6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buda Kliwon Pegatwakan: Titik Balik Waktu, Etika Alam, dan Pendidikan Pertanian Bali

I Wayan Yudana by I Wayan Yudana
December 24, 2025
in Esai
Tumpek Landep dan Ketajaman Pikiran

I Wayan Yudana

Di Bali, petikan lontar Wariga kerap dijadikan landasan kultural masyarakat dalam membaca waktu, menimbang kehendak alam, dan mengatur laku hidup. Salah satu momentum yang memiliki makna sangat kuat dalam kesadaran kolektif tersebut adalah Rahina Suci Buda Kliwon Pegatwakan, yang oleh sebagian masyarakat juga disebut Buda Kliwon Pahang atau Petawakan. Bagi orang Bali, hari ini bukan sekadar penanda kalender pawukon, melainkan titik balik kosmis—saat “kekotoran” waktu diputus (pegat), dan energi baru dipercaya mulai mengalir.

Dalam kalender Hindu Bali, Buda Kliwon Pegatwakan yang jatuh pada Rabu yang bertepatan dengan Kliwon dalam wuku Pahang, merupakan hari suci yang menandai berakhirnya rangkaian perayaan Galungan dan Kuningan. Secara etimologis, “pegat” berarti putus atau lepas, sedangkan “wakan/wakan” melambangkan sabda atau janji; bersama-sama. Pegatwakan mencerminkan pelepasan atau pengakhiran sebuah masa spiritual dan kembalinya umat kepada rutinitas kehidupan biasa setelah masa tapa brata dan perayaan religius.

Dalam tradisi tutur masyarakat Bali, Pegatwakan juga kerap dikenal dengan sebutan Uncal Balung, yang secara simbolik dimaknai sebagai proses “melepaskan tulang”—yakni membuang sisa-sisa beban lama, keraguan, dan kekotoran batin yang menghambat langkah baru. Istilah ini menegaskan bahwa Buda Kliwon Pegatwakan bukan sekadar pergantian hari, melainkan momentum spiritual dan psikologis untuk merelakan yang usang agar ruang tumbuh terbuka kembali. Dalam konteks pertanian dan peternakan, Uncal Balung mengajarkan bahwa memulai usaha pangan tidak cukup dengan kesiapan material semata, tetapi juga menuntut kejernihan niat, keberanian memutus keraguan, serta kesiapan mental menghadapi siklus alam yang terus berubah.

Secara simbolik, hari ini biasanya ditandai dengan pencabutan penjor—simbol kemenangan dharma atas adharma—serta pembersihan dan pembakaran perlengkapan upacara sebagai tanda telah selesainya periode suci. Setelah Pegatwakan, umat diperkenankan untuk kembali melaksanakan kehidupan manusa yadnya dan kegiatan sosial-kehidupan seperti biasa.

Bagi sebagian masyarakat Bali, Buda Kliwon Pegatwakan bukan hanya sekadar peristiwa religius ritual. Ia telah menjadi momen simbolis untuk memulai fase kehidupan baru, termasuk memutuskan waktu untuk memulai usaha dalam bidang pertanian dan peternakan, seperti pembelian bibit sapi, babi, kambing, maupun pengembangan usaha tani dan ternak. Fenomena ini mirip dengan tradisi lain di Bali di mana hari-hari tertentu (tumpek, kajeng kliwon, dsb.) dipersepsi membawa energi positif sehingga banyak aktivitas penting direncanakan bersamaan dengan rahina suci tersebut.

Kebiasaan menunda mulai usaha hingga Buda Kliwon Pegatwakan sejatinya merupakan sebuah ekspresi nilai budaya lokal yang menggabungkan aspek religius, psikologis, dan sosial. Hari ini dipersepsi sebagai waktu di mana alam, manusia, dan leluhur sedang “selaras”—sehingga dimaknai sebagai awal yang baik dan bersih secara spiritual sebelum memulai kegiatan penting.

Dalam praktik sosial, tidak sedikit petani dan peternak Bali yang menunda untuk memulai usaha sebelum Buda Kliwon Pegatwakan. Pembelian bibit sapi, babi, kambing, bahkan memulai kandang baru, kerap “disimpan” niatnya hingga hari ini tiba. Demikian pula urusan dewasa hayu: pernikahan, membangun rumah, membuka usaha, hingga memulai babak baru kehidupan. Inilah fakta pemaknaan secara tradisional yang kerap terjadi di masyarakat kita.

Tradisi ini berakar kuat pada lontar-lontar Wariga dan Tutur. Semuanya memandang keselarasan antara manusia (pawongan), alam (palemahan), dan kekuatan niskala (parhyangan) sebagai syarat utama keberhasilan sebuah usaha. Dalam kerangka ini, keberhasilan pertanian dan peternakan tidak semata ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh ketepatan waktu dan sikap batin.

Perspektif Pendidikan Pertanian: Membaca Tradisi dengan Nalar Ilmiah

Pertanyaannya kemudian, “Bagaimana pendidikan pertanian dan peternakan Bali memaknai Buda Kliwon Pegatwakan di tengah tuntutan ilmu pengetahuan modern?”

