SECARA pribadi, saya punya hubungan emosional dengan SMPN 1 Denpasar. Pasalnya, Natya putri saya – siswinya Pak Guru GM Sukawidana –adalah alumni sekolah ini. Setiap lewat sekolah ini, kenangan indah senantiasa membayang.
Saya bangga, karena setiap upacara bendera, putri saya selaku pianis, selalu menggiringi lagu-lagu wajib. Lebih bangga lagi, dengan ketrampilannya bermain musik – Natya, dan tiga temannya, mendirikan 4 Children Community.
4 C ini dibentuk untuk aktifitas peduli Gempa Bumi di Padang. Komunitas ini mengumpulkan teman-temannya yang terampil bermain musik, untuk mengadakan konser amal, bagi korban gempa Padang saat itu.
Pasalnya, saat itu, beberapa anak SMP Negeri 1 Denpasar, yang polos, jujur, dan mencerminkan dunia batin yang masih berkembang – melihat runtuhnya sebuah sekolah SMP di Padang dari media sosial . Itu, sekolah bagi teman-teman sebayanya di Nun. Mereka, lalu ‘merajut’ kepedulian sesama, dengan ‘keprihatinan yang riang’.
Saat mengenang masa indah ‘wilayah kanak’, saya terhentak oleh berita yang tak terbayangkan, KST (15), siswa SMPN 1, melakukan tindak bunuh diri pada tanggal 16 Oktober 2025. Mungkin, ini korban bunuh diri termuda di Bali.
Sehari sebelumnya, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unud berinisial TAS. Juga melakukan bunuh diri dengan melompat dari ketinggian gedung lantau 2 (15/10/2025). Belum terlalu jelas penyebab TAS maupun KST nekat bunuh diri.
Di antara riuh nostalgia yang membayang di benak saya tentang suara bel sepulang sekolah, dan kemeriahan Mind Consert for West Sumatra, tiba-tiba ada jeda yang menganga – sebuah kehilangan yang tak bisa dijelaskan hanya dengan angka usia atau tanggal kejadian.

Wilayah kanak, dalam ingatan kolektif kita, adalah ruang yang seharusnya aman. Tempat di mana rasa ingin tahu tumbuh, di mana kegagalan belum menjadi vonis, dan di mana tangis masih bisa dipeluk tanpa malu, meski haru.
Namun, ketika seorang anak memilih untuk mengakhiri hidupnya, kita dipaksa untuk bertanya – apakah wilayah kanak itu benar-benar ada, atau absurd belaka? Ataukah kita hanya mengidealkannya, sementara realitas anak-anak hari ini penuh tekanan, tuntutan, dan kesepian yang tak terlihat?
KST bukan sekadar nama atau inisial. Ia adalah representasi dari anak-anak yang (mungkin) tak terdengar. Yang mungkin terlalu cepat diminta dewasa, terlalu sering dibandingkan, atau terlalu lama dibiarkan sendiri. Ia adalah cermin dari sistem yang gagal merawat, dari masyarakat yang lebih sibuk menilai daripada mendengarkan.
Dalam dunia seni, tragedi seperti ini sering menjadi titik tolak penciptaan, bukan untuk mengeksploitasi, tetapi untuk mengingatkan. Seandainya wilayah kanak bisa dipamerkan, mungkin ia akan berisi lukisan-lukisan yang retak, boneka yang kehilangan mata, atau suara tawa yang terputus di tengah. Sebuah konser sunyi, di mana kata ganti seperti “aku”, “kamu”, dan “dia” saling bertukar peran dalam kesedihan yang tak sempat diucapkan.
Dalam sastra dan filsafat, tokoh-tokoh seperti Hamlet, Kirilov (Dostoyevsky), atau bahkan Pramoedya Ananta Toer, sering menggambarkan bunuh diri sebagai bentuk protes, eksistensialisme, atau kehilangan makna. Dalam konteks ini, bunuh diri bukan hanya tindakan pribadi, tapi juga refleksi dari kegagalan kolektif memahami penderitaan.

Saya ingin, esai ini terbagi untuk kita semua – orang tua, guru, seniman, pemimpin, psikolog, tenaga media terkait, adik-adik Gen Z, dan warga biasa – untuk bertanya : bagaimana kita ikut bertanggung jawab? Bukan dengan menyalahkan, tapi dengan merawat. Dengan hadir. Dengan menciptakan wilayah kanak yang bukan hanya indah dalam ingatan, tapi nyata dalam kehidupan.
Karena setiap anak yang hilang, bukan hanya tragedi keluarga, tapi juga kegagalan kita sebagai masyarakat. Dan setiap esai, setiap karya seni, setiap pelukan, bisa menjadi bagian dari konser kecil untuk mengenang, merawat, dan mencegah – terjadinya hal-hal negatip, seperti bunuh diri.
KST danAnak-anak lainnya tidak lahir dengan beban. Mereka datang ke dunia dengan mata bening untuk menikmati keindahan dunia, dengan tangan yang kelak mampu menjangkau segala.
Mereka percaya bahwa langit bisa digambar ulang, bahwa hujan adalah teman bermain, dan bahwa setiap luka bisa sembuh dengan pelukan kasih. Namun dunia yang kita bangun, perlahan-lahan, mengajari mereka tentang sunyi.
Sunyi itu tidak datang tiba-tiba. Ia merayap lewat kata-kata yang tak didengar, lewat tawa yang dibalas dengan tuntutan, lewat pertanyaan yang dijawab dengan “tak.” Anak-anak menyimpan sunyi di balik gambar-gambar yang mereka coretkan, di balik lagu-lagu yang mereka gumamkan sendiri, di balik kamar yang semakin lama semakin sepi.

