6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Apa yang Dicari Gala Resonant dari Manusia?

Muhamad Irfan by Muhamad Irfan
December 22, 2025
in Ulas Musik
Apa yang Dicari Gala Resonant dari Manusia?

Pertunjukan Gala Resonant sedang berlangsung di Kios Ojo Keos (Selasa, 2/12/2025)/Call Me Odong

“Panjang umur karya, panjang umur kita dalam sebuah karya.”

Ungkapan itu bukan sekadar kalimat pembuka, melainkan napas panjang yang seolah mengawal perjalanan Gala Resonant—sebuah karya musik eksperimental yang mengawinsilangkan tradisi Minangkabau dengan teknologi elektroakustik. Penggagas Gala Resonant, yaitu Muhammad Giffary, dibantu Wahyu, Gilang, dan Nazir, karya ini melintasi batas ruang akademik dan merambah panggung-panggung nasional, bahkan mulai berbicara tentang kemungkinan melangkah lebih jauh ke panggung internasional.

Gala Resonant lahir sebagai Tugas Akhir Giffary untuk menyelesaikan studinya di Institut Seni Indonesia Padang Panjang. Pada titik itu, ia hanyalah sebuah karya syarat kelulusan. Namun sejak kemunculan perdananya, sudah terasa bahwa karya ini tak akan berhenti di meja penguji. Giffary memiliki keberanian untuk meracik tradisi dengan eksperimen elektroakustik, sebuah pertemuan yang tidak selalu mudah diterima, tapi justru di situlah letak keistimewaannya.

Penonton sedang menyaksikan Gala Resonan | Call Me Odong

Karya itu mulai bergerak sendiri—menyeberang dari ranah Minang ke pulau-pulau lain. Undangan demi undangan datang, mengajak Gala Resonant tampil dalam berbagai gelaran music dan pameran karya. Tidak lama kemudian, ia menapaki tour kecil ke tiga kota: Cirebon, Solo, dan Jakarta. Tour yang sederhana, namun bermakna: membuktikan bahwa karya eksperimental tidak hanya untuk kalangan akademisi atau pelaku seni.

Justru ia membuka pintu refleksi bagi siapapun yang mendengarnya. Ada ruang yang terasa personal bagi penonton luar Minang, seakan bunyi-bunyi itu memanggil memori-memori yang tak mereka ketahui ada di dalam diri.

Pupuik Gadang, Spektral, dan Rasa yang Dibentuk oleh Bunyi

Gala Resonant bertumpu pada Pupuik Gadang, alat musik tiup tradisional Minangkabau yang suaranya kerap digunakan dalam ritual atau momen-momen tertentu dalam budaya lokal. Dari bunyi dasar itu, Giffary merajut spektrum frekuensi melalui teknik spectral, menggunakan pendekatan elektroakustik yang jarang disentuh dalam konteks musik tradisi Indonesia.

Instalasi Kulilik dalam Gala Resonant | Call Me Odong

Bayangkan bunyi yang biasanya hidup dalam lanskap perbukitan atau nagari, kini berdialog dengan gelombang digital—tidak saling menelan, tetapi saling memperluas. Giffary membuatnya seperti dua dunia yang awalnya tampak bertentangan, namun ternyata memiliki ruang pertemuan yang luas ketika disentuh dengan kepekaan.

Lahirnya Api-Api: Rumah untuk Sebuah Perjalanan

Ketika Gala Resonant semakin banyak menerima tawaran tampil, Giffary merasa perlu membangun rumah ide. Lalu lahirlah Api-Api, sebuah proyek induk yang namanya muncul dari percakapan-percakapan santai di sekitar api unggun. Mereka berbicara tentang perjalanan karya, tentang keberlanjutan, tentang bagaimana sebuah karya tidak boleh berhenti di satu titik saja.

Logo Api-Api

Api-Api menjadi payung yang menaungi perjalanan Gala Resonant ke berbagai kota, khususnya di tanah Jawa. Dari sana, karya ini tidak hanya berjalan, tetapi juga tumbuh, menyesuaikan diri dengan ruang di mana ia diperdengarkan.

Spontanitas dan Pembaharuan di Setiap Panggung

Bagi Giffary, seni adalah organisme yang terus berubah. Karena itu, tiap pertunjukan Gala Resonant selalu berbeda. Ia menjaga spontanitas sebagai prinsip kerja. Setiap panggung adalah ruang eksperimen baru, sekaligus ruang dialog dengan penonton yang berbeda-beda.

Dalam membangun pertunjukan, Giffary sering memosisikan dirinya sebagai orang yang tak mengerti musik sama sekali—sebuah cara untuk merasakan lapisan ketidakmengertian penonton dan berusaha menembusnya. Ia ingin membawa siapapun yang datang menonton merasa diperhatikan, merasa disapa oleh bunyi, bukan didikte.

