LENTERA DI AMBANG PINTU
Penghujung tahun ini dingin
Tangis seperti membendung waktu
Menyesakkan batin
Ada seseorang pernah jadi muara harap
Kini pupus
Kecewa mendekapku
Harapan pun menjauh
Pernah kukira ia jadi penawar bagi luka lama
Tapi ia hanya singgah, sesaat saja
Datang saat senggang, menjauh saat gamang
Meninggalkan janji yang terbengkalai di ambang pintu
Pintu hati yang rapuh
Menguji nyeri jiwa yang hampir luruh
Rasa yang mudah terluka
Seakan anugerah untuk meratap pada duka
Pintu yang sempat terbuka
Kini kembali terkunci rapat
Lentera padam
Harapan musnah, terhempas janji-janji
yang tak berjejak.
ANATOMI SUNYI
Gerimis waktu
Menjauh dari dekapan
Kubiarkan duka sesaat tercurah
Mengalir tanpa tepi
Memecah segala bendungan hati
Tubuh diri kini karam, hancur
Pohon rindang hati, sunyi
Kepak burung melintasi sepi
Dedaunan terkoyak angin
Di udara
Seribu makna melayang-layang
Pada setiap daya tarik bumi
PILAR DALAM RIUH TRAUMA
Kau bukan sekadar kawan
Memuji raga yang pincang
Namun cermin
Yang memantulkan wajah sesungguhnya
Saat dunia hanya melihat luka
Kau hanya memandang lurus
pada semangat dan hati yang tak pernah koyak
Tanganmu tak memegang alat musik
Tak menulis sajak
Namun persahabatan adalah melodi yang bijak
Membuatku tahu, kekuatan tak harus membentak
Upaya tulus lebih berharga daripada cahaya perak
Terimakasih, karena kau telah membuatku percaya
Arti ketulusan yang tak pernah kutemukan
Kau membuatku percaya
Bahwa hati yang paling kuat pun berhak memiliki jeda
Pilar itu kau, di tengah trauma dan riuh rasa
Yang membuatku bangkit dan berani
Untuk selamanya berkarya
Happy birthday, kawanku
Perasaanku yang mati kini makin bertumbuh
Bertunas mengjangkau angan-angan
DIALEKTIKA RASA
Seringkali, logika tak punya kuasa atas segalanya
Terutama saat rasa mulai bicara dalam hening
Namun ketika rasa itu buncah, nalar kembali memagari
Seolah takut diri akan terhanyut
Rencana Sang Pencipta terasa begitu berbeda
Berjalan selaras dengan getar rasa yang nyata
Kau tetap diam di sana, meski lidahku terus berdusta,
Meminta lupakan segalanya
Padahal hati tak berdaya
DAWAI YANG TERKUNCI
Di sela hujan dan sunyi
Jantungku berhenti, nalarku membubung tinggi
Tak pernah kunanti hadirmu di sini
Sebab bagiku, cinta hanyalah lara yang menanti
Logikaku kaku menakar setiap upayamu
Menganggap isyaratmu sekadar mainan semu
Satu purnama aku meremehkan juangmu
Lupa bahwa kau tetap diam, menjagaku dari jauh
Aku membungkam sapa, mengunci pintu bicara
Hingga aku asing pada diriku yang penuh tawa
Sang pemetik gitar yang dulu riang berekspresi
Kini tenggelam
Dibungkam sembilu masa lalu yang tak pernah terlupa
MEKAR DI SISA LUKA
Riuh bisikan itu mulai redup di tangan nalar
Aku telah menang atas segala keadaan
Di antara sisa luka, ada ikhlas yang mekar
Syukur aku pernah mengenalmu dalam lingkar takdir
Hanya ia, anomali yang menolak sirna
Di tengah palung luka yang belum juga usai
Logika kupegang erat sebagai kemudi
Sebab takut karam pada puing masa lalu
EKSALASI RASA
Logika mengeja rencana
Namun jiwa berbisik tentang sebuah rahasia
Bahwa hidup tak melulu soal angka
dan garis tujuan yang kupaksa
Melainkan tentang keberanian
Untuk menjamu siapa pun
Yang baru saja mengetuk beranda.
Di balik dingin tubuhku
Ada sisi lembut yang belajar percaya
Sebab tanpa langkah dan tantangan
Aku takkan pernah tahu
bagaimana semesta menuliskan bab akhirnya
Kali ini, ada getar yang tak biasa
Sebuah rasa yang menolak untuk sekadar disingkirkan
.
Penulis: Ida Ayu Made Dwi Antari
Editor: Adnyana Ole



























