Pengantar editor:
Seniman drama gong legendaris sekaligus Guru Besar Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Prof Dr Drs I Wayan Sugita, MSi, berpulang karena sakit pada Rabu, 7 Januari 2026 malam di RSU Wangaya, Denpasar. Tentu saja kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga dan para seniman serta pegiat budaya Bali. Namun di balik itu, Wayan Sugita juga meninggalkan warisan berupa hal-hal baru dan hal-hal penting yang ia bangun selama memerankan Patih Agung dalam drama gong di Bali. Untuk mengetahui, apa-apa saja hal baik yang diwariskan Wayan Sugita dalam perkembangan drama gong di Bal, khususnya dalam seni peran Patih Agung, mari baca tulisan putra Wayan Sugita, I Gede Tilem Pastika.
***
PROF. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si. muncul dalam konstelasi seni pertunjukan Bali bukan sekadar sebagai seorang pelakon, melainkan sebagai sebuah fenomena intelektual yang berhasil menjembatani jurang antara menara gading akademis dengan panggung rakyat yang riuh.
Inilah hal-hal baik yang diwariskan Wayan Sugita dalam seni drama gong di Bali sehingga seni pertunjukan itu tetap memiliki wibawa hingga kini?
Karakter Patih Agung Bukan Lagi Tokoh Antagonis yang Dangkal
Kehadirannya dalam genre Drama Gong menandai sebuah era di mana karakter Patih Agung tidak lagi dipandang sebagai entitas antagonis yang dangkal, melainkan sebuah ruang dialektika yang kompleks. Sugita melakukan dekonstruksi terhadap peran-peran konvensional dengan menyuntikkan muatan epistemologis yang ia peroleh dari jenjang pendidikan formal dan pengalaman keseharianya, menciptakan sebuah hibriditas antara teori dan praksis budaya dengan praksis panggung yang sangat organis.

Dalam diskursus estetika Drama Gong, posisi Patih Agung sering kali terjebak dalam dikotomi hitam-putih yang kaku, namun di tangan Sugita, karakter ini bertransformasi menjadi poros intelektual cerita. Ia tidak hanya berperan sebagai pemantik konflik dalam narasi istanasentrik, tetapi juga menjadi subjek yang menguji batas-batas moralitas melalui retorika yang tajam.
Kemampuannya dalam mengonstruksi karakter Patih Agung telah menciptakan sebuah “standardisasi baru” atau patron yang menjadi rujukan bagi generasi aktor setelahnya, di mana kekuatan karakter tidak lagi hanya bersandar pada volume suara atau kegarangan fisik, melainkan pada kedalaman intelegensi.
Bukan Sekadar Bersilat Lidah, Tapi Memainkan Dialog Improvitatif
Landasan akademis Sugita yang berakar pada Sastra Daerah di Universitas Udayana hingga mencapai gelar profesor dalam kajian budaya Hindu memberikan keunggulan komparatif yang kuat. Penguasaan linguistiknya terhadap bahasa Bali bukan sekadar kecakapan komunikatif, melainkan sebuah penguasaan terhadap “ruh” bahasa yang memungkinkan ia melakukan manuver semantik di atas panggung.
Diksi yang ia pilih secara instan dalam setiap dialog improvitatif menunjukkan sebuah proses kognitif yang matang, di mana setiap kata yang terucap memiliki beban filosofis sekaligus estetis yang mampu membius penonton.
Keberhasilan Sugita dalam menghidupkan drama tanpa naskah yang ketat, atau yang bersandar pada bantang satua, menunjukkan ketangkasan intelektual dalam mengolah struktur naratif secara spontan. Di tengah keterbatasan panduan alur yang hanya disepakati di belakang panggung, ia mampu membangun arsitektur dialog yang kokoh, penuh dengan metafora, dan kaya akan referensi budaya. Hal ini menegaskan bahwa bagi Sugita, panggung Drama Gong adalah sebuah laboratorium bahasa di mana ia terus mengeksplorasi elastisitas tata bahasa Bali dalam ruang publik yang dinamis.
Cerminan Wibawa yang Natural
Peran Sugita sebagai seorang juru raos dalam kehidupan adat Bali (khususnya di Desa Adat Bukit Batu, Gianyar) memberikan dimensi otentisitas yang kuat pada setiap penampilannya. Keterlibatannya yang aktif dalam forum-forum adat memungkinkannya untuk membawa aura otoritas nyata ke dalam karakter fiktif seorang pejabat kerajaan.
