AYAH TIDAK DIA SAYANGI
meski dia sangat ayah sayangi
selalu ayah bawakan santapan
di jam-jam laparnya
selalu ayah timbakan air
di jam-jam tidak nyamannya
selalu ayah temani
di jam-jam risaunya
bunga-bunga dan daun-daun
di halaman berguguran
selalu ayah singkirkan
sebelum tatapannya tersandung
mengusik khidmat mengalir
perasan perasaan
sepertinya ayah tidak dia sayangi
dibiarkannya tersisa jarak
tidak ayah tempuh
dibiarkannya tersisa waktu
tidak ayah kayuh
risaumu kini
tidak beruncing tuah
ranting bambu dan ujung kuku
ketakutan masa lalu ayah
halaman kosong pada buku
tiada berkawan
tersisa jarak dan waktu
huruf patah di akhir buku
melukai tidak diakhiri
memungkiri untuk diakhiri
ayah digiring terjebak
kisah Kumbakarna
lidah dirajah huruf-huruf
dibencinya membaca
telanjur terucap
kesadaran kemudian
tidak menyembuhkan
maka jangan ayah
menjadi mata airku
meski tegak batang pinang
melengkung pantang
belum siap bibirku pecah
mesti merekah
MEMBANGUNKAN AYAH
membangunkan nyenyak ayah
dua hari menjelang hari Kuningan
gaya lamban menjauhkan jajan
— karena jajan menyumbat
pahit kopi menyentuh perasaan —
menyusul aku menghidangkan
segelas kopi tanpa gula
gaya lamban yang ayah suka
lima menit mendidih air aku jerang
puncak daya
memindahkan panas udara ke air
melewati selapis logam merawat api
kipas kedua tangan
membawa kepulan wangi kopi
bulu hidung ayah bergerak-gerak
membawa bola mata terjaga
gaya lamban yang ayah suka
aku membuka jendela kamar
ayah sangat menikmati
bayangan awan di daun-daun
angin mampir untuk berlalu
tidak aku menyampaikan mauku
tidak juga aku menanyakan maunya
terjaga dari nyenyak
tidak akan pernah lagi nyenyak
ayah duduk di tempat
yang jauh dari kisah bumi
AYAH JANGAN JADI PANDU
ayah jangan jadi Pandu
— seperti dikisahkan “Bima Swargga” —
bersemangat setelah semua anak
di lembah sunyi itu
memberikan pengakuan kepadanya
meski tidak ingat lagi waktu
tidak berhasrat lagi ditiru
ayah aku harap terus mengisahkan
bidikan Arjuna yang ayah banggakan
tidak peduli siang lebih memilih malam
mengurai pengap dan penat
tidak peduli kita tengah
menyusuri pematang kali
lama sebelum matahari terbit
dan bulan masih di punggung bumi
juga bintang-bintang tetap bimbang
mengedipkan mendung di kelopak matanya
lalu sapi-sapi ayah berhamburan
dikejutkan buah kelapa jatuh di air kali
ayah percaya malam menjaganya
dari segala hasutan dan penyesatan
bersiaplah ayah aku kejutkan
tetap melangkah riang
tidak sekali-sekali berpaling
di sekitar ayah
tidak ada siapa-siapa
tidak juga sapi-sapi
yang sangat ayah sayangi
setelah padi
CARA MELUPAKAN AYAH
cara-cara curang melupakan ayah
sangat melukai diamku
menguatkan derita mendera
luka telapak kaki
sedalam tonggak perdu
ayah babat meruncing
luka di ibu jari tangan kiri
membuang kuku
memberi nanah meluaskan borok
tidak semenderita aku menghindari
cara-cara curang dan mencari cara-cara lancang
melupakan ayah
kalau berkenan kabari aku
tempat terjauh ayah kini berada
sudah aku kemas
keluh tidak terlampiaskan
sesak tidak tertahankan
tuah berkesungguhan
menetap di ladang
memasuki kembali gulita
di tempat mulai cahaya
setelah diabaikan lama
ada ruang lengang
meregang
pada pematang
