguh dipahami Pan Dalem.
Ketika Grudug bicara berkobar-kobar, terdengar suara kursi terseret. Dari satu kursi, satu lagi, lagi, dan lagi hingga kursi di sekelilingnya mulai kosong. Orang-orang menjauh. Seolah mereka berkata, “Jangan ciprati aku dengan kebodohanmu!” Akhirnya, Grudug berada di tengah lingkaran seperti titik kecil yang cerewet dan membandel. Pan Dalem tetap duduk sambil tersenyum, namun dadanya naik turun dengan cepat.
“Jika ingin mengkritik,” katanya pelan, “kritik saja asal beretika.”
Sendiri bukanlah hal yang menguntungkan. Sejak hari itu, Grudug menjadi bahan pembicaraan. Dalam imajinasinya sendiri, ia muncul sebagai orang yang biasa ia baca dalam buku-buku biografi: sepertinya ia yakin bahwa kebenaran tak pernah bisa langsung diterima, tapi tetap saja, orang mengenalnya sebagai orang bodoh, tak tahu tempat, tak tahu etika, terlalu memaksakan idealismenya.
Sebagai warga banjar–jangan ragu–aku tentu berada di barisan warga. Hehehe. Aku tak punya alasan untuk berdiri di dekat Grudug, lebih-lebih bersamanya. Itu bahaya. Aku punya keluarga, dan aku berharap selamat di tengah carut marut ini. “Orang-orang seperti Grudug, paling kalau dipilih jadi pejabat akan sama saja.” Kata-kata ini selalu aku bisiki dalam hati seperti mengucap mantra untuk menghilangkan keraguan dan perasaan bersalahku. Siapa yang bisa kita harapkan hari ini? Aku punya leher yang harus diselamatkan. Dia juga sedang membuat sesuatu untuk dirinya. Aku yakin, dia berkepentingan! Tapi…
“Kok, rasa-rasanya Grudug ada benarnya, ya?” bisikku.
Sial! Pamanku langsung menatap tajam begitu mendengar bisikan itu.
“Kau tahu uang perbaikan sanggah kemulan dari mana?”
“I… iya… dari Pan Dalem.”
“Kau tahu bekalmu dari mana?”
Diam memang lebih baik. Menjawab pasti salah dalam posisi itu karena aku tahu jawabannya. Maka, sekali lagi, selamatkan leher masing-masing: Diam!
***
Sejak saat itu, aku berusaha memahami dunia dengan cara “ngikut-ngikut”. Sebab kebenaran adalah kesepakatan, dan kesepakatan bisa dibentuk oleh kebiasaan dan kekuasaan. Melawannya berarti melawan orang banyak, melawan tetangga, melawan keluarga, melawan warga. Sistem ini begitu besar dan canggih untuk dilanggar dan diubah.
Tapi ini tak benar! Rasanya ada sesuatu yang bertempur dalam kepalaku. Tapi… ya… dunia tidak berjalan di jalur yang benar sebagaimana benar yang dijabarkan Grudug. Jika kita berjalan di jalur yang aman, ya, kita menang dengan cara yang lugu. Tapi, aku merasa bersalah dalam posisi ini. Ah… Grudug tak paham siapa yang kuat! Dia naif! Dia bodoh! Dia tak sadar sedang berdiri sendiri sementara semua orang di sekitarnya siap memenggal kepalanya kapan saja!
Grudug mana paham hal-hal seperti itu. Tapi, ia terus berbicara: di warung kopi, di jalan-jalan, di mana saja ada orang yang bersedia atau terpaksa mendengarnya. Hingga aku sendiri merasa bingung atas mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang kotor, dan mana yang bersih. Mana yang luka, mana yang bebal. Mana yang celaka, mana yang pasrah. Mana yang sesal, mana yang umpat. Mana yang sinting, mana yang gila. Mana yang hanyut, mana yang kekal. Mana yang roboh, mana yang kokoh. Mana yang jujur, mana yang jilat. Mana yang cara, mana yang bunuh diri.
Ia tetap bicara; terus dan bertambah lantang; sedikit dan tak pernah berhenti; melebar dan menggangguku. Ia berbicara tentang pajak, ia bicara tentang pejabat. Ia bicara tentang bagaimana rakyat diperas secara legal, dijual secara terang-terangan oleh pemerintah, dibudak dengan cara paling halus dalam sejarah penjajahan. Semua orang berkepentingan. Dunia bergerak dari kepentingan. Sebagaimana aku memikirkan keluarga. Tapi yang benar akan terkubur. Yang benar akan hilang.
Meskipun aku merasa ia ada benarnya, tapi aku tahu kebenaran tak selalu berguna untuk selamat. Paling tidak di tempat ini! Di tempat ini, bergerombol adalah kebenaran. Di tempat ini kebenaran tidak bisa memperbaiki sanggah kemulan, tidak bisa dipakai membeli susu bayi, tidak bisa dipakai membayar iuran BPJS, tidak bisa dipakai bayar samsat motor. Kebenaran tidak bisa memberi makan keluarga. Kebenaran tidak bisa melindungi leher seseorang di tengah malam.
Soal perbudakan, Grudug menyandingkan ini dengan kerja yang tak ada habisnya namun dibayar murah. Di sisi lain, lingkungan menuntut kita untuk selalu belanja: membeli motor, membeli hp, membeli kuota, membeli listrik, membeli gas, membeli air minum… Air minum! Membeli pakaian, membeli sandal-sepatu, membeli topi, membeli jasa guru, membeli jasa parkir, membeli jasa masak, membeli jasa laundry, membeli jasa salon. Semua mahal kecuali gaji kita.
Kita hidup dalam sistem yang membuat kita terperas. Aku pernah tertawa mendengar itu. Tapi, kau tahu, tawa itu terasa ganjil, hingga Grudug tergantung di Balai Banjar. Tubuhnya bergerak pelan, mengikuti hembusan angin pagi. Anak-anak masih melihatnya. Orang-orang masih lewat tanpa berhenti. Dan aku, sebagaimana kau, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa semua ini memang sewajarnya terjadi. Tapi, apa yang tersisa di masa depan kelak dengan diam ini? [T]
Penulis: Agus Wiratama
Editor: Adnyana Ole


























