—Sebuah catatan reflektif tentang pameran yang meleburkan batas-batas kelokalan
MENJELANG satu purnama, sejak kami—para peraba mimpi—dipertemukan oleh sebuah perhelatan kebudayaan yang tak disangka menjadi awal dari titik peleburan gagasan, mimpi, cerita, dan pengalaman. Masing-masing dari kami hadir dengan dahaga akan hal-hal baru yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.
Ya, sebuah program bertajuk Residensi MTN Lab yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan ini akhirnya mencapai edisi terakhirnya pada tahun 2025. Setelah sebelumnya dilaksanakan di sejumlah tempat—Jakarta, Yogyakarta, Gresik, dan Gorontalo—kini program ini menutup rangkaian perjalanannya dengan menyasar Denpasar sebagai pelabuhan terakhir yang merangkai berbagai aktivasi yang telah berlangsung sebelumnya.
Melalui Pratihara Art Institute, Kementerian Kebudayaan memberikan ruang kepada Gurat Institute untuk menjadi fasilitator utama dalam gelaran residensi yang dihelat di Kota Denpasar, Ibu Kota Provinsi Bali.
Program residensi ini dilaksanakan sejak awal Desember, tepatnya pada 8 Desember 2025, membuka ihwal silaturahmi antarindividu yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Melalui kanal media sosialnya, Gurat menyebarkan flyer panggilan terbuka dan kemudian membidik 40 peserta, yang terdiri atas 30 seniman dan 10 kurator. Mereka datang dari seluruh penjuru Nusantara, dari ujung Barat hingga jauh menyisir ke ujung Timur.
Perjumpaan Awal
Sangat terbayang betapa canggungnya kami yang saling tak mengenal sebelumnya, tiba-tiba dalam satu waktu yang singkat dihimpun dalam satu areal inkubasi. Saya sendiri tentu masih samar-samar menerka asal dan latar budaya yang melekat pada banyaknya orang yang berkumpul pada malam itu. Satu per satu akhirnya mulai menampakkan diri, menyapa, lalu memperkenalkan nama dan dari mana mereka berasal. Barulah sebagian dari kami mulai berkenalan dan saling mengakrabkan satu sama lain, berharap dua minggu ke depan akan terjalin hubungan yang saling menumbuhkan.
Singkat cerita, akhirnya kami sampai pada materi inkubasi yang dilaksanakan layaknya ruang kelas yang penuh dengan diskusi, serta penyampaian materi dari para ekspertis seperti seniman, kurator, bahkan galerist.

