6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

Cica Dwi Febria by Cica Dwi Febria
November 20, 2025
in Persona
Boy Candra dan Ruang Literasi di Sudut Kota

Penulis Boy Candra berbincang santai di Cafe Steva, ruang literasi yang hangat di tengah budaya nongkrong anak muda. (foto: Cica Dwi Febria)

DI tengah riuh budaya nongkrong anak muda, cafe steva hadir sebagai ruang sunyi berbicara lewat aroma kopi dan rak buku di sudut ruangan. Bagi penulis Boy Candra, tempat ini bukan sekedar cafe melainkan simbol kecil dari gerakan literasi yang hidup di kota Padang.

Boy Candra merupakan seorang penulis muda asal Sumatera Barat yang dikenal lewat karya-karya puitis dan romantisnya. Ia aktif menulis sejak tahun 2011 dan memulai debut di dunia kepenulisan pada tahun 2013 dengan Origami Hati menjadi novel perdananya. Kini Boy Candra telah menerbitkan lebih 30 buku, yang mencakup novel, kumpulan prosa, kumpulan cerita, dan puisi. Gaya tulisannya yang sederhana namun penuh makna menjadikannya dekat dengan pembaca muda di seluruh Indonesia.

Cafe dengan ruangan yang menghadirkan suasana hangat dan tenang, seolah membawa pengunjung ke sebuah perpustakaan kecil yang menenangkan dengan suara musik lembut mengalun dari pengeras suara disetiap sudut dengan khas yang klasik. Dipojok ruangan, rak kayu kecil berdiri dengan tenang, menampung deretan buku sastra, fiksi, dan puisi. Disanalah penulis asal Sumatera Barat, Boy Candra menikmati sore di Cafe Steva, tempat yang dikenal nyaman untuk diskusi dan tempat ngobrol yang cukup asik.

Dalam percakapan sore itu, Boy Candra berbagi pandangan tentang ruang literasi, budaya membaca dan berbagai inspirasi.

Halo, selamat sore Bang Boy.

Iya, sore.

Lagi ngapain nih, Bang?

Lagi duduk ngobrol santai.

Aku boleh nanya-nanya enggak Bang mengenai pandangan Bang Boy terhadap pojok baca seperti ini Bang?

Boleh-boleh.

Saat pertama kali melangkah ke kafe ini, apa yang paling menarik perhatian Bang Boy, aroma kopi, suasananya, atau rak buku kecil di pojok sana?

Sebetulnya cafe ini memang tempat yang sering saya kunjungi, dan tempat ini juga bisa dikatakan bagian dari ide saya dan juga teman-teman karena yang punya cafe kawan baik saya, kebetulan tempat ini juga dekat dengan rumah saya. Steva dulu bukan di sini. Dulu di belakang Kemenkes, di rumah Bang Fatris, pemilik kafe. Baru pindah ke sini sekitar satu setengah tahun lalu.

Apa yang membuat Bang Boy betah berlama-lama di sini? Apakah tempat ini memberi semacam ketenangan atau inspirasi tertentu bagi proses menulis Anda?

Cafe yang konsepnya seperti ini di Padang tidak banyak, yan hanya taruh buku pasti ada, tapi konsep yang ada pustaka cuman ada di Steva, karena di sini juga sering diadakan acara juga, terus menurut saya datang ke cafe ini tidak hanya sekedar beli kopi, melainkan kita bisa baca buku secara gratis dan tempatnya pun asik untuk ngobrol.

Pojok baca ini tampak sederhana, tapi terasa hidup. Menurut Bang Boy, apa makna keberadaan ruang seperti ini di tengah hiruk-pikuk kota dan budaya nongkrong anak muda?

Kalau diibaratkan, toko buku dan perpustakaan itu seperti akar dari pohon peradaban. Orang Minang suka memperbesar kepintaran mereka, tapi tanpa buku, upaya itu jadi tidak lengkap. Tempat seperti ini mestinya bisa jadi ikon kota atau simbol peradaban.

Sebagai seorang penulis yang tumbuh di Sumatera Barat, bagaimana Bang Boy melihat perkembangan budaya membaca dan menulis di daerah ini beberapa tahun terakhir?

Tahun lalu, Sumbar punya angka kunjungan pustaka yang cukup tinggi. Tapi kita perlu lihat juga apakah itu angka semata atau benar-benar kebiasaan membaca. Di Sumatera cukup banyak komunitas literasi bermunculan seperti TBM (Taman Baca Masyarakat), siteba berpuisi, nah itu menandakan gairah literasi yang hidup. Namun, masih ada mahasiswa yang belum pernah baca satu pun buku sastra. Itu agak aneh, tapi nyata.