serata petak ladang
dirawat ketabahan nyawa
menggemburkan kesabaran
melewatkan panen terburuk
dulu
sejak kepergian ayah
meski aku menipu diri
ayah tidak pergi
luput rayu lampu-lampu
enggan meneruskan cahaya
juga kunang-kunang
malas memendar cahaya
pun belalang memilih
melipat sayap-sayap tipisnya
enggan aku memulai percakapan
kini izinkan aku
mendahului ayah berkabar
telah roboh kandang sapi
di sebelah utara rumah ayah
begitu seekor sapi peninggalan ayah
dituntun pembeli yang dulu ayah tolak
rayuan menipunya
tebersit cara-cara indah melupakan ayah
sangat memberatkanku
seperti melepaskan anak perempuan
dari gendongan
meski untuk membelikannya susu
seperti melepaskan anak perempuan
dari kartu keluarga
meski lelaki itu meniru cara ayah
membawa ibu ke rumah ayah
cara-cara curang
dan cara indah melupakan ayah
tidak seriang anak-anak
atau cucu-cucu
membuang penat tubuh ayah
tidak lagi tersedia kesempatan
anak-anak atau cucu-cucu
memadatkan urat punggung ayah
berkisar pada petak dan
pematang sawah
tegak sejak dini hari
jauh disambut pagi
hingga malam
jauh dilepas petang
ORANG MENINGGAL DUNIA
setelah menyelesaikan bentuk dirinya
orang-orang meninggalkan dunia
lenyap keburukan-keburukannya
bertumbuh kebaikan-kebaikannya
keburukan dan kebaikan orang meninggal dunia
aku dan kamu menatap bening cermin
melambaikan tangan kanan
bayangan melambaikan tangan kiri
tidak akan pernah terpahami
kata yang batal terucap
diikuti bibir tersungging
atau hati tersinggung
selihai-lihainya aku dan kamu mengorek
orang meninggal dunia
sudah selesai bentuk dirinya
HARI KELAHIRAN AYAH
fajar mulai menyingsing
genta kayu di leher sapi-sapi ayah
mulai bising
perlukah aku menggelitik telapak kaki ayah
agar udara kusam bergegas beranjak
menguatkan jarak
tidak biasanya fajar membiarkan ayah
memicingkan mata
diganggu berisik kendaraan
terengah-engah mengantarkan
para pedagang ke pasar
jauh sebelum dini hari beringsut
memutar jarum jam dinding
mungkin seharusnya
sebelum ayah berangkat ke peraduan
aku tidak ragu mencekoki ayah
dengan arak terbaik
agar terpuaskan aku menampung
petuah lelaki yang takluk dirayu
perempuan yang menjadi ibuku
atau aku cabut bulu ibu jari kaki ayah
yang tertinggal beberapa helai
semoga ibu tidak beranjak
meninggalkan dapur
meski beras sudah direndam
untuk ditempelkan di dahi
pada perayaan peringatan
hari kelahiran ayah
RUANG KITA
gerak kita hanya di rumah dan di ladang
ada jalan setapak di antaranya
sesekali gemersik mengejutkan sepi kita
bisa jadi kadal sama terkejutnya dengan daun kering menjadi remah
menggemburkan tanah ladang hanya cangkul aku ayunkan
aku seperti bercakap-cakap memanen kesabaran
pernah ayah mengajarkan aku membajak sawah dan ladang
tidak mampu segaris lurus kaki sapi, mata bajak, dan kakiku
salah arah membawamu mendekat kepadaku
seperti debu terbawa angin pada mata telat terpejam
aku dan kamu tidak disediakan ruang menghindar
kesempatan itu baju kebesaran dibawa badai ke dasar lautan
mengenaskan
kita bukan pahlawan
bukan pecundang
jangan pernah bosan di ladang dan di rumah
bantu aku melatih anak-anak menangkap debu
.
Penulis: Komang Berata
Editor: Adnyana Ole



