Mengapa seperti ruang kelas? Karena ternyata memang ruang yang menginkubasi kami adalah salah satu sekolah seni rupa ternama yang ada di Bali, yaitu SMSR yang kini telah berganti nama menjadi SMKN 1 Sukawati, tempat lahirnya ribuan perupa yang berasal dari Bali. SMSR—begitu kami menyebutnya—adalah kolega yang diajak oleh Gurat untuk menjadi ruang laboratorium bagi para peserta residensi ini.
Setting tempat yang mendukung seakan menghadirkan romansa tentang hiruk pikuk di sekolah dahulu, karena memang sebagian dari kami adalah lulusan dan mahasiswa yang telah lama lepas dari bangku sekolah.
Selain mengenyam banyaknya materi di dalam ruang kelas, kami juga diajak untuk mengitari beberapa lokus seni rupa yang terdapat di Bali, seperti Tonyraka Gallery, Kerthagosa, Batubelah Artspace, dan Erzzi Studio milik perupa lawas Nyoman Erawan.
Satu minggu ini diisi dengan berbagai materi yang sungguh padat, sampai-sampai seorang dari kami membuat lelucon yang menggambarkan betapa seriusnya materi dalam program inkubasi ini, “Wah, pagi-pagi sudah dekolonial aja!!” Sebuah ungkapan yang menyiratkan keterkejutan kami pada awal-awal pembelajaran, ketika harus menyantap berbagai materi “berdaging” yang diberikan oleh berbagai narasumber profesional, seperti Prof. Karja, Aminudin Th. Siregar, FX Harsono, Fredy Chandra, dan para pemateri unggul lainnya.
Masa Produksi Karya
Setelah sepekan kami berjibaku dengan puluhan materi dan kunjungan lapangan, sampailah pada awal masa produksi, ruang di mana kami mulai semakin dekat dan mengenal lebih jauh antara satu sama lain. Bercerita dan menawar ide yang saling bertukar bebas seperti transmisi internet, kami saling mengunggah dan mengunduh data, pengalaman, serta selera visual yang kami punya masing-masing.
Ada satu momen unik sebelum awal masa produksi, yaitu ketika kami pulang dari kunjungan ke daerah Klungkung menuju Denpasar. Begitu kami masuk dan bus mulai berjalan meninggalkan area parkir, di situlah saya tersadar betapa berisiknya bercak obrolan yang saling menyaut—bukan kebisingan yang melelahkan, melainkan hiruk-pikuk yang hidup dan penuh gairah.
Perjalanan yang seharusnya terasa sangat lama justru menjadi begitu singkat karena percakapan yang terlintas begitu cepat, seolah waktu dipercepat oleh pertukaran pikiran yang tak henti. Saya sampai membayangkan bagaimana bus yang sedang melaju ini tak ubahnya sebuah lumbung pengetahuan bergerak, di dalamnya, ide, gagasan, dan kemungkinan-kemungkinan artistik saling ditransmisikan secara organik.
Sebagian dari kami mulai membicarakan rancangan awal karya yang kelak akan diwujudkan, sementara yang lain masih larut dalam pertukaran cara pandang mengenai pengalaman di daerah masing-masing—tentang tradisi, konteks sosial, hingga praktik artistik yang mereka hidupi sehari-hari, membuat perjalanan tiba-tiba terasa terhenti—atau memang harus dihentikan—karena kami telah sampai pada tujuan.
Namun, perihal ide dan bagaimana karya akan diwujudkan baru menemukan bentuknya pada masa produksi baru akan dimulai. Melalui diskusi yang intens dan alot antara seniman dan kurator, akhirnya masing-masing seniman menemukan ide seperti apa yang akan mereka ejawantahkan ke dalam karya rupa.

Para kurator lalu dengan sigap membaca berbagai kecenderungan yang hadir pada setiap seniman dan mulai mengelompokkannya ke dalam empat subtema, yang hadir sebagai alur pembacaan pameran nantinya.
Sebelum semua itu berlangsung, Gurat sebagai fasilitator telah menawarkan satu payung wacana yang akan menjadi pemantik karya dari teman-teman, yaitu Reinvented Tradition—sebuah wacana yang mulai bergulir beberapa waktu ke belakang—sebagai upaya Gurat dalam meninjau ulang praktik tradisi sebagai akar pengetahuan dan menerjemahkannya ke dalam konteks hari ini.
Dalam kerangka ini, tradisi diposisikan bukan sebagai entitas yang harus dirayakan secara nostalgik atau dirawat dalam romantisasi, melainkan sebagai titik berangkat yang kritis: sebuah pisau bedah untuk melihat tradisi sebagai sesuatu yang dinamis, tidak stagnan, dan senantiasa terbuka untuk digali, dielaborasi, bahkan dinegasikan. Tradisi, dengan demikian, ditempatkan sebagai lokus pengetahuan yang sah untuk dipertanyakan kembali, dinegosiasikan ulang, dan dihadapkan pada realitas hari ini.
Sebagai upaya untuk masuk dan bernegosiasi dengan payung tematik yang telah ditawarkan, para kurator kemudian sepakat untuk membaca tradisi sebagai titik pemberangkatan wacana yang akan digulirkan. Tradisi tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai medan awal untuk menelisik berbagai persoalan yang lebih luas dan kompleks.

