SEDIKIT genangan air tampak di pelupuk mata. Raut wajahnya berubah setelah mendengar namanya disebut sebagai peraih juara kelas. Aiko Belva Kaswadi (13), akrab disapa Aiko, siswi kelas VIII di SMP PGRI 8 Denpasar (Griasta), berhasil meraih peringkat pertama pada akhir semester ganjil tahun ajaran 2025/2026 setelah melewati berbagai rintangan dan persaingan di kelas.
Tak hanya itu, Aiko juga mencatat prestasi memuaskan lainnya. Ia menyabet juara Lomba Story Telling sebanyak tiga kali berturut-turut dalam tahun yang sama. Meski kemenangan itu membuatnya terkejut, Aiko mengaku lebih tercengang ketika mengetahui dirinya menduduki peringkat teratas di kelas.
“Saya nggak nyangka bisa dapat ranking satu. Biasanya yang ranking satu itu orangnya yang rajinnya, rajin banget,” ujarnya sambil menahan air mata yang perlahan membasahi pipinya.
Gadis kelahiran Banyuwangi ini dikenal memiliki tekad yang kuat. Sejak bersekolah di Griasta, ia merasa tertantang untuk berkembang. Melihat deretan prestasi siswa-siswi di sekolah tersebut, Aiko pun berkeinginan mengikuti jejak mereka. Namun, dibalik pencapaian gemilang itu, tersimpan kisah kelam yang pernah ia lalui.
Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Aiko bukanlah sosok yang menonjol. Ia cenderung pendiam dan memilih diam ketika mendapat olok-olok dari teman-temannya. Rasa takut untuk bersekolah perlahan tumbuh, membuatnya jarang bergaul, takut gagal, dan enggan mencoba hal baru.
“Saya merasa seperti figuran. Melihat teman-teman berprestasi, saya juga ingin seperti mereka, tapi tak tahu harus mulai dari mana,” tuturnya.

Padahal, sejak dini Aiko telah berusaha menunjukkan potensi. Ia sempat ingin mengikuti lomba menyanyi, namun belum mendapat dukungan dari pihak sekolah. Minatnya pada olahraga (baseball) pun tidak sempat membuahkan hasil, hanya berhasil lolos hingga tingkat provinsi. Sayangnya, cedera memaksanya untuk mundur dan menghentikan langkah di cabang olahraga tersebut.
Aiko mengakui, pada masa itu ia juga kehilangan fokus dalam belajar. Rasa malas muncul akibat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya, terutama ketika ia merasa dimanfaatkan.
“Saya sadar, sejak saat itu saya tidak pernah belajar lagi. Buat apa belajar rajin kalau akhirnya jawaban saya disalin oleh mereka?” mengungkapkannya dengan nada tegas.
Kenangan pahit tersebut memunculkan kembali emosi yang masih membekas hingga kini. Meski Aiko telah mampu bangkit dan berjalan tegak, ingatan tentang masa lalu kerap mempengaruhi suasana hatinya.

Memasuki kelas VI, Aiko bertekad mengubah segalanya. Ia mulai membatasi diri, tidak lagi memberikan jawaban, mengabaikan komentar orang lain, dan menyadari bahwa tidak semua orang layak dijadikan teman.
“Sejak saat itu saya tidak pernah lagi membagikan jawaban saya kepada orang lain. Iya, walapun akhirnya saya jadi tak punya teman,” ujarnya sambil menghela nafas.
Barangkali, keputusasaan itulah yang menjadi titik balik bagi Aiko. Ia memilih untuk tidak larut dalam keputusasaan. Sejak bersekolah di Griasta, Aiko mengaku mengalami banyak perkembangan, baik secara akademik maupun mental.
“Di sinilah (Griasta) saya bisa berkembang. Tidak ada konflik dengan teman sebaya. Kalaupun ada, pasti diselesaikan dengan baik oleh BK,” katanya.

Anak kedua dari dua bersaudara ini aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti modelling, Palang Merah Remaja (PMR), dan KSPAN. Meski memiliki hobi menyanyi, Aiko mengaku belum mengikuti ekstrakurikuler vokal.
Kendati demikian, semangatnya untuk berprestasi dan membanggakan sang ibu tak pernah padam. Aiko terus mengasah kemampuan berbahasa Inggris sebagai modal utama mengikuti berbagai lomba. Dari sanalah motivasinya mengikuti lomba story telling bermula.
“Saya ingin menambah kemampuan dalam public speaking, tapi ragu untuk memulai dengan cara formal, seperti pidato atau MC. Jadi saya memilih story telling,” jelasnya.
Perjalanannya tak selalu mulus. Aiko sempat meraih Juara Harapan II di ajang Arunika Entertainment. Namun, kegagalan itu tak menyurutkan semangatnya. Ia bangkit dan berhasil meraih Juara I di Universitas Dhyana Pura (Undhira) serta SMK PGRI 5 Denpasar (Skagrima). Ia juga pernah mengikuti olimpiade, meski belum berhasil meraih hasil maksimal.
“Saya pernah ikut lomba selain story telling, seperti olimpiade. Tapi saya kurang berminat untuk belajar dan ingin suasana yang berbeda,” ucapnya sembari membenarkan kacamata yang melorot.

Di tengah maraknya siswa yang berlomba mengejar prestasi tanpa mempertimbangkan minat dan kredibilitas ajang lomba, Aiko justru melangkah dengan perlahan namun pasti. Ia memulai dari peringkat ketiga, sempat turun ke peringkat keempat, hingga akhirnya berhasil menempati peringkat pertama.
Selain mahir berbahasa Inggris, Aiko juga dipercaya menjadi Duta Bahasa Jepang di Griasta. Ia aktif melakukan sosialisasi ke sejumlah sekolah dasar serta berbagi pengalaman kepada para siswa. Di usia yang terbilang muda, Aiko memanfaatkannya untuk terlibat dalam berbagai kegiatan positif.
Semangat belajar dan menggapai cita-cita itu tumbuh sebagai upaya Aiko untuk meringankan beban sang ibu dan kakaknya. Sejak awal 2017, ia tinggal bersama Ibu dan seorang kakak perempuan di Denpasar. Mereka merantau dari Banyuwangi untuk membangun masa depan di kota ini.
“Kakak dan Ibu saya bekerja. Jadi, saya membantu dengan prestasi,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, pencapaian itu mungkin terlihat biasa saja. Namun bagi Aiko, keberhasilan ini adalah kemenangan besar. Tak peduli berapa banyak piala yang ia raih di luar sekolah, menjadi siswa dengan nilai tertinggi di kelas merupakan kebanggaan tersendiri ─ bagi dirinya, dan terutama bagi sang ibu. [T]
Reporter/Penulis: Kadek Windari
Editor: Dede Putra Wiguna



