Pendidikan pertanian yang baik sejatinya tidak menafikan tradisi, tetapi menjadikannya pintu masuk pembelajaran kontekstual. Dalam perspektif pedagogi modern, praktik menunda dan memulai ini dapat dibaca sebagai suatu kearifan.

Pertama,  manajemen risiko tradisional. Artinya bahwa penundaan sebelum waktu yang dianggap “bersih” sesungguhnya mencerminkan kehati-hatian. Dalam ilmu peternakan, keputusan membeli bibit memang idealnya dilakukan setelah kesiapan kandang, pakan, modal, dan tenaga terpenuhi. Tradisi “menunggu dewasa” sejajar dengan konsep feasibility study dalam sains modern.

Kedua, sebagai penguatan etika produksi. Lontar-lontar Bali menekankan bahwa usaha pangan tidak boleh serampangan. Ini selaras dengan prinsip pertanian berkelanjutan, kesejahteraan hewan (animal welfare), dan pertanian ramah lingkungan yang kini menjadi standar global.

Ketiga, pendidikan karakter agraris. Bahwa Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, dan hormat pada alam. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk pendidikan vokasi pangan yang tidak hanya mencetak pekerja, tetapi petani dan peternak berkarakter.

Namun demikian, pendidikan pertanian Bali juga ditantang untuk tidak berhenti pada simbolisme waktu. Bila Buda Kliwon Pegatwakan hanya dimaknai secara ritual tanpa diikuti peningkatan literasi, keterampilan, dan inovasi, maka ia berisiko menjadi romantisme masa lalu.

Di sinilah peran sekolah vokasi—khususnya SMK pertanian, peternakan, dan perikanan—menjadi sangat strategis. Sekolah harus mampu menjelaskan bahwa Dewasa ayu bukan pengganti manajemen. Hari baik tidak meniadakan kebutuhan ilmu. Restu alam harus diiringi kompetensi manusia. Inilah tantangan sesungguhnya bagi pendidikan vokasi, yakni harus mampu melangkah dari dimensi mistik ke metodologis. Dengan demikian, Buda Kliwon Pegatwakan menjadi momen refleksi pendidikan, bukan sekadar kalender upacara.

Tradisi dan Ketahanan Pangan: Titik Temu yang Terlupakan

Ketika pemerintah pusat menggencarkan program ketahanan pangan, Bali sesungguhnya telah lama memiliki “modal budaya” yang kuat. Tradisi seperti Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan bahwa pangan adalah urusan sakral, bukan sekadar komoditas.

Sayangnya, sekolah-sekolah vokasi pangan sering kalah pamor dibanding pariwisata. Padahal, sebagaimana filosofi Bali, pariwisata tidak memiliki hulu jika pertanian mati. Pendidikan pertanian yang berakar pada tradisi, sekaligus berorientasi pada sains dan teknologi, adalah jembatan penting yang belum sepenuhnya dibangun.

Buda Kliwon Pegatwakan, bila dimaknai secara mendalam, bukanlah hari untuk menyerahkan nasib pada waktu semata. Ia adalah ajakan untuk memutus keraguan, membersihkan niat, dan menyambung ikhtiar dengan kesadaran ekologis.

Bagi dunia pendidikan pertanian,  peternakan dan perikanan Bali, rahina suci ini dapat dijadikan titik awal pedagogis, yaitu mengajarkan bahwa ilmu modern dan kearifan lokal tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru saling menguatkan—seperti bajak dan benih, seperti kandang dan pakan, seperti manusia dan alam yang sejak lama hidup dalam satu tarikan napas kebudayaan Bali. Ilmu modern dan kearifan lokal merupakan penyambung harapan bagi Bali yang harmonis.

Pada akhirnya, fenomena Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan bahwa nilai budaya bukan sekadar ritual masa lalu, melainkan instrumen pembelajaran kritis yang relevan dalam praktik kehidupan modern — termasuk di bidang pertanian dan peternakan. Budaya memberi ritme, penanda nilai, dan ruang untuk refleksi sebelum bertindak.

Sebagai calon praktisi, pendidik di bidang pertanian dan peternakan, selayaknya dapat melihat fenomena budaya bukan sebagai sesuatu yang harus dilawan atau “diabaikan dalam sains” melainkan sebagai elemen pembelajaran yang memperkaya pengalaman praktis dan spiritual. Dengan begitu, pendidikan pertanian dan peternakan di Bali tidak hanya menghasilkan tenaga ahli, tetapi juga pelaku usaha yang berakar kuat pada nilai budaya, siap menghadapi tantangan zaman, dan mampu mengintegrasikan kearifan lokal dalam praktiknya. [T]

Penulis: I Wayan Yudana
Editor: Adnyana Ole

 

Tags: hinduHindu BaliPendidikanpendidikan pertanianTradisitradisi bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gerobak dan Sayap, Renungan Eksistensial ‘Donna Donna’

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

I Wayan Yudana

I Wayan Yudana

Kepala SMKN 1 Petang, Badung, Bali

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [46-Tamat]: Ruwatan Kampus yang Menegangkan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co