Dari pembacaan tersebut, dirumuskan empat subtema utama—tradisi, ekologi, identitas, dan kritik—yang kemudian diikat dalam satu tajuk pameran berjudul Pulang ke Palung. Judul ini menjadi pilihan mutlak setelah melalui berbagai intrik diskusi dan negosiasi yang cukup alot di antara para kurator.
Sebuah frasa yang mengajak kita untuk melihat dan mempertanyakan kembali Palung kita, yaitu tempat paling dalam yang menjadi dasar dari sebuah laut, menyiratkan tentang tradisi sebagai akar dan dasar untuk dilihat, dibaca kembali, serta dimaknai ulang dalam praktik hari ini.
Bukan soal romantika, melainkan kebutuhan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Sejauh mana modernitas yang kita hidupi hari ini justru menjauhkan kita dari pemahaman atas diri kita sendiri? Dalam konteks ini, menengok tradisi menjadi sebuah upaya untuk melambat, mengambil jarak dari laju zaman, dan memberi ruang bagi konteks kelokalan masing-masing untuk berbicara.
Tradisi kemudian diposisikan sebagai kemungkinan jawaban—atau setidaknya sebagai alat baca—terhadap berbagai persoalan kontemporer yang mendesak, mulai dari krisis ekologi, perbincangan tentang identitas, hingga kritik atas kondisi sosial dan kebijakan yang membentuk kehidupan kita hari ini.
Estetika yang Meraba-raba
Seperti tajuk tulisan ini, terma meraba-raba adalah cara saya dalam melihat berbagai ketimpangan, di mana apa yang terlihat matang ternyata melewati proses panjang yang saling menguatkan di dalamnya. Seperti telah dikatakan, meraba-raba merupakan kata yang saya gunakan untuk menggambarkan bagaimana para stakeholder—baik itu seniman, kurator, fasilitator, maupun para pendukung pra-pameran—dalam program residensi ini saling menerka dan meraba satu sama lain.
Masalah utama residensi ini adalah keterbatasan waktu yang terasa tidak masuk akal. Dengan materi yang dipadatkan menjadi satu minggu, lalu dihantam dengan produksi karya yang dibatasi tenggat waktu produksi dan tata ruang pamer, semuanya menjadi satu akumulasi dari berbagai tantangan yang ada.
Saya percaya bahwa kesempurnaan presentasi dari residensi ini adalah segala sesuatu yang telah diupayakan oleh masing-masing individu, tak terlepas dari bagaimana disiplin kerja mereka.

Namun dengan waktu yang cukup singkat ini, ego dan pikiran serasa dipermainkan, mengelola 1 ruang yang dahulu kerap digunakan sebagai ruang konser, kini harus dapat disterilkan demi menunjang ruang presentasi dari 30 seniman dan karya-karyanya.
Ada yang bilang ini seperti proyek “membabat alas”, saya akui analogi tersebut menggambarkan bagaimana kami dihadapkan dengan berbagai masalah yang datang seperti deru genderang perang. Dengan waktu kurang lebih empat hari sebelum pameran dibuka, segenap tenaga dan daya pikir menjadi amunisi untuk menghadapi tekanan yang datang bertubi-tubi.
Di sini, kami sebagai pemeran utama dalam residensi ini banyak belajar tentang bagaimana menemukan solusi yang konstruktif di tengah ego yang saling tarik-menarik. Rasa kesal, marah, lelah, gembira, dan tawa seakan melebur dalam satu bejana panas. Bernegosiasi dan bersikap tidak kaku menjadi cara kami untuk tetap merasa waras. Karena itu, wadah diskusi yang cair menjadi pendekatan paling relevan untuk menengahi perbedaan perspektif dari setiap kepala, hingga akhirnya mencapai solusi yang saling menumbuhkan.

Misi kami pun tidak lagi semata menciptakan karya seni, melainkan bagaimana kami—dengan latar belakang yang begitu beragam—dapat menyatukan visi dalam merancang satu pameran yang layak dipertaruhkan sebagai sebuah peristiwa seni yang patut diperhitungkan. Proses ini tentu tidak terlepas dari peran Penawar Racun sebagai kolega produksi yang membantu proses display, plotting karya, serta berbagai pernik pameran lainnya. Kami juga didampingi oleh Made Susanta sebagai perwakilan fasilitator, yang sangat membantu terwujudnya presentasi akhir dari hasil residensi ini.
Kembali lagi ke judul “estetika yang meraba-raba” hal ini juga menggambarkan bagaimana karya-karya yang ada dalam pameran Pulang Ke Palung ini adalah karya-karya yang sangat layak dipertaruhkan secara gagasan namun lemah dalam eksekusi presentasi, hal itu disebabkan berbagai keterbatasan yang dialami seniman dalam memroduksi karyanya dalam waktu yang singkat. Sehingga terma laboratorium dalam program ini menjadi alibi yang jelas untuk digunakan dalam melihat karya teman-teman seniman yang telah hadir.Di sinilah istilah estetika yang meraba-raba tidak lagi berhenti sebagai deskripsi pengalaman personal, melainkan mulai menyingkap persoalan yang lebih struktural. Di titik ini, keterbatasan waktu tidak lagi bisa dibaca semata sebagai kendala teknis, melainkan sebagai konsekuensi dari sistem produksi pengetahuan yang menuntut hasil instan dari proses yang sejatinya membutuhkan durasi.

