MELIHAT era revolusi industri 4.0 saat ini, salah satu perubahan yang saya rasakan yaitu masifnya penggunaan media digital. Hal tersebut dilandasi dengan perkembangan zaman dari media konvensional menuju digital, di mana semua orang bisa sangat mudah untuk melakukan sesuatu dengan bantuan aplikasi yang ada di perangkat seperti smartphone.
Tak bisa dikesampingkan hal tersebut sangat membantu kebutuhan sehari-hari kita. Dengan digitalisasi saat ini tentu ada beberapa penyesuaian dari cara berkomunikasi kita, yang awalnya perlu bertemu secara langsung (face to face) sekarang bisa menggunakan sebuah aplikasi.
Salah satu contohnya konsultasi mengenai kesehatan mental ke praktisi spiritualis tidak perlu lagi datang menemui langsung, bisa diakses menggunakan aplikasi meditasi. Hal ini tentu dapat dimanfaatkan bagi orang yang tidak sempat konsultasi secara langsung karena mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga tidak memiliki waktu luang yang cukup banyak.
Dalam aplikasi tentu hal yang sangat penting dalam desain yaitu mengenai user interface (UI). Ini bertujuan untuk membuat interaksi menjadi mudah, efisien, dan menyenangkan, atau sering disebut juga sebagai antarmuka pengguna. Dalam kesatuan desain biasa disebut sebagai hierarki visual, meliputi tipografi, warna, gambar (ilustrasi) dan tata letak (layout).
Dari keempat unsur tersebut saling mempengaruhi agar desain yang dibuat menjadi harmoni (kesatuan) dengan pemilihan tipografi dan warna yang pas, gambar atau ilustrasi yang pendukung, serta pembuatan layout user interface aplikasi yang mudah untuk digunakan. Seperti aplikasi meditasi yang selalu menggunakan warna pastel dan UI yang disajikan juga terkesan simple dan minimalis. Dibalik semua itu tentu ada korelasinya, seperti meditasi itu sendiri ditujukan untuk orang yang ingin mencari terapi ketenangan jiwa. Agar user experience lebih mengena lagi pemilihan warna menjadi hal yang penting.
Psikologi Warna Pastel
Berbicara mengenai warna, warna pastel memang sangat cocok digunakan untuk aplikasi meditasi. Warna pastel itu sendiri meliputi merah muda (baby pink, dusty pink), biru muda (baby blue, sky blue), hijau mint, ungu muda (lavender, lilac), kuning lembut (butter yellow), oranye muda (peach, salmon), dan warna netral (beige, krem, abu-abu muda).
Semuanya memiliki karakteristik warna yang cenderung hangat (warm color), bisa memberikan kesan kalem dan menenangkan bagi pengguna. Hal ini selaras dengan tujuan dari meditasi itu sendiri untuk mencari ketenangan. Efek tersebut bisa masuk ke dalam psikologi warna untuk relaksasi, karena dapat memberikan hal positif seperti menenangkan dan meredakan. Jadi intinya, keseimbangan elemen seperti warna, tipografi, ilustrasi dan layout dalam kesatuan desain memiliki nilai yang sangat penting baik itu dari segi estetika maupun dari segi penyampaian pesannya.
Desain sebagai Alat Komunikasi Visual
Ketika saya membaca buku “DEKAVE” karya Sumbo Tinarbuko dari Dosen Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta, Beliau mengutip statemen seperti ini: “Desain Komunikasi Visual senantiasa berhubungan dengan penampilan rupa yang dapat diserap orang banyak dengan pikiran maupun perasaannya. Rupa yang mengandung pengertian atau makna, karakter serta suasana, yang mampu dipahami (diraba dan dirasakan) oleh khalayak umum atau terbatas” (T. Sutanto (2005:15-16).
Dari kutipan tersebut saya memiliki kesimpulan bahwa desain tidak bisa lepas dari makna yang ingin disampaikan oleh desainer (komunikator), karena desain itu sendiri bisa digunakan untuk menyampaikan pesan dalam bentuk verbal dan visual kepada khalayak (komunikan). Karena pada suatu desain ada juga yang tidak hanya menampilkan secara gambar atau ilustrasi saja tetapi dengan penjelasan verbal seperti tulisan, seperti contoh desain infografis dan user interface. Karena selain menyajikan sesuatu yang infromatif, perlu juga menampilkan sesuatu yang menarik dari segi visual.
Kaitannya dengan Psikologi Komunikasi
Kemudian dalam buku Psikologi Komunikasi karya Jalaluddin Rakhmat dalam proses berfikir, kata “persepsi” memiliki arti hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Dalam konteks ini pesan yang dimaksud berupa desain sebagai alat komunikasi visual.
Tentu melalui tahap sensai terlebih dahulu yang ditangkap oleh mata (indera visual) kemudian disalurkan menuju otak kita untuk berfikir mencari tahu apa maksud dan tujuan dari pesan visual yang ditampilkan. Tentu ini bisa mempengaruhi psikologi kita dalam merespon atau menyimpulkan hal tersebut.
Seperti contoh diatas desain user interface pada aplikasi meditasi harus dibuat menyesuaikan dengan unsur-unsur meditasi, salah satunya warna pastel yang merepresentasikan nuansa relax dan santai. Supaya pengguna bisa seakan-akan merasakan ketenangan yang sama seperti praktik langsung dengan praktisi spiritual, walaupun hanya menggunakan smartphone sebagai alat praktiknya. Hal tersebut ada kaitannya dengan stimuli, yang mempengaruhi persepsi kita saat menggunakan aplikasi. Kurang lebih seperti itu cara kerja psikologi warna dalam suatu desain.
Kesimpulan
Jadi, kesimpulan dari saya warna pastel dalam desain user interface aplikasi meditasi bukan sekadar soal estetika yang “lagi tren”. Pilihan visual ini berangkat dari kebutuhan psikologis pengguna yang datang ke aplikasi meditasi dengan kondisi pikiran yang lelah, penuh distraksi, atau bahkan cemas.
Warna pastel bekerja sebagai penenang visual tidak mengintimidasi, tenang, dan minim kontras yang tajam. Ia memberi ruang bagi pengguna untuk bernapas, memperlambat ritme, dan fokus pada pengalaman batin mereka. Ini menjadi bentuk komunikasi diam-diam antara aplikasi dan penggunanya: bahwa di sini tidak ada tekanan, tidak ada kompetisi, hanya ruang aman untuk berhenti sejenak.
Maka, nuansa pastel dalam UI aplikasi meditasi bisa dipahami sebagai strategi komunikasi visual yang selaras dengan tujuan utama meditasi itu sendiri menciptakan ketenangan dan keseimbangan di tengah hingar-bingar dunia digital. [T]
Penulis: Muhammad Syahrul Wafda
Editor: Adnyana Ole


