Kita sering menyebut masa kanak sebagai masa emas. Tapi emas macam apa yang kita berikan? Apakah emas itu berupa nilai rapor, prestasi lomba, atau pujian yang hanya datang saat mereka ‘menang’? Di mana ruang bagi kegagalan yang tidak dihukum, bagi kesedihan yang tidak ditertawakan, bagi pertanyaan yang tidak terjawab?
KST, lima belas tahun, memilih pergi. Saat ini, Ia satu-satunya (usia kanak), dan ia menjadi penanda. Bahwa sunyi yang disimpan anak-anak bisa menjadi jurang. Bahwa kita, orang dewasa, tidak cukup hadir. Kita terlalu sibuk untuk didengar – menjadi guru, orang tua, pemimpin, seniman, aktivis, hingga lupa menjadi pendengar.
Esai ini bukan untuk mengutuk, tapi untuk mengundang. Mengundang kita semua untuk membuka ruang. Ruang di mana anak-anak bisa berkata “aku lelah”, tanpa ditolak dan diabaikan. Ruang di mana mereka bisa gagal tanpa kehilangan cinta. Ruang di mana mereka bisa menangis tanpa harus menjelaskan alasannya.

Karena anak-anak tidak butuh dunia yang sempurna. Mereka butuh dunia yang mendengar. Dunia yang mau duduk di lantai bersama mereka, menggambar langit dengan krayon, dan berkata, “Aku di sini. Aku mendengarmu.”
Anak-anak adalah bagian paling jujur dari masyarakat. Mereka belum sepenuhnya dibentuk oleh norma, belum sepenuhnya dibebani oleh tuntutan, dan belum sepenuhnya memahami dunia yang mereka masuki. Namun justru karena itulah, mereka paling rentan. Rentan terhadap penolakan, terhadap kesepian, terhadap sistem yang tidak memberi ruang untuk mendengar.
Dalam kehidupan sehari-hari, menurut saya, anak-anak sering dianggap hanya sebagai pelengkap. Mereka hadir di ruang keluarga, di sekolah, di tempat ibadah, tetapi jarang benar-benar didengarkan.
Ketika mereka marah, kita menyebutnya tantrum. Ketika mereka sedih, kita bilang mereka terlalu sensitif. Ketika mereka bertanya, kita jawab seadanya. Padahal, di balik semua itu, ada dunia batin yang sedang tumbuh – dan bisa retak kapan saja.
Sunyi adalah sesuatu yang tidak terlihat. Ia tidak berteriak, tidak memukul, tidak mengganggu. Tapi ia menetap. Anak-anak menyimpan sunyi dalam bentuk yang berbeda-beda, ada yang diam di kelas, ada yang menulis di buku harian, ada yang menatap kosong ke luar jendela. Dan jika kita tidak hadir sebagai pendengar, sunyi itu bisa berubah menjadi luka yang dalam.
‘Ruang dengar’ adalah konsep yang sederhana namun penting. Ia bukan hanya soal mendengar kata-kata, tetapi juga memahami ‘arti’, merespon dengan ‘empati’, dan memberi waktu. ‘Ruang dengar’ bisa berupa percakapan di sore hari, pelukan tanpa syarat, atau sekadar kehadiran yang tidak menghakimi. Di ‘ruang denga’, anak-anak bisa menjadi diri mereka sendiri – tanpa takut salah, tanpa takut gagal.
Tragedi seperti bunuh diri seorang anak, seperti yang terjadi pada KST di Bali, adalah alarm keras bagi kita semua. Ia bukan hanya soal satu individu, tetapi soal sistem yang tidak cukup peduli. Ia menunjukkan bahwa kita perlu membangun lebih banyak ruang dengar, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat.
Saya ingin mengajak semuanya, untuk melihat anak-anak bukan sebagai objek pendidikan atau penerus generasi, tetapi sebagai manusia utuh yang punya hak untuk didengar. Karena mendengar bukan hanya soal telinga, tetapi soal hati. Dan anak-anak, dengan segala kelembutan dan kerentanannya, layak mendapatkan ruang itu.
Natya, saat menulis tulisan ini, aku merasa selalu ada di dekatmu, di depan piano, atau menikmati permainan biolamu di konser mu. Bisa juga nongkrong di café, sambil mendiskusikan ThaiTea, atau Macha coffee kegemaranmu.

Aku juga kangen cerita-cerita mu, usai kau baca komik tokoh-tokoh musik dunia. Bisa juga sambil diskusi ekonomi, dan mendiskusikan quotemu “We Learn Art Not Because We Want To Be An Artist, But Because We Are Part of Human Being”. Eh……aku kangen banget ama rambut kepang kembar mu dulu itu.
Baiknya, untuk mengobati kerinduan itu – kupetikkan puisi om Umbu ya. agar kita terkenang saat beliau menyantap lahap sop ikan kegemarannya, di ruang makan kita ;
(…..//sunyi bekerjalah kau bagi nyawaku risau//risau nyawaku bagi kau bekerjalah sunyi//…) [T]


