Program residensi ini—meski membuka ruang pertemuan yang berharga—secara tidak langsung memperlihatkan paradoks praktik seni hari ini: ketika negara dan institusi ingin merangkum keberagaman, kedalaman, dan kompleksitas praktik artistik lintas konteks, namun masih membingkainya dalam skema waktu yang seragam dan serba singkat.
Akibatnya, seniman dipaksa bekerja dalam kondisi meraba-raba—bukan sebagai pilihan metodologis semata, tetapi sebagai respons terhadap struktur yang belum sepenuhnya berpihak pada proses.
Saya percaya, perbedaan latar belakang para seniman dan kurator—yang datang dari spektrum disiplin yang beragam—justru memperkaya daya visual dan wacana yang ditawarkan. Ada yang bergerak di wilayah etnomusikologi, antropologi, arsitektur, hingga kerja-kerja berbasis modal kelokalan yang telah lama melekat dalam praktik masing-masing seniman. Keragaman inilah yang menjadi kekuatan tersendiri dan membedakan Pulang Ke Palung dari pameran-pameran lain di Bali, khususnya yang kerap hadir dengan estetika yang lebih mapan dan homogen.

Yak, karya teman-teman dalam pameran ini bagi saya dapat terbaca sebagai karya dengan estetika yang meraba-raba, sebuah estetika yang belum sepenuhnya menemukan bentuk finalnya, namun sedang mencari dan mengenali tubuhnya sendiri, terutama dalam proses produksi yang berlangsung dalam rentang waktu yang singkat dan kondisi yang serba eksperimental.
Sebab, seperti halnya meraba sebuah benda dalam gelap, bentuk utuhnya baru akan terbaca ketika rabaan itu berlangsung terus-menerus, menyentuh keseluruhan permukaan. Sisi potensial dari karya-karya para seniman ini sangat mungkin untuk terus digali disempurnakan, dan dikembangkan dalam presentasi-presentasi berikutnya, seiring dengan berjalannya waktu dan jarak.
Resolusi di Akhir Tahun
Terlepas dari segala tumpang tindih yang tak terelakkan dalam pelaksanaan program residensi ini, upaya untuk meleburkan batas-batas kelokalan ke dalam satu bejana pengetahuan tetap menjadi sebuah tawaran yang terlalu berharga untuk dilewatkan. Di dalamnya, perbedaan bukan sekadar hadir sebagai latar, melainkan bekerja aktif sebagai penggerak: selera visual yang beragam, ide dan gagasan yang saling menimpali, serta hasrat kolektif untuk saling menumbuhkan satu sama lain menjadi denyut yang terus terasa sepanjang perhelatan ini berlangsung.
Layaknya harapan di penghujung tahun, kita selalu menyimpan resolusi untuk hari-hari yang akan datang—sebuah keyakinan akan kemungkinan. Saya tak henti-hentinya percaya bahwa kehadiran setiap individu yang datang dan melebur dalam residensi ini merupakan titik mula dari sesuatu yang lebih besar, setidaknya bagi perjalanan personal dan praktik kreatif mereka masing-masing.

Tentu, saya menyimpan harapan agar program residensi maupun inisiatif-inisiatif serupa dapat terus berlanjut dengan kesadaran evaluatif yang berkelanjutan, sehingga setiap penyelenggaraan berikutnya tumbuh semakin matang. Dari proses itulah, saya membayangkan akan lahir lokus-lokus pengetahuan baru di berbagai ceruk ekosistem yang tersebar di Nusantara; tidak lagi terpusat pada pulau-pulau utama yang kerap mendapat porsi lebih, melainkan juga menjangkau titik-titik kecil di pinggiran.
Dengan demikian, pembacaan atas seni rupa Indonesia dapat bergerak secara paralel—saling menyilang, saling memantulkan, dan membentuk jejaring makna antara satu pusat dengan pusat lainnya.
Terima kasih, semoga Kawan-kawan yang dipisahkan akan bertemu kembali dalam lumbung pengetahuan yang baru!!!
Panjang umur seni rupa![T]
Penulis: Made Chandra
Editor: Jaswanto



























