SUATU malam pada acara arisan di tingkat RT (Rukun Tetangga), seorang tokoh masyarakat memberikan sambutan berupa wejangan atau nasihat kepada para warga. Ia mengingatkan agar warga selalu menjaga hati, agar tidak terserang penyakit hati yang merusak komunikasi sesama warga.
Tokoh masyarakat itu pun sambil bercanda memberikan contoh cerita: “Ada tetangga yang beli kulkas baru, orang lain kemropok (terbakar hatinya); ada tetangga yang beli sepeda motor baru, orang lain meriang; ada tetangga yang punya mobil baru, orang lain langsung pingsan”. Apa yang disampaikan tokoh masyarakat itu merupakan gambaran betapa mudah orang menjadi iri dan dengki kepada orang lain.
Iri dengki adalah penyakit hati. Sumbernya bisa bermacam-macam. Iri adalah perasaan tidak puas atau tidak senang terhadap keberhasilan atau kebahagiaan orang lain. Sedangkan dengki adalah perasaan marah atau benci terhadap keberhasilan atau kebahagiaan orang lain.
Dalam bahasa Arab, iri dan dengki disebut Hasad. Hasad adalah perasaan tidak senang atau iri hati terhadap kenikmatan atau keberuntungan yang dimiliki orang lain, serta keinginan agar kenikmatan tersebut hilang dari orang tersebut. Hasad adalah salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya. Iri dan dengki merupakan perasaan negatif yang mendalam, yang tidak hanya menginginkan kenikmatan orang lain hilang tetapi juga berharap kenikmatan tersebut berpindah kepadanya (Munawir, 2024).
Menurut Quraish Shihab (dalam Nazilah, 2020), iri hati dapat disebabkan oleh banyak hal. Dengki dan iri hati antara lain dapat muncul karena keangkuhan. Orang merasa bahwa orang lain tak berhak memiliki suatu nikmat, melainkan dirinya yang patut mendapatkannya.
Persaingan dapat menjadi pemicu orang merasa iri dan dengki. Persaingan bisa dalam hal materi maupun nonmateri. Di sini, iri hati muncul akibat ketidakmampuan menyamai atau melebihi orang lain yang disaingi itu. Rasa iri ini disertai dengan ketakutan yang berlebihan, lantaran tidak mampu memiliki apa yang dipunyai orang lain.
Watak buruk juga menjadi salah satu sebab perasaan iri dan dengki. Watak ini mengantar seseorang iri terhadap orang lain tanpa suatu sebab. Inilah jenis iri hati yang terburuk. Sebab, watak sulit untuk berubah, sehingga orang akan tetap selalu merasa iri dengki atas kenikmatan yang dimiliki orang lain.
Bukan hanya menimpa orang biasa, mereka yang kaya, pejabat, dan kaum terdidik pun dapat terserang iri dengki. Seseorang yang mendapat promosi jabatan di perusahaan atau instansi pemerintah dapat membuat iri dengki rekan kerjanya.
Begitu pula di kampus. Capaian jabatan struktural dan akademis yang diperoleh dosen dapat membuat iri dengki dosen lain. Padahal kampus adalah entitas akademis yang menjunjung tinggi rasionalitas dan intelektualitas, bukan mengedepankan emosional dan pemikiran dangkal.
Penyakit Hati
Iri dengki atau hasad memang penyakit hati. Ciri orang yang iri dengki adalah tidak merasa senang ketika melihat orang lain mendapatkan nikmat. Bukannya ikut senang atas prestasi maupun nikmat yang diperoleh orang lain, mereka yang iri dengki sering kali membicarakan keburukan atau kekurangan orang (Munawir, 2024).
Orang yang iri dengki selalu menghindari untuk memberikan pujian atau pengakuan terhadap kebaikan orang lain. Pertanda yang parah dari penyakit hati ini adalah orang senantiasa akan melakukan sabotase, berusaha untuk menghalangi atau merusak kenikmatan yang dimiliki orang lain.
Dampak iri dengki bisa bersifat personal dan sosial. Secara personal, orang sulit mendapat kebahagiaan. Orang yang selalu iri dengki akan selalu merasa tidak puas, stres, dan depresi lantaran senantiasa merasa kurang saat membandingkan dengan orang lain.
Sifat iri dan dengki secara personal akan menghambat kemajuan seseorang. Alih-alih berupaya meraih prestasi, orang yang iri dan dengki lebih fokus pada keberhasilan orang lain serta memandangnya dari sisi negatif.
Penyakit hati ini secara sosial juga berdampak pada rusaknya hubungan antarpersonal serta berpotensi menciptakan konflik. Saudara bisa menjadi musuh, teman dapat menjadi lawan ketika hubungan sosial dilandasi oleh iri dan dengki. Energi sosial habis untuk permusuhan. Empati sosial rendah, karena orang tak peduli dengan apa yang dirasakan orang lain.
Masalah Komunikasi
Iri dan dengki memang acapkali menimbulkan banyak masalah. Indonesia akan sulit menjadi negara maju dan bersaing dengan negara lain. Celakanya, iri dan dengki menjadi bagian dari interaksi masyarakat Indonesia setiap harinya. Komunikasi interpersonal dan sosial banyak diwarnai dengan perasaan iri dengki antarsesama.
Komunikasi menjadi tidak efektif. Prasangka negatif selalu menyertai dalam setiap proses komunikasi. Andai pun orang melakukan kritik kepada orang lain, kritik itu tidak bersifat konstruktif karena hanya mencari kesalahan orang lain.
Masalah menjadi kian parah ketika fitnah dan kabar bohong menjadi bagian dari komunikasi antarmanusia. Jika ada yang mengatakan, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan, itu nyata adanya. Fitnah dapat membunuh karakter seseorang, membunuh karir seseorang, dan membunuh masa depan orang lain. Dan orang yang melontarkan fitnah tak pernah merasa bersalah, karena dilandasi iri dan dengki.
Kabar bohong, bergunjing, dan menggosip tentang orang lain menjadi penyakit dalam berkomunikasi. Senada dengan fitnah, kabar bohong pastinya bertujuan menjatuhkan reputasi dan kredibilitas orang lain.
Melihat orang lain sukses, orang yang iri dengki akan menyiarkan kabar bohong bahwa kesuksesan orang lain itu karena koneksi, nepotisme, atau pun suap. Kabar bohong tentulah tidak benar. Namun jika sering diucapkan dan diceritakan, kabar bohong akan dianggap benar oleh orang yang mendengarnya.
Hal sepele kadang bisa menimbulkan fitnah dan kabar bohong. Pekerja pria yang mengajak makan siang rekan kerja wanitanya di saat jam istirahat dapat difitnah berselingkuh. Seorang bawahan yang menemani atasan ke sebuah pertemuan bisnis dapat difitnah sebagai cari muka, menjilat, atau mengemis jabatan. Bagi orang yang iri dan dengki, apa pun dapat menjadi biang fitnah dan kabar bohong.
Alih-alih iri dan dengki, ikut mensyukuri nikmat yang diperoleh orang lain justru dapat menghindarkan diri dari penyakit hati. Saatnya menata pikiran, menata hati, dan mengelola komunikasi dengan niat baik. Indonesia akan lebih maju jika terbebas dari orang-orang iri dan dengki. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU


























