SAYA kerap mengamati orang tua Bali dengan cara yang sederhana. Cara mereka memperlakukan kata-kata di rumah. Ada yang terlalu hemat bicara. Ada pula yang seolah tak pernah selesai menasihati. Dari sanalah saya melihat bagaimana anak-anak Bali tumbuh. Dari tutur yang ditahan. Dari tutur yang diluapkan. Dari kata-kata yang diucapkan setengah sadar dan dari keheningan yang terlalu lama dipelihara.
Dalam kehidupan orang Bali, tutur bukan sekadar alat komunikasi. Kata-kata dipercaya membawa daya. Ia bisa menjadi doa. Ia juga bisa menjadi luka yang bekerja pelan. Karena itu orang Bali mengenal ukuran dalam berbicara. Jangan kuangan tutur. Jangan lebihan tutur. Jangan kurang. Jangan berlebih. Prinsip ini terdengar sederhana. Namun dalam praktik pengasuhan, ia justru paling sering dilanggar tanpa disadari.
Kuangan tutur kerap hadir dalam rumah yang tampak tertib dan baik-baik saja. Orang tua bekerja keras. Anak disekolahkan. Kebutuhan fisik terpenuhi. Rumah terlihat aman. Namun ruang bicara jarang dibuka. Kata-kata hangat dianggap tak perlu. Penjelasan dirasa membuang waktu. Anak belajar memahami orang tua dengan cara menebak. Bukan dengan bertanya. Bukan dengan berdialog.
Diam sering disalahartikan sebagai kewibawaan. Seolah orang tua yang sedikit bicara adalah orang tua yang berwibawa. Padahal diam juga bisa menjadi jarak yang perlahan menjauhkan. Anak tumbuh peka membaca suasana. Mereka belajar mengenali perubahan nada napas. Gerak tubuh. Ekspresi wajah. Tetapi kehilangan keberanian menyampaikan perasaan. Kesalahan kecil bisa memicu kemarahan yang selama ini ditahan. Keberhasilan jarang mendapat pengakuan. Dari situ anak belajar patuh. Bukan percaya diri.
Saya tumbuh dalam pola seperti ini. Kata bangga jarang diucapkan. Bukan karena orang tua tidak bangga. Kebanggaan dianggap cukup disimpan. Prestasi sering dibalas dengan peringatan agar tidak besar kepala. Agar tidak cepat puas. Kalimat yang dimaksudkan sebagai pengingat. Tetapi perlahan mengikis keyakinan diri. Saya belajar bekerja keras. Namun ragu merayakan capaian sendiri.
Pengalaman ini tidak unik. Banyak anak Bali tumbuh dengan pola serupa. Mereka tangguh. Mandiri. Tetapi canggung menyebut perasaan. Sulit meminta bantuan. Terbiasa memendam. Kuangan tutur membentuk generasi yang kuat di luar. Namun rapuh di dalam. Generasi yang jarang mengeluh. Tetapi juga jarang merasa cukup.
Di sisi lain, lebihan tutur hadir dengan wajah berbeda. Orang tua berbicara hampir tanpa jeda. Semua hal dikomentari. Semua langkah diarahkan. Dari cara duduk. Cara berbicara. Cara berpakaian. Cara berteman. Nasihat mengalir dari pagi hingga malam. Diam dianggap lalai. Bicara terus-menerus dianggap tanda perhatian. Anak dikelilingi kata-kata tanpa sempat bernapas.
Lebihan tutur sering lahir dari kecemasan. Dunia dianggap terlalu berbahaya. Anak harus dijaga dengan kata-kata. Orang tua merasa harus selalu hadir lewat nasihat. Takut anak salah jalan. Takut anak gagal. Takut anak tidak sesuai harapan. Niatnya baik. Tetapi kata-kata yang terlalu banyak kehilangan daya. Anak mendengar. Tetapi tidak menyimak. Mereka tahu kalimatnya. Namun tidak lagi merasakan maknanya.
Saya melihat bagaimana anak-anak belajar menyaring cerita. Tidak semua hal layak dibagi. Tidak semua pengalaman aman diceritakan. Rumah berubah menjadi ruang evaluasi. Setiap kisah bisa berujung ceramah. Setiap kesalahan menjadi daftar panjang koreksi. Diam menjadi pilihan paling aman. Bukan karena tidak percaya. Tetapi karena lelah.
Dalam kebudayaan Bali, kuangan tutur dan lebihan tutur sejatinya berada di titik yang sama. Keduanya menandai ketidakseimbangan. Tutur yang baik bukan soal jumlah. Ia soal ketepatan. Ia tahu kapan harus hadir. Ia tahu kapan harus berhenti. Ia tidak lahir dari emosi sesaat. Ia lahir dari kesadaran.
