SUATU saat, saya ingin ‘mengusut’ lebih dalam soal novel Nadja karya Andre Breton. Pasalnya, saya ingin menambah pengetahuan tentang ‘sastra surealis’. Kata banyak ahli, novel itu termasuk kategori karya ‘sastra surealis’.
Sebagaimana para penulis, manakala ada keterbatasan buku-buku referensi, maka akan mencoba mencari via media sosial atau jurnal-jurnal keilmuan. Saya pun mencoba mencari lewat ‘mesin pencari’, google.
Banyak referensi yang muncul, dan membuat saya justru kebingungan untuk memahaminya. Maklum, ibarat computer, saya masih di generasi ‘pentium 1’. ‘Pentium’ ini adalah merek mikroprosesor (CPU) dari Intel yang sangat terkenal, menandai lompatan besar dalam komputasi PC, dan saya masih di level 1. Lelet dan terbatas memorinya.

Dari sekian banyak hasil dari mesin pencari, ada yang menarik bagi saya, yakni skripsi dari mahasiswi Program Studi Sastra Prancis, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada – Yogyakarta – Irene Dyah Saraswati. Judul skripsinya : “Konsep Fantasmagorie Dalam Novel autobiografi Nadja Karya Andre Breton”.
Mengapa saya tertarik pada skripsi Dyah? Sebab, saya menemukan istilah yang asing dan belum pernah saya dengar. Fantasmagorie. Istilah ini, asing bagi saya, dan baru pertama kali saya temukan hingga membuat saya penasaran dan menelusuri arti sebenarnya.
‘Mesin pencari’ menjelaskan bahwa Fantasmagorie – sesuai pemikiran yang diungkapkan oleh Walter Benjamin di dalam ‘The Arcades Project’ – adalah cara untuk memahami makna fantasmagorie dan realitas yang terdapat pada novel antara hubungan karakter André (sebagai representasi Breton) dan Nadja.
Pada abstrak skripsi Dyah dijelaskan – Walter Benjamin di dalam esainya, Paris the Capital of Nineteenth Century pada tahun 1935 – menyatakan bahwa Fantasmagorie adalah sekumpulan peristiwa – gambar – yangmengiringi perubahan pesat yang terjadi di kota Paris pada abad ke-19, sehinggafenomena ini pun menciptakan angan-angan ‘utopis’ dari kenyataan yangsebenarnya.

Utopia yang Benjamin gambarkan, menurut penuturan Dyah – dirangkum dalam beberapa unsur fantasmagorie dan di antaranya dapat ditemukan di dalam novel autobiografi André Breton, Nadja. Novel yang terbit pada tahun 1928 ini bercerita mengenai pengalaman Breton dan Nadja selama sepuluh hari di bulan Oktober 1926.
Sebelumnya, lewat ‘mesin pencari’ juga, saya temukan tulisan Andi Arfan Yusri di rri.co.id yang menyatakan bahwa jauh sebelum era digital mendominasi produksi film, sebuah karya pionir lahir, menandai awal mula perjalanan panjang animasi.
Film revolusioner tersebut, jelas Andi Arfan Yusri – adalah Fantasmagorie, sebuah inovasi brilian yang diciptakan oleh seniman visioner asal Prancis, Émile Cohl. Dirilis pada tahun 1908, Fantasmagorie secara luas diakui sebagai film animasi pertama di dunia.

Selanjutnya Andi Arfan Yusri menambahkan – Karya singkat namun monumental dengan durasi sekitar satu hingga dua menit ini, membuka jalan bagi medium ekspresi artistik yang tak terhingga jumlahnya dan terus mempesona audiens hingga kini.
Cohl, seorang karikaturis yang beralih menjadi animator, menggunakan serangkaian teknik inovatif untuk zamannya – guna menghidupkan gambar-gambar ‘statis’ menjadi ‘ilusi’ gerakan yang memukau.
Kembali ke materi skripsi Dyah, tercatat Walter Benjamin melihat Paris sebagai laboratorium modernitas – pusat perbelanjaan, ‘parade’ arsitektur, dan boulevard yang luas menjadi simbol kemajuan sekaligus ilusi.
Fantasmagorie bukan sekadar ‘ilusi visual’, melainkan sebuah ‘konstruksi utopis’ yang menutupi kenyataan sosial, politik, dan ekonomi yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, fantasmagorie menjadi semacam tirai yang menampilkan ‘citra ideal’, sementara ‘realitas’ di baliknya tetap penuh ‘kontradiksi’.
‘Fantasmagorie’ hadir dalam bentuk citra-citra yang memikat – pameran dunia, toko-toko mewah, dan iklan – yang menyembunyikan ketegangan sosial akibat ‘industrialisasi’ dan ‘kapitalisme’. Dengan demikian, ‘fantasmagorie’ adalah mekanisme budaya yang mengubah pengalaman sehari-hari menjadi ‘tontonan utopis’, meski realitas di baliknya penuh ‘eksploitasi’ dan ‘alienasi’.