Pengalaman empiris dalam memimpin diskursus publik di dunia nyata ini ia transformasikan menjadi energi panggung yang membuat karakter Patih Agung yang dibawakannya memiliki wibawa yang sangat natural, seolah garis batas antara sang profesor dan sang patih telah melebur sepenuhnya.
Karakter Patih Agung: Antara Kelicikan dan Kecerdasan
Permainan Sugita sering kali menampilkan paradoks yang memukau antara kelicikan yang memuakkan dan kecerdasan yang mengagumkan. Ia sangat mahir dalam menggiring opini publik di dalam cerita, memaksa “kebathilan” atau rencana jahatnya untuk tampak sebagai sebuah kebenaran logis melalui argumen-argumen yang sistematis.

Teknik manipulasi verbal ini tidak hanya menunjukkan kualitas akting yang mumpuni, tetapi juga merupakan kritik tajam terhadap bagaimana kekuasaan dan bahasa sering kali digunakan untuk mendistorsi realitas dalam struktur sosial politik.
Patih Agung versus Patih Anom: Medan Tempur Intelektual
Konfrontasi verbal antara Patih Agung versi Sugita dengan tokoh Patih Anom atau Patih Werda sering kali menjadi puncak estetika dalam setiap pementasan Drama Gong.
Dalam adu mulut tersebut, Sugita tidak hanya mengandalkan emosi, tetapi juga menggunakan kutipan-kutipan dari pustaka suci dan paribasa Bali sebagai instrumen untuk memenangkan perdebatan. Pertarungan ideologi ini menjadi medan tempur intelektual yang mengangkat derajat Drama Gong dari sekadar tontonan menjadi sebuah tuntunan yang kaya akan nilai-nilai etika dan dialektika.
Humor di Antara Ketegasan dan Kelicikan
Satu hal yang sangat distingtif dari gaya Sugita adalah kemampuannya menyelipkan unsur humor di tengah karakterisasi yang tegas dan licik. Humor yang ia bawakan bukanlah banyolan hambar, melainkan satire yang muncul dari ketajaman logika, yang sering kali justru membuat penonton merasa antipati sekaligus terhibur secara bersamaan. Dualitas emosi yang dirasakan penonton ini—antara benci terhadap karakternya namun kagum pada kecerdasannya—adalah bukti keberhasilan Sugita dalam mencapai kedalaman psikologis sebuah peran antagonis.

Berbeda dengan ayahnya, alm. I Ketut Merta, yang juga memerankan patih agung pada Drama Gong Bintang Bali Timur, yang dikenal dengan julukan Arya Barak. Alm. I Ketut Merta terkenal dengan kebengisanya, hingga tak tanggung-tanggung secara total terlihat menyiksa lawan mainya seperti adegan menyiksa tuan putri atau bahkan intrik lainya yang juga dilakukan dengan sungguh-sungguh (bahkan masih teringat pernah mendengar cerita jika adegan yang dilakukan memang benar-benar terasa sakit secara fisik)
Sugita melihat hal tersebut sebagai kepatutan untuk karakter patih agung, bengis, jahat, galak, dan tidak bisa diajak bercanda. Namun, dirinya menyadari bahwa untuk menjaga dinamika pertunjukan yang didasari pada spontanitas ia harus mampu membaca situasi, hingga menerka ke mana arah adegan saat berada di dalam pementasan. Beberapa hal yang dilakukan sugita adalah mencoba membaca lawan main. Misalnya pada adegan patangkilan di karang kepatihan, saat pelawak Dolar-Petruk (contoh yang terkenal) bercengkrama bersama tokoh Patih Agung yang dimainkan Sugita, yang secara jelas berbeda dari strata sosial (berikut tata krama dan sikap), namun selayaknya Patih Agung yang juga memikirkan bagaimana pelawak ini dapat sukses ia mengikuti permainan, membaca lawan main, kemudia nterlibat di dalamnya dengan tetap konsisten pada karakter patih agungnya.
