6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Jaswanto by Jaswanto
January 10, 2026
in Esai
Menonton Persatu Tuban Hancur Lebur di Kandang Sendiri

Persatu (kuning) vs Pasuruan United (hijau) | Foto: Dok. Instagram Pasuruan United

GOL cepat Husyen setelah memanfaatkan umpan jauh yang gagal diantisipasi lini pertahanan Persatu Tuban, membuat saya berhenti berharap. Skor berubah menjadi 0-1 untuk Pasuruan United—tim gergasi kelas Liga 4 Jawa Timur. Sekadar informasi, di ajang liga semi amatir itu, Pasuruan United menjadi tim yang jarang kebobolan. Bayangkan, setelah menghancurkan Persatu dengan skor 3-0, klub bola yang dilatih oleh Bio Paulin itu—penonton Liga Super era 2010-an tentu sudah tidak asing dengan nama ini—dalam enam pertandingan mereka meraih enam kemenangan dengan 26 goal tanpa satu pun kebobolan. Edan.

Saya tahu Pasuruan United datang ke stadion bukan sekadar bermodal strategi menyerang, melainkan dengan kepastian lolos babak 16 besar. Mereka sudah mengamankan tiket sejak awal dan sebenarnya cukup bermain aman melawan Persatu Tuban—sebuah pernyataan bahwa motivasi kadang lebih penting daripada kemampuan teknis di lapangan. Jika sebuah pertandingan harus jadi ujian motivasi, sore itu Pasuruan United lulus dengan nilai cukup, sementara Persatu Tuban tampak gagal menjawab panggilan itu.

Oleh karena itu, Jumat, 9 Januari 2026 kemarin, rasanya ada jenis kesedihan yang tidak butuh hujan untuk terasa muram. Cukup duduk di tribun Tuban Sport Center atau menatap siaran PSSI Jatim di kanal YouTube, melihat papan skor yang memamerkan angka 0–3, dan kita tahu, ini bukan sekadar kekalahan, ini semacam upacara kecil untuk merayakan kegagalan yang sudah lama dipelihara bertahun-tahun.

Ya, sekali lagi, Persatu Tuban kalah dari Pasuruan United, dan orang-orang pulang dengan kekecewaan, meski lainnya dengan kemarahan. Tapi saya tidak terkejut. Di Kota Tuban, kita sudah terlalu lama belajar berdamai dengan kenyataan bahwa sepak bola lebih sering menjadi cerita tentang niat baik yang tersesat, daripada kisah tentang rencana yang benar-benar matang.

Pertandingan itu sendiri berjalan seperti lakon yang naskahnya bocor sejak menit pertama. Pasuruan United tampak tahu kapan harus menunggu, kapan harus memukul. Sedangkan Persatu Tuban sebaliknya, tampak seperti orang yang datang ke medan tempur sambil membawa daftar alasan kenapa mereka seharusnya tidak kalah. Bola lebih sering bergulir tanpa maksud, operan lebih sering seperti pengakuan ragu-ragu, dan setiap kali lawan menyerang, kita bisa menebak akhirnya: ada kepanikan kecil, ada bek yang terlambat setengah langkah, lalu ada gol yang terasa seperti keputusan takdir.

Persatu Tuban jelas bukan lawan tanding Pasuruan United yang memang punya momentum bagus di fase grup. Tapi lebih dari itu, skor 3–0 bukan hanya karena lawan lebih baik, melainkan karena Persatu terlalu pasif, terlalu mudah dibaca dan kurang agresif dari awal hingga akhir. Sebagai tuan rumah, Persatu mestinya punya keuntungan psikologis. Tapi keuntungan itu tak dipakai semaksimal mungkin.

Saya kira, tiga gol itu bukan sekadar tiga kesalahan teknis. Mereka seperti ringkasan musim, dipadatkan menjadi sembilan puluh menit yang kejam. Kita boleh menyebut soal kurangnya persiapan, mental yang rapuh, atau taktik yang mudah dibaca. Tapi semua itu hanya gejala. Penyakitnya lebih tua, lebih dalam, dan lebih malas untuk diobati: sepak bola di Tuban ini terlalu sering dijalankan dengan cinta, tapi jarang dengan pikiran yang dingin.