Ia juga menyisipkan isu sosial yang relevan dengan tempat ia tampil. Ini bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi cara agar seni tetap berpijak ke tanah yang sedang diinjak.

Ketika Jakarta dan Ranah Minang Bertabrakan di Panggung

Penampilan di Kios Ojo Keos, Jakarta (Selasa, 2/12/2025), menjadi salah satu momen penting. Saat itu, ranah Minang sedang dilanda banjir, sementara Jakarta sibuk dengan denyut kotanya yang tak pernah berhenti. Giffary menangkap dua realitas itu dan menggabungkannya dalam pertunjukan.

Pertunjukan dibuka dengan bunyi yang menggambarkan keriuhan kota—suara kendaraan, ritme mesin, dan kepadatan yang terasa menghimpit. Lalu masuklah gema Pupuik Gadang yang lantang, seperti seruan yang memanggil pulang atau mengingatkan akan sesuatu yang jauh—Ranah Minang.

Keduanya bertabrakan, menyatu, lalu saling menekan, menciptakan lanskap bunyi yang memaksa penonton merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar suara.

Hajar sebagai penampil mengungkapkan, baginya yang menarik yaitu di penampilan Gala Resonant ada eksplorasi musik di berbagai level, seperti dari instrumentasi ada tradisi, barat, eksperimental, dan interpretasi terhadap tradisi.

“Pas performnya, sound dan penampilan dari instalasinya mengingatkan ke fenomena bis telolet dengan segala suara dan lampu-lampunya juga. Tapi enggak tahu apakah ada mengarah ke situ juga atau enggak,” ungkap Hajar.

Selain itu, Hajar juga berpendapat bahwa pada pertunjukan Gala Resonant mungkin ada beberapa momen dimana suara dari instalasinya kurang “nyampur” dengan bunyi lain. Tapi barangkali hal itu lebih ke urusan teknis mixing/live sound. Barangkali juga karena pengaruh tempat yang ruangnya kecil. Mungkin jika ada jarak antar instalasi dan penonton akan terasa lebih nyampur.

Di beberapa bagian, Giffary memasukkan unsur Elektronic Dance Music, seakan membiarkan Gala Resonant melihat cermin Jakarta yang gelap dan modern. Talempong Pacik ikut mengisi ruang, membuat tekstur bunyi semakin padat.

Sementara itu, isu banjir Minang hadir melalui melodi gitar yang menyayat. Petikan halus yang membawa perasaan pilu dan gelisah—perasaan yang muncul bukan karena narasi verbal, tetapi karena bunyi itu sendiri membawa tubuh penonton kepada empati.

Nazir memainkan melodi yang menyayat hati penonton yang mendengarnya | Call Me Odong

Sementara itu, Ali sebagai salah satu performer dan penonton juga mengungkapkan bahwa manipulasi suara, ke kulikan pribadi, atau membuat alat sendiri memang selalu sangat menarik, karena dari alat dan kreasi imajinasi yang ada, dapat menimbulkan warna-warna lain. Namun ketika bermain, kadang beda lagi dalam artian ada sensasi bawaan atau pendekatan lain ketika berinteraksi dengan alat.

Bukan hanya dari sisi suara yang dihasilkan, Ali juga mengungkapkan pendapatnya dari sisi teatrikal pemusik Gala Resonant. Menurutnya, hal itu juga harus diperhatikan dalam setiap aksi panggung, karena hal itu menjadi kesatuan yang utuh dalam, sebuah pertunjukan.

“Visual dan audio itu sudah cukup impresif, tapi mungkin kapan alat itu di depan dan pemain di belakang atau kapan bercampur dengan pemain,” ungkapnya.

Ruang Dialektika dan Penyembuhan

Gala Resonant bukan karya yang ingin memberi kesimpulan atau menggurui. Ia hadir sebagai ruang dialektika. Ruang untuk berkontemplasi. Ruang untuk merawat keresahan. Bahkan, bagi sebagian penonton, ia menjadi ruang penyembuhan.

Giffary percaya bahwa musik berasal dari masyarakat dan kembali ke masyarakat. Maka apa pun yang ia capai, ia kembalikan lagi sebagai ruang yang dapat diisi oleh siapa saja—menganggap manusia sebagai bagian dari suara alam yang memuat empati dan simpati dalam cara berpikirnya.

