6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
January 6, 2026
in Esai
Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

Potret Braille Wiguna Mahayasa | Foto: Dok. Pribadi

SEJAK ditemukan hampir dua abad yang lalu, huruf Braille telah menjadi jembatan bagi jutaan tunanetra di seluruh dunia untuk mengakses informasi, pendidikan, dan berkomunikasi dengan dunia luar. Sistem tulisan taktil ini bukan sekadar rangkaian titik-titik timbul di atas kertas, melainkan sebuah revolusi yang membuka pintu pengetahuan bagi mereka yang tidak bisa melihat.

Namun, ada satu kelompok yang jarang disorot dalam perbincangan tentang Braille, padahal bagi mereka, Braille bukan hanya alat bantu, melainkan benar-benar seperti “nyawa” yang menghubungkan mereka dengan dunia, yakni penyandang disabilitas tunanetra tuli.

Sejarah Singkat Braille: Dari Medan Perang hingga Kelas

Huruf Braille ditemukan oleh Louis Braille, seorang pemuda tunanetra asal Prancis, pada tahun 1824 ketika ia baru berusia 15 tahun. Louis Braille kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan di bengkel ayahnya saat ia masih kecil.

Terinspirasi dari sistem “night writing” yang dikembangkan oleh Kapten Charles Barbier untuk militer agar bisa membaca pesan dalam gelap tanpa cahaya, Louis Braille kemudian menyederhanakan sistem tersebut. Sistem Barbier menggunakan 12 titik, yang kemudian dipotong menjadi setengahnya oleh Louis Braille menjadi 6 titik yang bisa dibaca dengan ujung jari. Sistem ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1829 (Britannica, 2024).

Yang menarik, meskipun sistem Braille sudah dikembangkan pada 1824 dan dipublikasikan pada 1829, baru pada tahun 1854, dua tahun setelah Louis Braille meninggal dunia pada 6 Januari 1852, Sistem ini mulai diadopsi secara resmi di Institution Nationale des Jeunes Aveugles di Paris, Prancis (Library of Congress).

Kini, Braille telah diadaptasi ke dalam lebih dari 133 bahasa di seluruh dunia dan menjadi standar internasional untuk literasi tunanetra (Perkins School for the Blind, 2024). Setiap tanggal 4 Januari, bertepatan dengan hari lahir Louis Braille, dunia memperingati Hari Braille Sedunia sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi luar biasa ini.

Braille Bukan Hanya untuk Tunanetra

Yang sering luput dari perhatian publik adalah fakta bahwa Braille tidak hanya digunakan oleh tunanetra saja. Penyandang disabilitas tunanetra tuli, atau yang sering disebut deafblind, juga sangat bergantung pada Braille. Bagi mereka yang kehilangan dua indera sekaligus, penglihatan dan pendengaran, pilihan untuk mengakses informasi menjadi sangat terbatas.

Di era digital saat ini, memang banyak tunanetra yang beralih menggunakan teknologi seperti aplikasi pembaca layar yang mengubah teks menjadi suara. Namun, bagi tunanetra tuli, teknologi suara seperti screen reader ini tidak bisa digunakan. Braille menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan mereka dengan dunia informasi, komunikasi, pendidikan, dan pekerjaan. Tanpa Braille, mereka akan terisolasi sepenuhnya dari dunia.

Salah satu tantangan terbesar bagi komunitas tunanetra tuli di Indonesia adalah belum adanya standardisasi bahasa isyarat sentuh atau tactile sign language. Berbeda dengan bahasa isyarat untuk tuli yang sudah memiliki standar nasional, yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), bahasa isyarat sentuh untuk tunanetra tuli masih belum memiliki standardisasi yang jelas di Indonesia.

Padahal, di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, tactile sign language sudah menjadi bagian dari sistem komunikasi yang diakui dan diajarkan secara formal. Di Amerika Serikat, misalnya, Tactile American Sign Language (TASL) telah dikembangkan dan diajarkan di berbagai lembaga pendidikan khusus untuk tunanetra tuli. Di Indonesia, kondisinya sangat berbeda. Belum ada lembaga atau institusi yang secara khusus mengembangkan dan melatih bahasa isyarat sentuh dengan standar yang jelas.

Bahkan saya sendiri, sebagai penulis yang merupakan penyandang disabilitas tunanetra tuli, tidak menguasai bahasa isyarat sentuh secara formal karena memang belum ada tempat atau lembaga yang secara khusus mengajarkannya dengan standar yang jelas di Indonesia.

