Jalan di sepanjang Banjar Binoh Kelod, Desa Adat Poh Gading, Denpasar Utara diwarnai dengan penjor putih dan kuning penuh makna dan filosofi. Warga banjar tampak berseri, cantic dengan mengenakan busana berwana putih dan kuning sebagai lambang kesucian dan kemuliaan atau kebijaksanaan serta keharmonisan alam semesta. Maklum, warga Banjar Binoh Kelod sedang melaksanakan Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, lan Wrhaspati Kalpa Agung bertepatan dengan Rahina Tumpek Wariga, Sabtu 25 Oktober 2025.
Selain dihadiri warga secara khusuk, upacara tersebut lebih dimaknai dengan mempersembahkan kesenian tradisional untuk persembahan, seperti Tari Topeng, Baris Gede, Rejang Dewa, dan Tari Rejang Sari. Semua tari itu diiringi oleh penabuh remaja penuh ketulusan. Di tengah ekpresi ketulusan para penari, beberapa warga hingga kerauhan, yang betul-betul menguatkan keyakinan kalau beliau memang ada.
Menariknya, para penari pada saat kerauhan itu tidak brutalis, tetapi melakukan agem-agem dewa, seperti lidah menjulur, air liur keluar dan lainnya. Ketika suasana khususk itu, warga yang kerauhan itu dibakar dengan api dupa dan banban kau. “Kalau ada orang yang mengaku dirinya dewa, maka warga berhak melakukan tes percobaan. Kami mengunakan dupa dan banban kau dalam menguji itu, yang lamanya apenginangan (sekitar lama mengunyah daun sirih),” kata Manggala Karya, Wayan Gede Kusuma Yasa.

Upacara yang dihadiri Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, Anggota DPRD Kota Denpasar serta tokoh masyarakat lainnya merupakan upacara Mancakelud yang merupakan pertama yang dilaksanakan di Banjar Binoh Kelod dengan tingkatan, seperti sekarang ini. “Upacara ini sebagai momentum awal untuk karya tiga puluh tahun yang akan dating,” tambah
Kusuma Yasa.
Pelaksanaan karya ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam semesta beserta isinya. Hal ini juga untuk menetralisir aura negatif yang mengganggu kehidupan manusia, khususnya krama Banjar Binoh Kelod, sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang aman damai gemah ripah loh jinawi. “Karya ini juga sebagai wujud syukur kepada sang Pencipta atas anugrah yang diberikan,” sebutnya.
Di dalam bentuk tindakannya, upacara ini menggunakan simbol atau yantra, yaitu memohon kepada Sang Pencipta untuk sebuah harmonisasi. Kalau melihat plutuk karya ini Wrhaspati Kalpa Agung, artinya untuk penguatan terhadap aspek materi di alam sekala atau disebut ibu pertiwi, sebelum nantinya ditedunkan atau diabiseka atau sering disebut ngenteg linggih, maka aspek materi yang ada di alam sekala itu harus dikuatkan lebih awal.
“Upacara ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam semesta beserta isinya serta menghindari seluruh umat manusia dari marabahaya, serta sebagai wujud syukur untuk senantiasa diberikan tuntunan dalam melaksanakan tugas kewajiban,” ucapnya.
Hari ini puncak karya bertepatan dengan Tumpek Bubuh yang memang odalan di Pura Ratu Bagawan Penyarikan, sehingga rentetan yang dilakukan hari ini menedunkan atau menurunkan spirit berasal dari sunia loka Ida Sesuwunan Bagawan Penyarikan. “Artinya, setelah Wrhaspati Kalpa Agung dilakukan akan memiliki pondasi yang kuat baik secara niskala ataupun sekala, maka pada saat itulah spirit yang lebih besar diturunkan,” paparnya.
Upacara dipuput oleh Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acarya Nanda dan Sang Pengrajeg Karya Ida Bhagawan Wajrasattwa Dwijananda dari Griya Kasogatan Mandala Banjar Liligundi, Desa Ubung Kaja. Hari ini melakukan puncak upacara, sehingga melakukan pangresikan dan pacaruan. Ida Bhatara diiring napak pertiwi menyentuh tanah.
Kusuma Yasa mengatakan, karya ini dirancang sejak 5 bulan lalu, yang dibagi menjadi tiga fase. Pertama perencanaan, diawali dengan pablibagan kecil dengan pendekatan Ida Sang Pangrajeg Karya untuk membahas jenis karya dan anggaran. Lalu diberitahukan kepada warga untuk disetujui. Kemudian dilanjutkan dengan tahap persiapan yang kurang lebih 4 bulan, mulai dari Juni 2025 dengan membuat uparengga, seperti membuat Pawaregan (dapur), tragtag dan panggung kecil.
Pada 17 Oktober melakukan pemarisudan, menyucikan mandala, pada 19 Okteber 2025 melakukan parikrama pengingsah, dan mapengalang sasih. Pada 23 Oktober melakukan pamelastian sekaligus mulang pakelem di Pantai Padanggalak dan ngamet Tirta Kamandalu, dilanjutkan dengan mendak siwi.
“Setelah puncak karya ini, besok warga akan melakukan ngalemekin dan melakukan bhakti penganyar. Ketika mandala sudah dibuat, maka ngelemekin atau pemupukan dilakukan agar kehidupan alam lebih subur. Kita mencoba menggambarkan mandala yang kita bangun untuk berharap ada kesuburan,” paparnya.
Bakti penganyar kedua dilakukan pada 27 Oktober 2025. Upacara dilengkapi dengan upacara akebat daun, dengan tujuan mandala yang sudah dibangun dan sudah melakukan pamupukan, diharapkan mulai tumbuh tunas-tunas yang nantinya akan digunakan untuk menopang kehidupan. “Akebat daun itu mekarnya daun-daun, sebagai tumbuhnya tunas-tunas baru. Upacara akan disineb pada 28 Oktober, dengan penyenukan dan proses ngaturang upacara Rsi Bhojana,” jelasnya.

Kelian Adat Wayan Sanjaya mengatakan, untuk menyambut karya besar ini, pihaknya memulai dengan membagikan tugas upacara kepada krama, sehingga krama akan menjadi lebih matang, sudah mengetahui posisi mereka dalan bertugas. “Saya sendiri berbahagia dan bersyukur kepada Tuhan yang beristana di Banjar Binoh Kelod khususnya Ratu Gede Penyarikan, upacara ini berjalan dengan lancar,” ucapnya.
Atas restu sesuwunan, krama banjar bersatu mengambil karya dengan tujuan yang sama, baik suka maupun duka. “Saya berharap selesainya upacara ini krama laki-laki dan perempuan dapat hidup berbahagia, berlimpah sandang pangan sesuai konsep Tri Hita Karana dengan tiga unsur, seperti beryadnya kepada Ida Sahyang Widi Wasa, menghormati sesama krama dan peduli terhadap lingkungan.
“Lingkungan ini sudah pasti bertujuan pada alam tumbuh-tumbuhan yang upacaranya bertepatan pada Tumpek Pengantag. Makna upacara ini adalah memupuk rasa persaudaraan. Pada 25 tahun lalu, sudah melaksanakan upacara, dan kini dilaksanakan dengan lebih besar. Kami akan membuat upacara ini sesurat, aturan alarm berbunyi 30 tahun untuk cucuk kita,” tutupnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto



























