Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing ada anémasisa. Makejang kamatiang.”
“Tiang tusing lakar mulih. Tusing buin ada tresna di tanahé ditu. Tusing ngelah nyén-nyén. Nyén lakar kaojog?Depang tiang mati dini.” Kenehné suung mangmung, peliatné johnyujuh Arcul de Triumf ané ade di tengah kota Bukarésé.
***
ITU adalah kutipan cerita pendek (cerpen) bahasa Bali karya Aries Pidrawan yang menjadi juara satu dalam lomba menulis cerpen Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali tahun 2026. Oleh dewan juri, cerpen ini dianggap kuat karena diramu dari hasil riset sejarah genosida tahun 1965.
“Mangmung Langit Bukares” memang cerpen yang mengambil latar tahun 1965. Cerpen berkisah tentang seorang perempuan bernama Ayu Rai, mahasiswa Indonesia di Rumania yang tidak bisa pulang karena paspornya dihapus pemerintah Indonesia ketika itu, pasca lengsernya Presiden Soekarno.
Ayu Rai dianggap simpatisan PKI. Hingga akhirnya Soeharto lengser dan Habibie menyerukan para eksil pulang, Ayu tidak mau pulang sebab seluruh cintanya di Indonesia, utamanya Bali telah hilang.
Selain menggunakan hasil riset sebagai bahan dasar cerpen ini, gaya penulisan Aries Pidarawan juga dianggap sangat cair dengan bahasa Bali yang lincah. Ini barangkali pengaruh dari kebiasaan Aries Pidrawan menulis cerpen dalam bahasa Indonesia.
Cerpen “Mangmung Langit Bukares” menggunakan alur bolak-balik. Selain itu, yang menarik, latar cerpen juga juga bolak balik antara Bali dan Bukares.
Cerpen diawali rasa kesepian Ayu Rai menunggu kekasihnya, Ngurah, yang seharusnya datang ke Rumania bersamanya. Namun, hingga puluhan tahun, bahkan hingga cerpen ini berakhir, mereka tidak pernah bertemu.
Lalu kilas balik pertemua Ayu Rai dengan Ngurah saat menonton drama gong Sanggar Sasana dengan latar tahun 1965-an, yang pementasannya dibiayai oleh Bagus Sutedja, gubernur Bali kala itu. Cinta tumbuh. Lewat jejaring Ngurah yang kuat sebab ayahnya adalah pimpinan PNI, ia bisa mengajukan agar Ayu Rai ikut ke Rumania.
Namun, yang sampai di Rumania hanya Ayu Rai. Ngurah tidak. Bertahun menunggu tidak datang. Akhirnya, datang kabar Bagus Sutedja ditangkap. Saat itulah Ayu Rai sadar bahwa Ngurah juga pasti ditangkap.
***

“Proses pembuatan cerpen ini sudah cukup lama,” kata Aries Pidrawan ketika ditanyai sehabis cerpennya diumumkan sebagai juara satu pada perayaan Bulan Bahasa Bali 2026.
Ia sejak dulu mengaku suka melakukan riset kecil-kecilan tentang sejarah tahun 1965. Ia membaca cerpen, artikel, termasuk berita tentang tragedi 1965.
Ia bahkan sudah sempat sebelumnya menulis cerpen bertema sejarah 1965 dengan “Kayu Jeleme” yang dimuat di Suara Saking Bali tahun 2022, dan cerpen “Jagal Bebarakan” yang kemudian dialihwahanakan dalam pentas Teater Garaka dalam Bulan Bahasa Bali 2025.
“Inspirasi terkait tragedi 65 kemudian berkembang setelah menonton berita tentang wacana kepulangan eksil dari Ceko dan Rusia tahun 2023,” kata Aries.
Mulai saat itulah ia terus membaca artikel dan menonton Youtube tentang kepulangan eksil itu. Akhirnya, akhir 2025 sempat disusun sebagai naskah drama, tetapi tidak selesai karena panitia Bulan Bahasa Bali pada tahun itu tidak mengadakan lomba drama Bali Modern. Akhirnya, pelan-pelan diubah menjadi cerpen yang berjudul “Mangmung Langit Bukares” yang kemudian menang sebagai juara satu itu.
***

Aries Pidrawan bernama lengkap I Gede Aries Pidrawan. Ia lahir di Karangasem, Nawa Kerti, 2 April 1988. Ia adalah guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Amlapura.
Kegiatannya di bidang sastra tak perlu ditanya lagi. Ia mengelola komunitas teater Garaka (Garuda Aksha). Ia juga menulis puisi dan cerpen yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan Bali. Cerpen berbahasa Bali pernah dimuat di Orti Bali, Pos Bali, Suara Saking Bali. Cerpennya dalam bahasa Indonesia sudah diterbitkan dalam bentuk buku dan juga dimuat di berbagai media massa cetak dan online, salah satunya di tatkala.co.
Dari kegiatannya itu ia meraih Anugerah Acarya Sastra bagi Pendidik dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa 2017.
Bagaimana rasanya menang?
“Tentu senang sekali. Ini jadi penumbuh semangat untuk terus menulis cerpen bahasa Bali,” kata Aries. [T]
Penulis: Adnyana Ole
Editor: Jaswanto



