Apakah ada momen khusus di kafe ini, misalnya ketika sedang membaca atau berbincang dengan pengunjung lain yang pernah memantik ide untuk menulis sebuah cerita atau novel?

Tidak pernah karena belum ada momen yang menarik juga untuk ditulis.

Dari pengamatan Bang Boy, bagaimana respons para pengunjung terhadap pojok baca ini? Apakah mereka benar-benar membaca, berdiskusi, atau sekadar berswafoto?

Banyak yang datang ke sini buat tugas, ada juga yang baca atau sekadar ngobrol. Bang Fatris itu orangnya terbuka. Kalau ada acara mahasiswa, disediakan mic dan sound system gratis.

Cafe ini tampak menjadi titik temu antara dunia sastra dan gaya hidup urban. Menurut Bang Boy, seberapa penting peran ruang-ruang publik seperti ini dalam menghidupkan gerakan literasi lokal?

Sekarang banyak mahasiswa nongkrong di cafe. Nah, kalau di cafe lain kamu cuma dapat kopi, di Steva kamu bisa dapat baca buku juga dan gratis. Apalagi di Sumatera Barat yang bisa dikatakan kota mahasiswa dan tempat- tempat seperti ini justru jadi penting.

Banyak yang bilang minat baca di Indonesia masih rendah. Dari sudut pandang Bang Boy, apa sebenarnya yang membuat orang enggan membaca akses, kebiasaan, atau mungkin kurangnya tempat yang ramah buku seperti ini?

Masalahnya bukan cuma orang suka baca atau enggak, tapi apakah mereka punya kesempatan untuk ketemu dengan buku. Banyak keluarga yang tidak punya buku di rumah, sehingga anak-anak tidak tumbuh dengan kebiasaan membaca, bisa karena ekonomi, bisa karena gak tahu cara beli buku, atau gak terbiasa. Makanya perlu dimulai dari hal kecil bikin rak buku di rumah, atau mahasiswa KKN bikin perpustakaan mini di desa. Membaca itu bukan hal instan, kamu harus nemu dulu buku yang cocok, yang bikin kamu nyaman, baru bisa jadi kebiasaan.

Apakah Bang Boy pernah terlibat dalam kegiatan literasi di kafe ini, seperti bedah buku, diskusi karya, atau sekadar berbagi pengalaman menulis dengan pengunjung lain?

Kalau ada teman-teman penulis datang, seperti JS Khairen, biasanya saya bantu hubungkan dengan Bang Fatris. Tempat ini terbuka banget buat siapa pun yang mau bikin acara literasi.

Jika boleh bermimpi, seperti apa Bang Boy membayangkan masa depan literasi di Sumatera Barat dan peran kecil yang mungkin dimainkan oleh kafe dengan pojok baca seperti ini?

Saya berharap akan ada lebih banyak tempat seperti Steva di Sumatera Barat, di sini orang bisa membaca di luar jam kerja, bahkan malam hari. Karena literasi itu tidak harus selalu di perpustakaan bisa di mana saja, bahkan di antara secangkir kopi dan percakapan yang hangat.

PERCAKAPAN sore itu menutup hari dengan secangkir kopi yang mulai dingin, namun meninggalkan hangatnya gagasan tentang literasi. Dari Boy Candra, kita belajar bahwa membaca dan menulis tidak selalu lahir dari ruang-ruang formal, tetapi juga dari tempat sederhana seperti sebuah kafe yang memberi ruang bagi ide dan pertemuan.

Cafe Steva bukan hanya tempat menikmati kopi, melainkan bukti bahwa gerakan literasi bisa tumbuh dari hal kecil dari rak buku di pojok ruangan, dari obrolan santai, dan dari semangat untuk terus menyalakan api pengetahuan di tengah budaya nongkrong anak muda. [T]

Penulis: Cica Dwi Febria
Editor: Adnyana Ole

Tags: Boy Candranovelsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Galungan dan Keberlangsungan Pertanian Bali: Sebuah Ajakan untuk Kembali ke Akar

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [41]: Kesurupan Massal di Kampus

Cica Dwi Febria

Cica Dwi Febria

Mahasiswa Universitas Negeri Padang

Related Posts

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails

Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

DI sebuah pementasan karya guru dan siswa SMAN 1 Kuta Selatan, Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati, pada Sabtu...

Read moreDetails

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

by Dede Putra Wiguna
January 10, 2026
0
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

TAHUN 2026 baru berjalan beberapa hari ketika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mencatat peristiwa penting dalam sejarah akademiknya. Rabu,...

Read moreDetails

Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

by Dede Putra Wiguna
December 29, 2025
0
Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

BERTEPATAN dengan Peringatan Hari Ibu Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Nyoman Wirayuni, SH.,...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [41]: Kesurupan Massal di Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co