Prinsip ini sejalan dengan konsep desa, kala, patra. Tidak semua hal disampaikan dengan cara yang sama. Tidak semua situasi membutuhkan kata-kata. Anak kecil tidak diperlakukan seperti orang dewasa. Remaja tidak diperlakukan seperti anak kecil. Kesalahan tidak selalu ditegur dengan suara keras. Kebaikan tidak selalu harus dipuji berlebihan. Semua ada takarannya.
Namun keseimbangan ini semakin sulit dijaga hari ini. Tekanan hidup membuat banyak orang tua kelelahan. Pekerjaan menyita energi. Waktu habis di luar rumah. Media sosial menambah kebisingan. Semua orang bicara. Semua orang menasihati. Semua orang merasa punya rumus paling benar. Di rumah justru sering terjadi keheningan yang canggung.
Anak-anak Bali generasi sekarang hidup dalam paradoks. Di luar mereka dibanjiri kata-kata. Di layar mereka berkomunikasi tanpa henti. Di media sosial mereka belajar mengekspresikan diri. Namun di dalam rumah dialog justru minim. Mereka fasih berbicara di ruang digital. Namun gagap menyampaikan perasaan kepada orang tua.
Sebagai pengamat, saya melihat ini bukan semata kesalahan individu. Pola asuh diwariskan. Orang tua hari ini dibesarkan oleh orang tua yang juga belajar diam atau berbicara dengan caranya sendiri. Luka yang tidak dikenali diteruskan. Kadang dalam bentuk kata keras. Kadang dalam bentuk diam yang panjang. Semua berlangsung tanpa niat jahat.
Dalam tradisi Bali, tutur adalah laku hidup. Ia bagian dari upaya menjaga harmoni. Menjaga hubungan dengan sesama. Menjaga hubungan dengan diri sendiri. Menegur tidak harus merendahkan. Menasihati tidak harus menggurui. Memuji tidak harus membuat anak lupa diri. Semua mungkin dilakukan jika orang tua mau hadir sebagai manusia. Bukan sekadar figur otoritas.
Pengalaman pribadi mengajarkan saya satu hal. Satu kalimat yang jujur bisa bertahan seumur hidup. Kalimat sederhana yang diucapkan pada waktu yang tepat bisa menjadi pegangan. Sebaliknya satu kalimat yang diucapkan dalam emosi bisa menjadi luka yang menetap. Bahkan keheningan tertentu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan yang jujur.
Saya pernah merasa lebih terluka oleh tidak adanya kata. Bukan oleh kata yang keras. Karena dalam diam, anak dibiarkan menafsir sendiri. Dan tafsir anak sering kali lebih kejam daripada kenyataan. Kuangan tutur memberi ruang bagi asumsi. Lebihan tutur memberi ruang bagi ketakutan. Keduanya sama-sama melelahkan.
Parenting ala Bali tidak seharusnya terjebak pada romantisasi masa lalu. Tidak semua yang lama selalu benar. Tidak semua yang baru harus ditolak. Tradisi bukan benda mati. Ia hidup. Ia berubah. Kuangan tutur dan lebihan tutur perlu dibaca ulang. Sebagai cermin. Bukan sebagai dogma.
Anak-anak tidak hanya tumbuh dari apa yang kita katakan. Mereka tumbuh dari cara kita berbicara. Dari nada suara. Dari ekspresi wajah. Dari kesediaan mendengar tanpa menghakimi. Dari keberanian meminta maaf ketika salah. Dari ruang aman yang dibangun perlahan.
Saya percaya rumah yang sehat bukan rumah tanpa konflik. Juga bukan rumah yang penuh nasihat. Rumah yang sehat memberi ruang pada tutur yang hidup. Tutur yang mendekatkan. Tutur yang memberi rasa aman. Tutur yang tidak menguasai. Tutur yang tidak menghilang.
Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin tantangan terbesar pengasuhan hari ini adalah menata kata. Mengurangi yang berlebih. Menambah yang kurang. Belajar berhenti pada waktu yang tepat. Belajar berbicara tanpa melukai. Belajar diam tanpa meninggalkan.
Esai ini tidak menawarkan resep. Ia juga tidak menutup dengan kesimpulan yang rapi. Ia hanya mengajak kita berhenti sejenak. Mendengar kembali cara kita bertutur di rumah. Lalu bertanya dengan jujur. Apakah kata-kata kita selama ini menjadi jembatan. Atau justru tembok yang pelan-pelan menjauhkan. Dari pertanyaan itulah mungkin parenting ala Bali bisa terus hidup. Berubah. Bertumbuh. Tanpa kehilangan rohnya. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


