Kesenjangan ini semakin terasa ketika kita membandingkannya dengan perjuangan komunitas tuli di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, advokasi untuk pengakuan bahasa isyarat semakin gencar.

Pada tahun 2016, Indonesia meratifikasi Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, yang di dalamnya mengakui hak penyandang disabilitas untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Pasal 42 UU ini menyebutkan bahwa negara mengembangkan bahasa isyarat Indonesia sebagai bagian dari hak penyandang disabilitas untuk berkomunikasi. Kemudian, pada tahun 2018, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2018 tentang Bahasa Isyarat yang mengatur BISINDO dan SIBI sebagai bahasa resmi. Namun, pengakuan dan dukungan untuk tunanetra tuli masih jauh tertinggal.

Braille sebagai Alat Komunikasi Utama Tunanetra Tuli

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika seorang tunanetra tuli ingin berkomunikasi dengan orang lain, Braille menjadi salah satu alat utama. Misalnya, ketika seseorang ingin menyampaikan pesan kepada saya, mereka bisa menuliskannya dalam Braille di telapak tangan saya, atau menggunakan mesin ketik Braille portabel. Ini adalah cara yang paling efektif dan langsung.

Sementara tunanetra tanpa gangguan pendengaran bisa mengakses dunia digital melalui screen reader yang membacakan teks dengan suara, tunanetra tuli mengaksesnya menggunakan perangkat yang disebut Braille Display atau Refreshable BrailleDdisplay. Alat ini adalah perangkat elektronik yang terhubung dengan komputer, smartphone, atau tablet, dan menampilkan teks dalam bentuk Braille secara dinamis. Titik-titik Braille pada perangkat ini naik dan turun secara otomatis sesuai dengan teks yang ditampilkan di layar.

Dengan Braille Display, seorang tunanetra tuli bisa membaca email, browsing internet, membaca dokumen, bahkan menulis artikel seperti ini. Namun, ada satu masalah besar, yakni, harganya.

Kesenjangan Ekonomi: Braille Display yang Tak Terjangkau

Braille Display adalah perangkat yang sangat mahal. Harga untuk satu unit Braille Display bervariasi tergantung pada jumlah sel Braille yang tersedia. Berdasarkan data tahun 2024-2025, harga Braille Display di pasar internasional adalah sebagai berikut:

Tingkat budget seperti Orbit Reader 20 dengan 20 sel sekitar USD 449-500 (sekitar 7-8 juta rupiah). Tingkat menengah seperti Brailliant BI 20X dengan 20 sel sekitar USD 1,899-2,199 (sekitar 30-35 juta rupiah). Sementara untuk Braille Display dengan 40 sel bisa mencapai harga USD 2,500-4,000 (sekitar 40-64 juta rupiah), dan yang memiliki 80 sel atau lebih bisa mencapai lebih dari USD 6,000-15,000 (sekitar 96-240 juta rupiah).

Harga yang sangat tinggi ini disebabkan oleh teknologi yang digunakan masih kompleks dan produksinya terbatas. Hal ini membuat Braille Display menjadi barang mewah yang tidak terjangkau oleh sebagian besar tunanetra tuli, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Selain harganya yang mahal, perangkat ini juga sangat sulit didapat di Indonesia. Hampir semua Braille Display harus diimpor dari luar negeri, dan tidak ada distributor resmi yang menyediakan layanan purna jual atau pelatihan penggunaan. Bahkan saya sendiri, sebagai penulis yang merupakan tunanetra tuli, tidak memiliki Braille Display.

Saya masih memiliki sedikit sisa pendengaran, sehingga bisa mendengarkan screen reader menggunakan headphone dengan volume maksimal. Namun, saya sadar bahwa suatu hari nanti, ketika pendengaran saya menurun lebih jauh, akses saya terhadap informasi akan sangat terbatas tanpa Braille Display.

Pentingnya Braille bagi Kehidupan Tunanetra Tuli

Braille bukan sekadar alat bantu baca tulis. Bagi tunanetra tuli, Braille adalah akses ke pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Tanpa Braille, seorang tunanetra tuli tidak bisa belajar secara mandiri, tidak bisa bekerja di bidang yang membutuhkan akses informasi, dan akan sangat terisolasi dari masyarakat.

Sebagai contoh, dalam dunia pendidikan, seorang siswa tunanetra tuli membutuhkan buku teks dalam Braille, catatan kuliah dalam Braille, dan akses ke materi digital melalui Braille Display. Tanpa ini, mereka tidak akan bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Di dunia kerja, akses ke komputer dan internet melalui Braille Display memungkinkan tunanetra tuli untuk bekerja sebagai programmer, penulis, analis data, atau profesi lain yang membutuhkan literasi digital.

