Selamat jalan, senja akan turun
Setiap saat kita melihat senja
Matamu terus terpana
Suara lembutmu selalu berkata
“Hias tubuhku dengan melati
Sehingga tak ada kesedihan yang menatapku!”
Setiap saat aku melihat senja
Hatiku terus terpana
Memunguti mawar bertaburan
Kuserap semua kasih mawar pada senja hari itu
Senja turun, dan kenangan kan teringat lagi
Kebahagiaan di siang hari
Melalui bayang di malam hari
Semua terasa manis di sisimu, wahai kasih
Permata jatuh saat senja turun
Aku disini membacakan puisi duka
Teruslah bernyanyi dalam mimpiku, wahai kasih
Gagak dan Meja Tulis
Mengapa gagak seperti meja tulis?
Pertanyaan dari sang topi
Jam berdentang
Jawaban merayap di pikiran kosong
Lalu, mengapa gagak seperti meja tulis?
Karena mereka adalah kekosongan
Karena keduanya adalah bayangan
Karena kita semua adalah gagak yang hinggap di meja tulis
Lantas, mengapa gagak seperti meja tulis?
Apakah kau sudah menemukannya?
Apakah kau tidak menemukannya?
Begitu pula denganku
Ranting Pohon
Lihatlah…
Kehidupan kita akan seperti
Sebuah ranting pohon
Yang tersangkut di kabel tiang jalanan
Lihatlah…
Sama seperti dahulu
Ranting ini akan menjadi esok hari…
Angin menggerakkannya perlahan.
Tak ada yang mengira
Tak ada yang melihat
Tak ada yang pernah ada
Aku melihatnya
Aku menangis
Saat permainan kita berakhir
Permainan petak umpet kita
Bisakah kita lakukan di esok hari?
Itu saja
Sampai jumpa besok
Ratuka
Seekor burung gagak
Ia berteduh di pohon rasupa
Yang buahnya berupa lonceng
Warna kelindang.
Diberikannya pada burung ratupa
Di kejauhan, gunung tembaram berubah wajah
Menguap, menjadi ular tangga betina
“Mengapa satu datang dan dua pergi?” tanya gagak
“Karena ia mencari empat.”
Sang pohon berbisik
Lewat daun geritik-nya
Ia berkata
“Tanyakan pada kumbang prahara.”
Komedi Teater
(I)
3… 2… 1…
Pementasan akan segera dimulai
Lima panggung, Lima kisah, tak lebih
Dan jiwa yang malang ini tengah duduk di bangkunya
O, jiwa yang lain bertepuk tangan dengan meriah
O, betapa malangnya jiwa kita ini yang tak berani menepuk tangannya
(II)
Tirai pertama terbuka
Seorang aria, dia duduk di puncak dunia berlandaskan kertas minyak
Tali-tali menjalar, menurunkan empat manusia fana
Saling menutup mata dengan menjulurkan tangan meminta
Saling berputar dengan mulut menunjukan kebahagiaan
Aria itu melambai-lambaikan tangannya
“Impianku hanyalah lautan keringat.”
“Impianku hanyalah lautan keringat.”
Suara surgawi yang indah
“Impianku hanyalah air mata.”
“Impianku hanyalah air mata.”
Empat manusia fana akhirnya terjatuh
Jatuh
Jatuh
Jatuh
Jatuh
Tirai pertama tertutup
O, jiwa yang lain melambaikan tangannya
O, betapa malangnya jiwa kita ini yang tak berani melambaikan tangannya
(III)
Tirai kedua terbuka
Satu pangeran menunggang kuda
Rumpun hijau
burung bernyanyi
mawar melenting
Satu putri yang sedang bersedih
Dia merasakannya, perasaan senang
Senang menjadi bagian dari puisinya
“Aku bersamamu.”
“Aku dampingimu.”
“Jangan menangis lagi.”
O, kata-kata dari pangeran yang baik hati
“Aku memujamu.”
“Aku memujamu.”
Betapa bahagianya sang putri tinggal di fantasinya sendiri
Satu pangeran menunggang kuda, terjatuh
Hujan tak henti
Burung layaknya manusia
Menunjukan sandiwara ini
Kebahagiaan sang putri tadi
Telah berubah menjadi pengetahuan
Karena dia telah mengerti
Pangeran tak ada
Pangeran tak ada
“Siapa pangeranku?”
“Siapa pangeranku?”
Bangkit, berdiri
Mengeluh tak akan bisa
Mengubah apapun
Pangeran berkuda
Pedang berkantong
Pergi berperang
“Akulah rekanku.”
“Akulah keluargaku.”
“Akulah pangeran dan putriku”
Tirai kedua tertutup
O, jiwa yang lain menangis
O, betapa malangnya jiwa kita ini yang tak berani menangis
(IV)
Tirai ketiga terbuka
Seorang badut
Empat cermin
Memantulkan bayangan berbeda
Yang satu menumpahkan air
Yang satu menjatuhkan piala
Yang satu tidak bisa berbicara
Yang satu tidak benar memilih jalan
Tak ada pilihan selain mengulang kejadian itu
Persis, tak pernah belajar
Kertas berhamburan
Dia lihat satu persatu
Mengingatkan dia tak akan pernah benar
Untuknya, cahaya telah gugur
Lihat, mereka menghilang
Hilang selamanya
“Telah kucoba.”
“Telah kucoba.”
Selalu seperti itu
“Apa yang kita harapkan?”
Badut lainnya hadir di panggung
Jadi ia menggenggam tangan badut itu
Tak memperdulikan kertas yang ia injak
Tip tapity tapity tap
Menarikan tarian kemenangan mereka
Nyanyikan lagu kemenangan
Ra, ra-ri-ra, ru-ri-ra-ru
Ra, ru-ri-ru, ri-ra-ru-ra
Pada akhirnya badut itu terjatuh
Tirai ketiga tertutup
O, jiwa yang lain tertawa terbahak-bahak
O, betapa malangnya jiwa kita ini yang tak berani tertawa
(V)
Tirai keempat terbuka
Lampu sorot remang-remang
Dua sosok berdiri
Satu pria
Satu wanita
Tangan terulur
Lalu berhenti
Karena cinta tak mengerti
Bagaimana cara mencintai tanpa melukai
Lalu sang pria berpikir
Dia pasti menjadi alasan mengapa
Bahwa ia kehilangan cahaya
Dan hati yang digenggam
Tak akan bisa bicara
Cinta pasti menjadi alasan mengapa
Dia harus bersandiwara pada sandiwara ini
Yang tak ia tahu
Karena ia tahu
Cahaya mengecil
Dan bayangan saling tumpang tindih
Tidak jelas
Siapa yang mencintai
Siapa yang dicintai
Tirai keempat tertutup
O, jiwa yang lain merasa dicintai
O, betapa malangnya jiwa kita ini yang tak berani mencintai
(VI)
Tirai terakhir terbuka
O, jiwa yang lain tiada
O, betapa malangnya jiwa kita ini yang tak berani untuk sendirian
Berdiri
Badut dengan buket bunga
Bunga gerbera
Bunga tulip
Bunga matahari
Bunga mawar kuning
Bunga Krisan kuning
Ia letakkan buket itu di ujung panggung
Dan tersenyum.
Senyum kebahagiaan?
Senyum kesedihan?
Senyum kepuasan?
Senyum keputusasaan?
Senyum kekonyolan?
Mungkin
Senyum jenaka
.
Penulis: Yoga Wismantara
Editor: Adnyana Ole



























