Festival (Utsawa) Konsérvasi lontar serangkaian dengan Bulan Bahasa bali VIII berlangsung di Geria Kutuh Kawanan, Banjar Dinas Sangging, Desa Kamasan, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Selasa 10 Februari 2026. Lontar tersebut milik Keluarga Besar Geria Kutuh Kamasan.
Dalam festival itu, Penata Layanan Operasional (Penyuluh Bahasa Bali) Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menemukan lontar yang paling tua dari tahun 1615 Saka (1693 Masehi) berjudul Bhagawan Kamandaka, tentang ilmu kepemimpinan.
Meski lontar itu tergolong tua, tetapi tulisannya masih sangat jelas dan bisa dibaca. “Dari sebanyak 200-an lontar yang ada, kami baru berhasil melakukan konservasi saja, belum sampai pada tahap identifikasi. Itu pun baru bisa kami lakukan sebanyak 100 lontar. Sisanya, akan dicarikan waktu lain untuk dapat melakukan konservasi, sekaligus identifikasi,” ungkap Ida Bagus Ari Wijaya

Ida Bagus Ari Wijaya salah satu staf Disbud mengatakan, saking banyaknya lontar yang dimiliki Geria Kutuh, maka tim penyuluh yang berjumlah 45 orang itu baru dapat membersihkan debu-debunya, selanjutnya memelihara dengan menggunakan minyak sereh. “Lontar yang ada lumayan tebal-tebal, sehingga dalam satu cakep itu memerlukan waktu yang agak panjang untuk membersihkan dan merawatnya,” papar pria ini kalem.
Karena itu, untuk klasifikasi secara rinci belum dapat dihitung secara pasti, karena kekurangan waktu. Tetapi, sepintas Tim Penyuluh Bahasa Bali kerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali melihat lontar yang dimiliki Geria Kutuh ini tulisannya masih sangat bagus dan bisa dibaca. “Selain lontar tentang ilmu kenegaraan itu, juga ada koleksi lontar lainnya, yang diperkirakan sudah ada pada tahun 1920-1940-an) diantaranya itu ada mantra, tutur, kelompok kanda, usadga, kakawin dan wariga,” paparnya.

Bhagawan Kamandaka itu tergolong unik dan kemungkinan menjadi koleksi paling tua di geria tersebut. Karena, pada saat Ida Pedanda Kerta yang masih hidup sebagai menjabat kerta, kalau sekarang kepala pengadilan. Hubungannya memang dekat dengan Puri Klungkung, baik sebelum dan sesudah Puputan Klungkung. “Semua lontar masih dalam keadaan baik karena perawatannya bagus. Walau ada beberapa yang rusak itu karena factor usia,” ungkapnya.
Secara umum, lanjut Gus Ari penyimpanan lontar sangat bagus, bahkan tempatnya pun dibuat khusus, sehingga kondisi lontar sangat bagus. Disamping itu, lontar-lontar tersebut juga selalu diupacara pada saat Saraswati. “Dulu, saat Ida Pedanda Kerta masih hidup lontar tersebut tentu sering dibaca, tetapi belakangan mungkin jarang dibaca,” sebutnya.

Ida Bagus Ketut Suardana salah satu Panglingsir Geria Kutuh mengatakan, mengapresiasi kegiatan konservasi dan identifikasi lontar yang dilakukan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali. “Kami sangat mengapresiasi dan berterimakasi dengan adanya kegiatan ini sehingga lontar milik Geria Kutuh bisa dirawat dan dibersihkan untuk menjaga dan melestarikan warisdan leluhur,” ungkapnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























