Generasi muda, tidak pernah takut mempelajari aksara. Lihat saja pada Kriyaloka (Workshop) “Baligrafi” pada ajang Bulan Bahasa Bali VIII, di Lantai Bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Kamis 5 Pebruari 2026. Pada kesempatan itu, banyak sekali pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta terdiri dari siswa SMA di Bali dan penyuluh Bahasa Bali itu. Salah satu menjadi sorotan, apakah aksara Bali itu sifatnya sakral dapat digunakan untuk Baligrafi.
Suasana workshop memang terasa hangat. Para peserta yang hadir tampak penasaran, sehingga Narawakya (pembicara) yang merupakan Dosen Universitas Hindu Negeri IGB Sugriwa, Dr. I Made Gede Anandhi selalu saja mendapat pertanyaan. Apalagi, Pengenter (Moderator) yang dipandu oleh I Nyoman Wahyu Angga Budi Santosa tampak menguasai topik, sehingga lihai dalam memancing dan memikat emosi peserta untuk fokus.
Para peserta diberikan cara membuat gambaran menggunakan aksara Bali di atas kertas, pada saat workshop dimulai. “Jadi, untuk pertama kalinya Baligrafi dibahas, biasanya langsung dilombakan. Mereka mungkin mangalami banyak kerancuan, sehingga tadi mereka banyak bertanya yang memang betul-betul masalah di kalangan peserta lomba. Ini sebenarnya misinya bagus. Baligrafi itu lahir sebagai media,” jelas, Gede Anandhi.

Hal ini sesuai dengan pelaksanaan Bulan Bahasa Bali. Workshop Baligrafi ini sekaligus bertujuan agar generasi muda tidak takut mempelajari aksara. Mereka banyak yang mempertanyakan kepastian aturan bakunya ketika lomba. “Saya hanya menekankan pada penggunaan aksara pada Baligrafi sebaiknya di-push agar tidak sekedar lahir saja, namun ketika lahir, dimaknai berbeda-beda,” ungkapnya.
Gede Anandhi kemudian bercerita, pada saat mengamati perlombaan Baligrafi, masih ditemukan bentrok terkait penggunaan bahasa Bali yang baku. Padahal, itu jelas-jelas Baligrafi merupakan seni rupa modern. Penggunaan aksara Bali pada Baligrafi harus segera diputuskan sebab generasi muda sudah berani menyentuh hal-hal yang dulu mungkin dianggap sangat ‘pingit’. “Saya melihat, minat Gen Z sendiri pada Baligrafi mengalami peningkatan luar bias,” ujarnya.
Menurutnya, Baligrafi sudah mulai masuk ke wilayah seni rupa modern dan digital, hanya saja belum maksimal. Karena untuk aksara Bali sendiri terdapat ilmunya. Sedangkan di digital mengabungkan Baligrafi perlu kesabaran dan waktu serta kemampuan dari pengajar dan siswanya.

Gede Anandhi meminta, mestinya ada sedikit pertemuan atau perumusan yang lebih baku. “Kasihan para peserta yang sering dikacaukan oleh aturan-aturan pasang aksara tidak boleh salah. Membentuk aksaranya harus saklek, sedangkan di seni tidak boleh begitu. Distorsi itu, kita di seni sangat liar. Memang kalau dia di distorsi, di lontar, di aturan yang lontar. Ya tidak bisa,” tandasnya.
Gede Anandhi kemudian berharap, agar para pemegang putusan segera rumuskan dan berikan ketegasan aturan terkait aksara Baligrafi. Juga melakukan pembinaan pada Penyuluh dan Guru Aksara Bali. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