Menurut Sense International (2024), diperkirakan ada sekitar 0,2 persen dari populasi dunia yang mengalami deafblindness berat (sekitar 16 juta orang), dan sekitar 2 persen yang mengalami deafblindness ringan hingga sedang (sekitar 160 juta orang). Secara keseluruhan, sekitar 176 juta orang di seluruh dunia mengalami kombinasi gangguan penglihatan dan pendengaran dalam berbagai tingkatan. Di Indonesia, data resmi tentang jumlah penyandang disabilitas tunanetra tuli masih sangat minim, yang menunjukkan betapa tidak terlihatnya kelompok ini dalam kebijakan publik.

Literasi Braille secara signifikan meningkatkan tingkat kemandirian dan kualitas hidup penyandang tunanetra tuli. Mereka yang menguasai Braille memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan pekerjaan yang layak.

Harapan untuk Masa Depan Braille dan Tunanetra Tuli

Hari Braille Sedunia bukan hanya momen untuk merayakan penemuan luar biasa ini, tetapi juga untuk mengingatkan kita semua tentang pentingnya aksesibilitas bagi semua orang, termasuk tunanetra tuli. Braille harus terus menjadi tulang punggung literasi bagi tunanetra dan tunanetra tuli di seluruh dunia. Meskipun teknologi digital terus berkembang, Braille tidak boleh ditinggalkan.

Saya berharap, ke depannya, akan ada lebih banyak upaya untuk membuat Braille Display lebih terjangkau dan mudah didapat di Indonesia. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi disabilitas perlu bekerja sama untuk menyediakan akses yang lebih baik bagi tunanetra tuli. Subsidi atau program bantuan untuk pembelian Braille Display bisa menjadi salah satu solusi. Beberapa negara telah menerapkan program subsidi untuk Braille Display bagi penyandang disabilitas tunanetra tuli.

Selain itu, standardisasi bahasa isyarat sentuh juga harus menjadi prioritas. Pemerintah Indonesia perlu segera membentuk lembaga atau tim khusus yang mengembangkan dan melatih bahasa isyarat sentuh dengan standar nasional. Tunanetra tuli tidak boleh terus menerus terisolasi karena belum adanya sistem komunikasi yang jelas dan diakui secara nasional.

Sebagai penyandang disabilitas tunanetra tuli, saya dan teman-teman lainnya ingin terus melestarikan dan memperkenalkan Braille kepada masyarakat luas. Braille bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga masa depan kami. Kami ingin dunia tahu bahwa kami ada, bahwa kami memiliki hak yang sama untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi kepada masyarakat.

Saya membayangkan, jika suatu hari nanti pendengaran saya benar-benar hilang, tanpa Braille Display, saya akan kehilangan akses ke dunia digital yang selama ini menjadi jendela saya ke dunia. Tanpa Braille Display, saya tidak akan bisa menulis artikel seperti ini, tidak bisa bekerja, dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara efektif.

Oleh karena itu, di Hari Braille Sedunia ini, saya ingin mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap keberadaan kami, tunanetra tuli. Kami butuh dukungan, kami butuh aksesibilitas, dan kami butuh pengakuan bahwa Braille adalah nyawa kami. Tanpa Braille, kami tidak bisa hidup dengan bermartabat di dunia yang semakin digital ini.

Mari kita jaga Braille, mari kita dukung tunanetra tuli, dan mari kita ciptakan dunia yang lebih inklusif untuk semua.

Selamat Hari Braille Sedunia, 4 Januari 2026.[T]

Referensi:

Britannica. (2024). Braille: History, Inventor, Description, & Facts.

Library of Congress. National Library Service for the Blind and Print Disabled. Louis Braille (1809-1852).

Perkins School for the Blind. (2024). World Braille Usage.

Sense International. (2024). Understanding Deafblindness: Global Prevalence Statistics.

Time and Date. World Braille Day.

United Nations. World Braille Day – 4 January.

Penulis: I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
Editor: Jaswanto

Tags: BrailledisabilitasHari Braille SeduniaLouis Brailletunanetra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam: I Nyoman Mongol, Jejak Sunyi Seniman Arja dari Ole, Marga, Tabanan

Next Post

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, S.Pd., M.M, biasa dipanggil Wiguna. Ia adalah pengusaha tunanetra tuli (deafblind) asal Denpasar, Bali. Selain sebagai pengusaha, ia juga aktif memperjuangkan isu-isu tentang wirausaha disabilitas dan isu terkait tunanetra tuli di Indonesia.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co