Misalnya saat patangkilan ada kesalahan yang dilakukan oleh pelawak (parekan) ia akan dengan tegas memarahi parekan itu, namun disisi lain (di belakang patih) parekan lainya seolah-olah meniru gerak patih, dan berulang hingga terkesan lucu dan hidup. Hal ini bukan berarti Sugita menjadi patih yang jenaka, namun sigap membaca situasi.
Menurut pemahaman saya, Sugita melakukan hal tersebut adalah karena ia memahami aspek dramaturgi, Sugita selaku seniman praktisi sekaligus akademisi (drama gong) ia mempelajari dramaturi dan teater barat sebagai bekalnya untuk mematangkan karakter patih agungnya.
Fleksibilitas Sugita ini bukanlah suatu hal yang dilakukan untuk merusak citra patih agung, namun inovasi yang dilakukan adalah mengisi celah dan peluang, di tengah-tengah larutnya penonton dalam romance putra manis dan putri, kemudian lucunya pelawak, namun dirinya menarik emosi bernas penonton, maka kenyanglah emosi penonton dengan lalah manisnya pertunjukan drama gong kala itu.
Selain drama gong, Sugita juga beberapa kali terlibat dalam pertunjukan lainya. Ini karena ayahnya juga dikenal sebagai penari Arja (pernah dinobatkan sebagai Juara 1 Penasar Buduh Terbaik pada Festival Arja se-Bali tahun 70-an) hingga sering terlibat dalam pertunjukan barong landung. Hal itulah yang membuat Sugita juga ingin mencoba terlibat dalam berbagai jenis pertunjukan lainya.
Sugita sesekali berperan sebagai bondres, menari topeng, dan lainnya yang membuatnya lebih fleksibel dalam karakternya sebagai Patih Agung terbukti setelah surutnya drama gong pada awal 2000-an, dirinya terjun sebagai bondres balian pengeng yang namanya cukup dikenal kala itu dengan grup bondres Sekdut (Sekaa demen ulian tresna).
Cara Bertutur dengan Memperhitungkan Rima dan Irama
Pendalaman Sugita terhadap seni dharmagita juga memberikan rima dan irama yang unik pada cara ia bertutur di panggung. Ada musikalitas dalam dialognya yang membuat setiap argumen panjang yang ia sampaikan terasa memiliki tempo yang terjaga, sehingga penonton tidak merasa lelah meski harus menyimak perdebatan yang berat.
Integrasi antara seni suara tradisional dan seni peran ini menciptakan sebuah pertunjukan yang multisensorik, di mana keindahan vokal dan ketajaman akal berpadu dalam harmoni yang sempurna.
Gerak Tubuh yang Konsisten dan Membentuk Karakter Khas
Ciri khas lain yang biasa diamati adalah gestur/gerak tubuh Patih Agung ala Sugita yang biasanya diejek seperti ngandong karung (menggendong karung). Karena jalanya layaknya mengenjot sembari mengangguk dengan tubuh sedikit menunduk layaknya bersiap untuk menyerang musuh.
Biasanya hal ini dijadikan bahan lawakan oleh para parekan. Dalam pertunjukan drama gong dengan gerak realis tanpa gerak tari, dirinya mencoba untuk tetap terikat dengan tetabuhan gamelan, ritme jalannya tetap dijaga mengikuti ketukan gamelan. Hal ini menjadikan gestur yang dilakukan matanjek gong, meskipun tidak terlihat menari namun tetap metakeh.
Riasan yang Tebal untuk Mempertegas Karakter
Terkait dengan tata rias dan kostum, visualisasi karakter Patih Agung ala Sugita masih mengadopsi secara garis besar karakter visual dari Patih Agung yang dibawakan oleh ayahnya. Namun penajaman dilakukan dengan mempertegas goresan wajah (pada masa ayahnya terkenal dengan riasan yang tipis hingga hanya sekedar berias), bahkan pada beberapa tokoh drama gong seperti alm. I Wayan Puja (Singapadu) beliau tampil dengan wajah natural tanpa riasan saat menjadi patih agung.

Sugita mempertajam karakternya dengan rias tebal, hal ini dilakukan karena dirinya sadar. Bahwa pentas malam dengan menggunakan pencahayaan panggung mengharuskan kontur wajah pemain harus jelas terlihat, dan rias digunakan untuk mempertegas karakter (hingga menggunakan merah pipi/blash on yang tebal).
