TAHUN 2026 baru berjalan beberapa hari ketika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mencatat peristiwa penting dalam sejarah akademiknya. Rabu, 7 Januari 2026, UPMI Bali secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Drs. I Wayan Suanda, S.P., M.Si., sebagai Guru Besar Tetap dalam bidang Ilmu Mikrobiologi Pertanian. Ia menjadi profesor kelima dari UPMI Bali.
Pengukuhan berlangsung dalam Rapat Senat Terbuka di Auditorium Redha Gunawan, UPMI Bali. Sedari pagi, ruangan itu sudah dipenuhi civitas akademika dan tamu undangan. Suasana terasa khidmat nan hangat. Rangkaian acara dibuka dengan Tari Mahadewa ─ tari kebesaran UPMI Bali ─ yang dibawakan lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni, Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik). Geraknya tegas dan ritmenya tertata, menjadi pembuka yang tepat bagi sebuah upacara akademik yang sarat makna.
Usai penayangan video profil Prof. Suanda, doa dipanjatkan dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, disusul penayangan teks Pancasila. Setelah itu, Ketua Senat UPMI Bali, Prof. Dr. I Wayan Widana, S.Pd., M.Pd., membuka upacara pengukuhan secara resmi. Pembacaan Surat Keputusan Guru Besar oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. Ida Ayu Agung Ekasriadi, S.Pd., M.Hum., membuat suasana auditorium sejenak hening. Di titik itulah perjalanan panjang seorang dosen dan peneliti mendapatkan pengakuan formal tertinggi di dunia akademik.

Puncak upacara terjadi ketika Rektor UPMI Bali, Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, SH., M.Hum., mengenakan kalung jabatan Guru Besar kepada Prof. Suanda. Prosesi tersebut turut didampingi Ketua LLDIKTI Wilayah VIII dan Ketua YPLP Perguruan Tinggi IKIP PGRI Bali. Tepuk tangan hadirin mengiringi momen itu. Bukan hanya sebagai ungkapan selamat, tetapi juga penghormatan atas tanggung jawab keilmuan yang kini dipikul.
Dalam orasi pengukuhannya, Prof. Suanda tidak memulai dengan istilah ilmiah yang rumit. Ia justru mengajak hadirin kembali pada praktik-praktik lokal yang selama ini hidup di masyarakat Bali. Orasi yang ia beri judul “Pemanfaatan ‘Lekesan’ sebagai Kearifan Lokal Bali dalam Pengendalian Jamur Patogen Stroberi (Fragaria sp.) Menuju Agrowisata Sehat dan Berkelanjutan” itu menjadi jembatan antara sains modern dan pengetahuan tradisional.
Prof. Suanda menjelaskan bahwa lekesan adalah kearifan lokal yang telah lama digunakan petani sebagai upaya menjaga kesehatan tanaman. “Lekesan merupakan kearifan lokal yang mengandung tiga unsur penting,” Unsur pertama adalah nilai religius dan etika sosial yang menempatkan alam sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Unsur kedua adalah norma dan aturan adat yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan. Sementara unsur ketiga adalah pengetahuan dan keterampilan lokal yang terbentuk dari pengalaman empirik masyarakat selama ratusan tahun mengelola sumber daya hayati.

Ia kemudian menguraikan lekesan tidak hanya sebagai simbol budaya, tetapi sebagai formulasi alami yang memiliki dasar ilmiah. Dalam penelitiannya, lekesan tersusun atas lima bahan utama. Sirih hijau mengandung senyawa fenol, flavonoid, saponin, dan minyak atsiri seperti eugenol yang mampu menghambat pertumbuhan jamur patogen seperti Colletotrichum sp., Geotrichum sp., dan Fusarium oxysporum. Sementara tembakau, mengandung flavonoid yang terbukti merusak dinding sel jamur dan menghambat perkembangannya.
Bahan berikutnya adalah kapur tohor yang berfungsi meningkatkan populasi mikroba tanah serta membantu ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Gambir, yang kaya akan senyawa polifenol, menunjukkan aktivitas zona hambat terhadap mikroorganisme patogen. Sementara daging biji pinang mengandung flavonoid, tanin, fenolik, alkaloid, dan asam galat yang turut memperkuat daya hambat terhadap jamur penyebab penyakit tanaman.
Dari serangkaian uji laboratorium dan pengamatan lapangan, Prof. Suanda menyimpulkan bahwa ekstrak lekesan memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan koloni patogen stroberi mulai dari konsentrasi 15 persen. “Daya hambat menjadi lebih besar pada konsentrasi ekstrak yang lebih tinggi,” jelasnya. Temuan ini, menurutnya, membuka peluang penggunaan lekesan sebagai biopestisida yang ramah lingkungan, sejalan dengan konsep agrowisata sehat dan berkelanjutan.

Namun, di hadapan senat dan tamu undangan, Prof. Suanda juga menegaskan keterbatasan penelitiannya. Ia menyebut riset tersebut masih perlu dikembangkan dengan memvariasikan perbandingan bahan lekesan. Untuk meningkatkan efektivitasnya, ekstrak lekesan perlu dimurnikan agar menghasilkan senyawa tunggal melalui metode kromatografi kolom yang dilanjutkan dengan analisis LCMS (Liquid Chromatography–Mass Spectrometry).
Dengan nada tenang, Prof. Suanda menutup orasinya dengan menekankan bahwa riset ini bukan sekadar upaya akademik, melainkan bentuk penghormatan terhadap pengetahuan lokal. Baginya, sains tidak berdiri untuk menggantikan kearifan tradisional, melainkan untuk memahaminya, mengujinya, dan menguatkannya agar tetap relevan di tengah tantangan pertanian modern.
Seusai sesi orasi, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Rektor UPMI Bali. Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum., menyebut Prof. Suanda sebagai teman seperjuangan dan sepenanggungan sejak masa sekolah menengah hingga kini.
“Ini merupakan kebahagiaan bersama bagi kami, karena seorang dosen kami meraih gelar guru besar,” ujarnya.
Prof. Suarta juga menyoroti sisi lain Prof. Suanda sebagai peneliti lapangan. “Beliau menyewa kebun di Pancasari dan masuk bukan sebagai profesor, tapi seperti petani. Back to nature, kembali ke alam. Di mana ada penyakit tanaman, di situ ada obatnya,” ucap Prof. Suarta.

Ketua Yayasan IKIP PGRI Bali, Drs. I Gusti Bagus Arthanegara, S.H., M.H., M.Pd., menegaskan bahwa pengukuhan ini memiliki arti penting bagi institusi. Prof. Suanda merupakan profesor ketiga lulusan IKIP PGRI Bali sebelum bertransformasi menjadi UPMI Bali.
“Saat ini UPMI Bali resmi memiliki lima profesor, dan sebentar lagi bakal menyusul lagi beberapa calon guru besar,” ujarnya.
Ia menggambarkan Prof. Suanda sebagai pribadi yang low profile, tekun, dan konsisten, meskipun tidak memegang jabatan struktural. “Terbukti hari ini beliau meraih gelar akademik tertinggi,” katanya.
Perjalanan akademik Prof. Dr. Drs. I Wayan Suanda, S.P., M.Si., menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan akan tumbuh dari ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk tetap membumi. Di situlah gelar guru besar menemukan maknanya yang paling sederhana, sekaligus paling penting. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