Di kota ini, stadion bisa berdiri megah, tapi visi sering kali berjalan pincang. Kita rajin bicara soal kebangkitan, tapi malas mengurus fondasi. Kita bangga menyebut diri tuan rumah, tapi lupa bahwa menjadi tuan rumah tidak otomatis membuat kita jadi tuan di lapangan. Menjadi tuan rumah tanpa kesiapan hanya berarti menyediakan panggung yang bagus untuk orang lain berpesta. Sungguh menggelikan.

Sore itu, Persatu Tuban bermain seperti tim yang takut kalah lebih besar daripada ingin menang sebesar-besarnya. Dan itu selalu menjadi tanda paling jujur dari sebuah klub yang tidak sepenuhnya percaya pada dirinya sendiri. Sepak bola, pada akhirnya, bukan hanya soal kaki dan paru-paru, tapi juga soal isi kepala. Dan kepala Persatu sore itu tampak penuh oleh pikiran-pikiran kecil, seperti jangan salah, jangan blunder, jangan dipermalukan. Tapi hasilnya justru sebaliknya, permainan menjadi kaku, keputusan menjadi terlambat, dan rasa takut menjadi strategi tak tertulis.

Yang lebih menyedihkan, kekalahan ini tidak datang sebagai kecelakaan. Ia datang sebagai kelanjutan yang logis. Menurut saya, melihat cara main Persatu yang amburadul—untuk tidak mengatakan busuk—gagal lolos ke babak 16 besar bukan tragedi, melainkan konsekuensi. Seperti seseorang yang jarang belajar lalu heran kenapa nilainya jelek. Kita boleh marah, boleh kecewa, tapi diam-diam kita tahu, ini hasil yang sudah lama diendapkan oleh cara kerja yang setengah-setengah.

Sepak bola di Tuban selama ini lebih mirip acara seremonial ketimbang proyek jangka panjang. Musim datang, tim dibentuk, harapan digantungkan, lalu ketika semua selesai, kita kembali ke titik nol, seolah tidak ada yang perlu dicatat selain skor terakhir. Pembinaan usia muda terdengar seperti slogan, bukan kerja sunyi yang sabar. Manajemen lebih sering terdengar saat pembukaan, tapi lebih jarang terlihat saat evaluasi.

Dan suporter? Mereka adalah orang-orang paling setia dalam hubungan yang paling tidak adil. Datang, berharap, kecewa, lalu datang lagi. Kesetiaan mereka seperti air sumur yang terus diambil, tapi jarang dipikirkan bagaimana menjaganya tetap ada.

Kekalahan 0–3 ini seperti tamparan sekaligus pernyataan bahwa sepak bola Tuban tidak kekurangan semangat, hanya kekurangan arah. Tidak kekurangan orang yang mau berteriak, tapi kekurangan orang yang mau duduk berlama-lama untuk merancang masa depan.

Masa depan itu, kalau mau jujur, sekarang sedang berdiri di persimpangan yang membosankan. Kita bisa memilih untuk mengulang pola lama: ganti pemain, ganti pelatih, ganti jargon, lalu berharap keajaiban turun dari langit kompetisi. Atau kita bisa mulai melakukan hal yang lebih tidak populer: membangun perlahan, dari bawah, dari hal-hal yang tidak kelihatan di spanduk dan tidak terdengar di pengeras suara.

Tapi membangun selalu butuh kesabaran, dan kesabaran adalah barang langka di tempat yang lebih suka hasil cepat.

Sore itu, orang-orang meninggalkan stadion dengan langkah pelan. Beberapa menghadap manajemen dengan kemaraha yang sangat—seperti unggahan di media sosial. Sepak bola, seperti hidup, kadang tidak memberi kita apa yang kita mau, tapi selalu memberi apa yang pantas kita dapatkan. Dan Persatu Tuban, dengan segala cinta yang mengelilinginya, tampaknya sedang mendapat pelajaran yang pahit bahwa stadion besar tidak pernah cukup untuk menutupi tim yang belum selesai dibangun.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: Jawa TimurLiga 4Pasuruan UnitedPersatu TubanSEPAK BOLA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Abdul Wachid B.S. | Ilham – Raras

Next Post

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Kopi Maut | Cerpen Heski Dewabrata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co