Joan Baez telah menyanyikan “Donna Donna” sejak tahun 1960, dan hari ini kita masih tersentuh oleh emosi kerentanan serta kerinduan akan kebebasan yang disuarakannya. Kita ingat bagaimana balada folk ini dulu seolah milik dunia pergerakan, sering diadopsi sebagai himne oleh para aktivis dan pejuang hak-hak sipil di berbagai belahan dunia.
Di tangan Joan Baez, “Donna Donna” tumbuh menjadi nyanyian yang tenang dan lembut. Namun di balik petikan arpeggio gitar akustiknya yang sederhana, vokal soprano Baez mengalir seperti sungai pegunungan: jernih, sejuk, dan menyimpan gema yang dalam. Suara itu tidak memaksa, tetapi menghampiri dengan lirih, seperti bisikan yang lama tertahan.
Kejernihan suaranya mencerminkan perenungan yang matang. Ia tidak menggurui, melainkan membiarkan ritme bernapas, dan “Donna Donna” pun terdengar tulus dan alami, beresonansi dengan kerapuhan yang dikandung kata-katanya.
On a wagon bound for market/
there’s a calf with a mournful eye/
High above him there’s a swallow/
winging swiftly through the sky.
Lagu ini memang kerap dibaca sebagai alegori penderitaan: seekor anak sapi yang digiring di atas gerobak menuju pasar, menuju kematian, sementara di atasnya, burung layang-layang melintas bebas di langit. Banyak penafsir mengaitkannya dengan tragedi Holocaust, dengan pengalaman kolektif bangsa Yahudi yang tak berdaya di hadapan kekuasaan yang menindas.
Namun kekuatan lagu ini justru terletak pada kesederhanaan metaforanya, yang membuatnya melampaui satu peristiwa sejarah. Anak sapi dan burung layang-layang itu tidak berhenti sebagai simbol suatu kaum tetapi menjadi gambaran tentang kondisi manusia itu sendiri.
“Donna Donna” berasal dari lagu Yiddish berjudul “Dana Dana,” yang digubah oleh Sholom Secunda dengan lirik Aaron Zeitlin pada tahun 1941 untuk teater Yiddish. Lagu ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Arthur Kevess dan Teddi Schwartz, sebelum akhirnya jadi terkenal melalui suara Joan Baez. Sejak itu, lagu ini terus hidup, melintasi bahasa, generasi, dan konteks sosial.
Kita mungkin selalu terpesona seolah mendengarnya untuk pertama kali. Metaforanya sederhana, tetapi justru karena itu ia menembus dengan sunyi. Ia tidak berteriak tentang kebebasan, melainkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengusik nurani.
Irama folk-nya yang bersahaja membuat lagu ini mudah dirangkul oleh berbagai gerakan rakyat. Ia dinyanyikan dalam demonstrasi, perlawanan sipil yang penuh harap. Bahkan di Korea Selatan pada tahun 1975, lagu ini sempat dilarang karena dianggap subversif, sebuah ironi yang justru menegaskan daya gugahnya.
Namun “Donna Donna” juga membuka ruang tafsir yang lebih sunyi dan personal. Ia tidak hanya berbicara tentang penindasan eksternal, tetapi juga tentang cara manusia memaknai keberadaannya sendiri, tentang pilihan, kesadaran, dan kebebasan yang sering kita sangkal.
“Stop complaining!” said the farmer
“Who told you a calf to be?
Why don’t you have wings to fly with
like the swallow so proud and free?”
Di sini, suara petani mungkin terdengar dingin dan menyakitkan. Ia tidak melihat penderitaan sebagai sesuatu yang perlu dipahami, melainkan sebagai sesuatu yang wajar. Anak sapi baginya hanyalah anak sapi, makhluk yang sudah memiliki fungsi, nasib, dan akhir yang ditentukan.
“Siapa yang menyuruhmu menjadi anak sapi?”
Pertanyaan ini terdengar tajam. Ia memantulkan cara dunia sering berbicara kepada mereka yang terikat oleh keadaan: seolah-olah keterikatan itu adalah pilihan mereka sendiri.
Dalam nada inilah lagu ini bersentuhan dengan persoalan eksistensi. Anak sapi melambangkan mereka yang hidup dalam penerimaan pasif, yang bergerak mengikuti rel tanpa tahu di mana berakhir. Ia diikat bukan hanya oleh tali, tetapi oleh keyakinan bahwa ia memang tidak ditakdirkan untuk terbang.
Sebaliknya, burung layang-layang digambarkan sedang terbang melayang. Kebebasannya tidak retoris; ia nyata, sunyi, dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Terbang bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian untuk mengembangkan sayap.
Kontras antara keduanya bukan sekadar tentang kuat dan lemah, tetapi tentang kesadaran. Tentang apakah seseorang melihat dirinya sebagai objek dari keadaan, atau sebagai subjek yang masih memiliki ruang untuk memilih.
Di titik inilah “Donna Donna” terasa seperti ajakan untuk berhenti semata-mata meratapi nasib, dan mulai menyadari posisi diri dalam dunia. Bukan semua belenggu bisa dipatahkan, tetapi tidak semua belenggu datang dari luar.
Namun lagu ini tidak berhenti pada romantisme kebebasan. Ia menyisakan kegelisahan yang lebih dalam. Tidak semua orang memiliki sayap. Tidak semua situasi memungkinkan kita terbang. Di sinilah pertanyaan menjadi semakin pelik: apakah kebebasan selalu berarti melawan?
Stoa mengenal ungkapan amor fati, mencintai takdir. Bukan menyerah, melainkan menerima kehidupan sepenuhnya, dengan kesadaran dan kejernihan. Menerima tetapi memahami batas antara apa yang bisa kita ubah dan apa yang harus kita tanggung.
Maka “Donna Donna” berdiri di antara dua ketegangan: antara dorongan untuk terbang dan keharusan untuk memahami tanah tempat kita berpijak. Lagu ini tidak memberi jawaban final. Ia hanya memperlihatkan langit dan tali, sayap dan gerobak, lalu membiarkan kita bertanya pada diri sendiri, di posisi mana kita berdiri hari ini.
Dan mungkin, justru di sanalah kekuatan abadi lagu ini: ia tidak memaksa kita menjadi burung, tetapi juga tidak membiarkan kita pasrah menjadi anak sapi tanpa pernah bertanya mengapa. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