Dalam Nadja, Breton menuliskan pengalaman personal yang sarat dengan nuansa surealis. Pertemuan dengan Nadja bukan hanya kisah cinta atau persahabatan, melainkan sebuah perjalanan ke dalam fantasmagorie kota Paris. Jalan-jalan, percakapan, dan peristiwa sehari-hari ditransformasikan menjadi citra yang penuh misteri dan keajaiban.
Seperti fantasmagorie Benjamin, kisah Breton menutupi realitas dengan lapisan utopis. Nadja sendiri menjadi figur fantasmagoris – ia hadir sebagai simbol kebebasan, inspirasi, dan misteri, namun di balik itu terdapat realitas tragis tentang keterasingan dan kegilaan.
Dengan demikian, menurut saya – Nadja memperlihatkan bagaimana fantasmagorie dapat mengubah pengalaman nyata menjadi narasi yang penuh ilusi, sekaligus menyingkap realitas yang tersembunyi.
Baik Benjamin maupun Breton menunjukkan bahwa fantasmagorie bukan sekadar ilusi kosong. Ia adalah dialektika antara utopia dan realitas – sebuah cara untuk memahami bagaimana manusia menciptakan citra-citra ideal guna melarikan diri dari kenyataan, namun pada saat yang sama citra itu justru menyingkap kontradiksi yang ada.
Dalam Paris dan Nadja, fantasmagorie berfungsi sebagai medium untuk mengungkapkan pengalaman modernitas. Paris abad ke-19 dan Paris tahun 1920-an sama-sama menjadi panggung di mana utopia dan realitas saling berkelindan. Fantasmagorie menutupi, tetapi juga membuka – ia menyembunyikan realitas, namun sekaligus memperlihatkan jejaknya.
Kedua teks ini, meski berbeda medium, sama-sama memperlihatkan bagaimana fantasmagorie bekerja sebagai dialektika antara utopia dan realitas. Untuk memahami kedalaman fenomena ini, kita dapat menautkannya dengan teori Marx tentang ‘komoditas’ dan ‘Surrealisme’ sebagai gerakan ‘estetika’ yang menolak batas antara ‘mimpi’ dan ‘kenyataan’.
Benjamin, yang banyak dipengaruhi oleh Marx, melihat fantasmagorie sebagai bentuk “fetisisme komoditas.” Marx menulis dalam Das Kapital bahwa komoditas memiliki “karakter fantasmagoris” karena nilai tukarnya menutupi kerja manusia yang sesungguhnya. Paris abad ke-19, dengan pasar, arcade, dan iklan, menjadi ruang di mana komoditas tampil sebagai citra utopis, sementara realitas buruh dan eksploitasi tersembunyi di baliknya.
Dengan demikian, fantasmagorie bukan sekadar ilusi estetis, melainkan struktur ideologis yang mengatur cara manusia memandang dunia. Ia adalah mimpi kolektif kapitalisme, sebuah utopia yang rapuh namun memikat.

Breton, sebagai tokoh utama Surrealisme, menolak dikotomi antara mimpi dan kenyataan. Dalam Manifesto of Surrealism (1924), ia menulis bahwa Surrealisme adalah “penyatuan mimpi dan realitas dalam suatu realitas absolut, super-reality.” Nadja adalah perwujudan manifesto itu – kisah sehari-hari di Paris ditransformasikan menjadi pengalaman fantasmagoris, di mana Nadja hadir sebagai figur liminal – antara inspirasi, cinta, dan kegilaan.
Seperti fantasmagorie Benjamin, kisah Nadja menutupi realitas dengan lapisan utopis. Namun, Surrealisme tidak sekadar menyembunyikan – ia justru membuka celah untuk melihat realitas dari sudut pandang yang lain, lebih intim, lebih misterius. Nadja adalah fantasmagorie yang hidup, sebuah “komoditas emosional” yang menyingkap sekaligus menutupi kenyataan.
Paris adalah panggung cahaya dan bayangan. Di abad ke-19, nyala mimpi kolektif hadir disini. Walter Benjamin menyebutnya fantasmagorie – ilusi yang menawan, tirai yang menutupi kenyataan.
Ia menulis, “Fantasmagoria of the marketplace: here commodities assume a phantasmagoric character.” (Pasar Fantasmagoria: di sini komoditas mengambil karakter fantasmagoris.) Di balik gemerlap itu, buruh bekerja, kapitalisme berdenyut, dan kontradiksi sosial bersembunyi dalam gelap.
Beberapa waktu kemudian, André Breton berjalan bersama Nadja di jalan-jalan Paris. Sepuluh hari menjadi sepuluh bayangan, di mana percakapan, tatapan, dan langkah kaki berubah menjadi citra surealis.
Nadja adalah fantasmagorie yang hidup – inspirasi sekaligus kegilaan, utopia sekaligus keterasingan. Breton menulis dalam Nadja – “Who am I? If not the one who waits to be surprised by Nadja.” (Siapakah aku? Jika bukan orang yang menunggu untuk dikejutkan oleh Nadja). Ia hadir sebagai cahaya yang menuntun, namun juga sebagai bayangan yang mengingatkan akan rapuhnya mimpi.
Dalam Manifesto of Surrealism (1924), Breton menegaskan: “I believe in the future resolution of these two states, dream and reality, which are seemingly so contradictory, into a kind of absolute reality, a surreality.” (“Saya percaya pada penyelesaian di masa depan dari kedua keadaan ini, mimpi dan kenyataan, yang tampaknya sangat bertentangan, menjadi semacam realitas absolut, sebuah surealitas.”).
Kutipan ini memperkuat bahwa fantasmagorie bukan sekadar ilusi, melainkan jembatan antara mimpi dan kenyataan, sebuah realitas absolut yang lahir dari ketegangan keduanya.
Fantasmagorie menurut saya adalah puitika modernitas – bayangan yang menari di layar sejarah, cahaya yang bergetar di antara mimpi dan kenyataan. Paris menjadi teks kolektif, Nadja menjadi simbol pribadi, dan kita – para pembaca – diajak masuk ke ruang liminal di mana utopia dan realitas saling berkelindan.
Demikianlah akhirnya keterpesonaan saya pada kata Fantasmagorie terjawab sudah. Tentu, semua ini bisa terjawab karena bantuan yang sangat berharga dari produk pemikiran Irene Dyah Saraswati lewat skripsinya. Terima kasih Dyah, Salam Fantasmagorie. [T]


