Untuk kostum, Sugita bermain warna. Sebelumnya banyak Patih Agung yang tampil dengan warna gelap, namun kembali sugita memilih warna kontras, merah, hitam, dan poleng menjadi ciri khasnya. Hal ini merupakan hasil evaluasinya dari menonton rekaman-rekaman pertunjukanya sendiri. Sugita aktif melakukan evaluasi, tak puas dengan pencapainya, selalu mencari cara berbenah. Hal ini menunjukkan bahwa seni tradisi tidak harus selalu diam ditempat, ia dapat berkembang namun tetap mempertahankan rohnya.
Inovasi Terus Menerus
Konsistensi Sugita dalam menekuni kajian Drama Gong dari jenjang S1-S3 hingga Guru Besar mencerminkan sebuah komitmen total terhadap pelestarian kebudayaan Bali melalui jalur saintifik dan artistik. Ia tidak hanya mempraktikkan seni, tetapi juga meneliti, membedah, dan mendokumentasikannya ke dalam karya tulis ilmiah. Pendekatan holistik ini menjadikan setiap gerak dan ucapannya di panggung memiliki landasan teoretis yang kuat, sehingga setiap inovasi yang ia lakukan tetap berada dalam koridor etika budaya namun tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Inovasi yang dilakukan Sugita di tengah kekakuan pakem Drama Gong merupakan sebuah langkah berani yang menembus batas-batas tradisionalisme tanpa harus merusaknya. Ia memahami betul struktur dasar drama tersebut, namun ia juga sadar bahwa tradisi yang hidup adalah tradisi yang mampu berdialog dengan modernitas. Dengan membawa isu-isu kontemporer dan kedalaman logika akademis ke dalam dialog klasik, ia berhasil membuat Drama Gong tetap diminati oleh khalayak luas, termasuk kalangan intelektual muda yang haus akan tontonan bermutu.
Kematangan Sugita dalam memerankan karakter Patih Agung juga terlihat dari caranya menguasai “gestur patih”. Setiap langkah kaki, gerak tangan, hingga sorot mata diatur sedemikian rupa untuk membangun ketegangan atmosfer sebelum ia mulai berbicara. Penguasaan ruang panggung ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang koreografer bagi dirinya sendiri, yang mengerti bahwa bahasa tubuh adalah teks non-verbal yang sama pentingnya dengan kata-kata yang ia ucapkan.
Dampak dari sepak terjang Sugita di kancah seni Bali melampaui sekadar popularitas individu; ia telah menginspirasi sebuah ekosistem seni yang lebih kritis dan terdidik. Kehadirannya membuktikan bahwa menjadi seorang seniman tradisi tidak harus meninggalkan jalur pendidikan formal, justru sebaliknya, pendidikan mampu memperkaya khazanah kreatifitas. Ia menjadi antitesis bagi pandangan yang memisahkan dunia praktik seni dengan dunia pemikiran teoritis, menunjukkan bahwa keduanya dapat saling memperkuat satu sama lain dalam satu raga seniman.

Melihat kembali perjalanan panjang karirnya, Sugita telah berhasil mengukir identitas yang khusus dan personal yang hampir mustahil untuk direplikasi secara identik oleh orang lain. Karakter Patih Agung miliknya adalah sebuah tanda tangan artistik yang autentik, lahir dari perpaduan antara bakat alamiah, ketekunan belajar, dan kepekaan sosial yang tinggi. Ia telah menjadikan panggung drama sebagai sebuah cermin besar bagi masyarakat Bali untuk melihat kembali kerumitan bahasa, budaya, dan struktur kekuasaan mereka sendiri.
Prof. Dr. Drs. I Wayan Sugita, M.Si. layak disebut sebagai sang maestro yang berhasil memanusiakan antagonisme. Melalui ketajaman diksi, penguasaan literatur, dan integritas akademisnya, ia telah mengangkat derajat Drama Gong ke level yang lebih tinggi dalam peta seni pertunjukan dunia. Warisan yang ia tinggalkan bukan hanya sekadar ingatan tentang peran yang hebat, tetapi sebuah metodologi tentang bagaimana seni tradisi seharusnya dirawat: dengan cinta yang mendalam, dedikasi yang tak tergoyahkan, dan intelegensi yang tajam. [T]
Penulis: I Gede Tilem Pastika
Editor: Adnyana Ole


























