BERTEPATAN dengan Peringatan Hari Ibu Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Nyoman Wirayuni, SH., MM., menerima penghargaan Gender Champion dari Pemerintah Kota Denpasar. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusinya dalam mendorong pengarusutamaan gender melalui aksi nyata di bidang lingkungan.
Penghargaan ini menjadi penanda atas perjalanan panjang Wirayuni, warga Desa Pemogan, Denpasar Selatan, yang selama lima tahun terakhir konsisten bergerak dalam isu pengelolaan sampah. Sebagai seorang pengusaha, ia memilih mengambil peran di tengah persoalan lingkungan yang kian kompleks, terutama ancaman sampah di kawasan perkotaan.
Kesadaran itu berangkat dari refleksi sederhana. Ia menyadari keterbatasan dirinya sebagai perempuan untuk terjun langsung melakukan kerja fisik di lapangan. Namun dari keterbatasan tersebut justru lahir inisiatif yang berdampak luas.
“Sebagai perempuan mungkin tidak bisa terjun langsung, seperti mengambil sampah di sungai. Dari situ kemudian saya berinisiatif membuat wadah dengan nama Bali Waste Management Training,” ujarnya.

Dari gagasan tersebut, Bali Waste Management Training Center berdiri di Jalan Taman Pancing Nomor 292, Pemogan, Denpasar. Tempat ini menjadi ruang edukasi pengelolaan sampah yang menyasar ibu ibu rumah tangga dan anak anak. Fokus utamanya adalah membangun kesadaran memilah sampah sejak dini, dimulai dari lingkungan keluarga.
Program edukasi yang dijalankan Bali Waste Management Training Center mendapat dukungan dari berbagai pihak, antara lain Desa Pemogan, Rotary District 3420, serta sponsor internasional dari Jepang dan Korea. Kegiatan ini bukan gerakan sesaat, melainkan upaya yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan selama lima tahun terakhir.
Dalam perjalanannya, Wirayuni juga menjalin kerja sama dengan PKK dan kelompok pecinta sungai. Kolaborasi tersebut bertujuan memperluas jangkauan edukasi, tidak hanya tentang pemilahan sampah, tetapi juga pemanfaatan sampah agar memiliki nilai ekonomis. Menurutnya, persoalan sampah perlu dilihat dari berbagai sisi, termasuk peluang pemberdayaan masyarakat.

Ia mengakui bahwa apa yang dilakukannya telah berjalan lama, meski sebelumnya tidak banyak terdengar. “Kami sudah melakukan sejak lama, tapi dengan adanya apresiasi dari pemerintah, saya merasa perlu digaungkan lebih besar lagi,” ujar Wirayuni.
Bagi Wirayuni, kunci perubahan terletak pada langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia menekankan bahwa pemilahan sampah harus dimulai dari lingkungan paling dekat.
“Walaupun saya bukan siapa siapa, saya mulai dari langkah kecil untuk lingkungan kecil dulu, minimal di keluarga dan tetangga kita termasuk dalam usaha yang dilakukan,” katanya.

Sebagai ibu dua anak, ia memahami bahwa perubahan tidak selalu terjadi secara instan. Namun ia yakin masalah besar dapat diminimalkan jika semakin banyak orang peduli. “Saya selalu mengajak ibu ibu di Desa Pemogan untuk melakukan sesuatu, minimal kita bisa memilah sampah sendiri di rumah. Walaupun mungkin tidak seratus persen, tapi setidaknya bisa mengurangi sampah yang ada di luar,” ujarnya.
Selain kegiatan edukasi, Bali Waste Management Training Center juga telah bekerja sama dengan berbagai pihak dalam penyaluran produk daur ulang dari sampah. Di antaranya pemasangan kursi plastik hasil daur ulang melalui kerja sama dengan District Grant Rotary, Pesona Plastic, dan mitra lainnya. Upaya ini menjadi bukti bahwa konsistensi merawat lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan peran perempuan dan pemberdayaan masyarakat. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























