UANG memang memiliki peran penting dalam dunia politik. Namun, menjadikan uang sebagai satu-satunya penentu keterpilihan, bisa dikatakan sebagai cara berpikir cukup menyesatkan. Di era politik elektoral hari ini, saya melihat bagaimana uang kerap dianggap sebagai alat utama untuk membeli suara. Ya, konsekuensinya, biaya politik terbilang jadi mahal. Pun kini pemilih perlahan diposisikan sebagai objek transaksi, kendatipun biaya politik yang besar itu tetap tidak pernah menjadi jaminan kemenangan. Begitulah ironisnya.
Situasi ini tidak hadir begitu saja. Pemilih menjadi transaksional karena sistem politik yang secara sadar—atau setidaknya dibiarkan—dibangun oleh para politisi sendiri. Ketika yang ditawarkan kepada rakyat hanyalah bantuan sosial dengan segala rupa namanya. Memang seperti wajar politik kita hari ini kehilangan makna dan gagasanya. Padahal, ada jalan lain yang jauh lebih murah, lebih sehat, dan terbukti bisa juga berhasil: integritas dan konsistensi.
Hal inilah saya dengar dan cermati sebagaimana disampaikan Dewa Komang Yudi Astara dalam dialog publik bersama mahasiswa di Kedai Umah Pradja, sebuah kegiatan yang digagas oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Singaraja.

Di hadapan puluhan mahasiswa, Dewa Komang Yudi, politisi muda dari Desa Tembok Kecamatan Tejakula ini berbagi pengalamannya. Menapaki dunia politik tanpa bergantung pada biaya besar. Ia mengakui bahwa kemenangan politiknya tidak dibangun lewat transaksi uang, melainkan melalui kerja-kerja berkelanjutan yang dirasakan langsung oleh masyarakat di Desa Tembok ketika ia jadi Pemimpin Desa.
Dewa Komang Yudi pertama kali terpilih sebagai Kepala Desa Tembok pada periode 2015–2021, saat usianya baru 29 tahun. Pada periode pertamanya, Desa Tembok berhasil meraih predikat Top 45 Inovasi Pelayanan Publik. Melalui program Intergasi Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan jaminan kesehatan desa sebagai Wujud dari Universal Health Coverage (UHC). Bagaimana menjadikan pelayanan kesehatan yang cepat dan mudah di akses oleh warga desa.
Dengan setia ia juga rajin bertemu dengan warga, menggali dan mencari solusi bersama. Terbukti pada masa Covid 19 Desa Tembok jadi percontohan desa yang mampu melewati masa sulit pandemi dengan programnya yang dekat dan berdampak nyata pada warga.
Kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya mengantarkannya kembali menang mutlak pada periode kedua (2021–2027). Hingga akhirnya, ia mengundurkan diri untuk maju sebagai calon legislatif pada Pemilu 2024.
Meski baru pertama kali maju sebagai calon legislatif, Dewa Komang Yudi mampu meraih suara yang signifikan. Bahkan, ia turut berkontribusi mebawa partainya memperoleh dua kursi dari daerah pemilihan yang hanya menyediakan empat kursi. Pencapaian ini menjadikannya salah satu pendatang baru dengan perolehan suara terbanyak di Buleleng. Semua itu, sekali lagi, bukan karena uang, melainkan karena kepercayaan.

Menurut Dewa Komang Yudi, integritas jadi adalah fondasi utama yang mampu menggali-tumbuhkan kepercayaan publik. Ia mengingatkan dan mengajak mahasiswa agar selalu berusaha menjaga integritas diri. Integritas ini akan jadi ivestasi yang mempermudah hidup kita tegasnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menyuarakan kegelisahan. “Menyampaikan kritik dan aspirasi tidak cukup dilakukan sekali dua kali, lalu menghilang. Perlu keberlanjutan, bahkan keberanian untuk turun ke jalan, selama dilakukan secara elegan dan konstitusional,” ujarnya.
Integritas dan konsistensi inilah dua bekal “bergizi gratis” yang diyakini mampu mengurangi beban demokrasi yang berbiaya mahal. Sebab, mahalnya biaya demokrasi kini kerap dijadikan dalih untuk mendorong kembali wacana pemilihan kepala daerah secara tidak langsung. Padahal, Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan pemilihan yang demokratis. Pertanyaannya, apakah pemilihan tidak langsung melalui DPRD benar-benar lebih demokratis dibanding pemilihan langsung oleh rakyat?

Pada akhirnya, saya pun percaya dan yakin bahwa politik tidak selalu harus mahal. Ketika karya, integritas, dan konsistensi ditawarkan kepada publik. Kepercayakan akan bisa tumbuh secara organik. Kalau sudah dipercaya, dipilih dalam pemilihan pasti hanya tinggal menunggu waktu. Ya, semoga saja waktu itu akan segera datang. [T]
Penulis: Gading Ganesha
Editor: Jaswanto


