Mengirim Gala Resonant ke Luar Negeri

Di tengah perjalanan itu, Giffary menyimpan mimpi: membawa Gala Resonant ke panggung internasional. Baginya, itu bukan sekadar pencapaian prestise. Ia ingin mengembalikan bebunyian eksperimental ini kepada negeri-negeri yang mengembangkan teknologi, seakan ingin melihat bagaimana pertemuan antara tradisi Minang dan eksperimen elektroakustik diterima di ruang-ruang global.

Giffary memainkan Pupuik Gadang yang menjadi dasar Gala Resonant | Call Me Odong

Ia ingin menyaksikan sendiri bagaimana publik di negara-negara itu merespons percakapan bunyi antara tradisi dan modernitas yang ia bangun. Pertemuan dua dunia yang ia mulai dari sebuah tugas akhir sederhana di ranah Minang. [T]

Jakarta, 2025

Penulis: Muhamad Irfan
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Pementasan Musik “Gala Resonant”: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Narasi Filosofis
Tags: Minangkabaumusikulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seminar Digitalisasi dan Pameran Sri Nadi: Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bersiap Masuk Era Digital

Next Post

‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

Muhamad Irfan

Muhamad Irfan

Lahir di Pariaman, 26 September 1995. Alumnus Sastra Indonesia Unand. Tulisan pernah dimuat di Majalah Mata Puisi, Suara Merdeka, Tanjungpinang Pos, Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, marewai.com, dll. Saat ini mencari kehidupan di Jakarta.

Related Posts

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
0
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

Read moreDetails

The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 1, 2026
0
The Cascades, Ketika Hujan tak Lagi Romantis

“Rhythm of the Rain” yang dinyanyikan oleh The Cascades tetaplah lagu yang sama seperti ketika pertama kali kita memutarnya puluhan...

Read moreDetails

‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

by Radha Dwi Pradnyani
February 23, 2026
0
‘Lalu Biru’; Menggali Keterlambatan Manusia dalam Menyadari Nilai Kehidupan

“Kenapa baru memberikan bunga ketika orang itu sudah membiru…?” Kalimat ini dilontarkan oleh pacar saya setelah dirinya melewati hari yang...

Read moreDetails

Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 18, 2026
0
Movin’ On dan Pelajaran tentang Keindahan

"Yang paling dalam tidak pernah berisik, ia tahu kapan harus berbunyi, dan kapan memberi jeda" * SAYA pertama kali memegang...

Read moreDetails

Desperado:  Tentang Kesendirian dan Keberanian Mencintai

by Ahmad Sihabudin
February 16, 2026
0
Desperado:  Tentang Kesendirian dan Keberanian Mencintai

DALAM hidup setiap manusia adalah seorang desperado. Pengembara  yang menempuh jalan panjang antara keinginan untuk bebas dan kebutuhan untuk dicintai....

Read moreDetails

‘Chet Baker’: Keindahan yang Diekstraksi dari Rasa Sakit

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 13, 2026
0
‘Chet Baker’: Keindahan yang Diekstraksi dari Rasa Sakit

“Look for the Silver Lining” lahir dari kegelapan, merayap seperti bisikan yang mengubah cara kita mendengar kesedihan. Chet Baker tidak...

Read moreDetails

‘All I Am’: Balada yang Lahir dari Kursi Roda

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 8, 2026
0
‘All I Am’: Balada yang Lahir dari Kursi Roda

Bayangkan sebuah suara yang lahir dari tubuh yang tak lagi bisa bergerak, namun justru bergerak paling jauh, menembus dinding waktu,...

Read moreDetails

‘Another Day’: Balada Puitis Dream Theater

by Nyoman Sukaya Sukawati
February 5, 2026
0
‘Another Day’: Balada Puitis Dream Theater

Ada lagu yang tidak untuk mengguncang, melainkan berbicara tenang menemani kita. 'Another Day' adalah bisikan pelan di tengah hiruk-pikuk album Images...

Read moreDetails

‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

by Nyoman Sukaya Sukawati
January 31, 2026
0
‘Leaving on a Jet Plane’: Bisikan Nostalgia dan Takdir

"Leaving on a Jet Plane” karya John Denver bukan sekadar lagu tentang bandara dan koper yang ditutup rapat. Ia adalah...

Read moreDetails

Mark Knopfler: Denting Gitar yang Melampaui Kata-kata

by Nyoman Sukaya Sukawati
January 29, 2026
0
Mark Knopfler: Denting Gitar yang Melampaui Kata-kata

Dunia jarang benar-benar sunyi. Ia dipenuhi suara, tuntutan, berita buruk, dan kegelisahan yang tak kunjung reda. Namun, di sela kebisingan...

Read moreDetails
Next Post
‘Send Me the Pillow You Dream On’: Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

'Send Me the Pillow You Dream On': Lagu Abadi di Hati Banyak Orang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co