DI tengah hiruk-pikuk kampus Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, aroma lumpia goreng yang renyah dan gurih selalu menjadi magnet bagi para mahasiswa yang lapar. Penjualnya? Bapak yang akrab disapa Pak Dewa di kampus. Di kampung halamannya di Klungkung, ia dikenal sebagai Aji Sanes. Lahir tahun 1975 dan kini berusia 50 tahun, Pak Dewa bukan sekadar pedagang lumpia. Ia adalah cerita hidup tentang ketekunan, keluarga, dan rasa yang tak tergantikan, yang telah mewarnai rutinitas kampus sejak 2001.
Perjalanan Pak Dewa dimulai jauh sebelum ia menetap di halaman UPMI. Sejak 1992, ia sudah bergelut dengan dunia lumpia, tapi hidupnya penuh percobaan. Pernah jadi bawangkot di Batu Bulan, Klungkung, sempat merantau ke Jawa sebagai kenek bus, hingga keliling Denpasar jualan lumpia sebelum menetap di ibu kota Bali itu pada 2000.
“Dulu saya coba pekerjaan ini-itu, tapi yang bikin betah ya itu, jualan lumpia karena nggak ada yang mengikat,” ceritanya dengan tawa khasnya.
Di desa, tanggung jawab adat sebagai klian banjar dan bekerja di BPD membuatnya sulit terikat jadwal kerja kantor. Berjualan lumpia memberinya kebebasan: pulang-pergi dari Klungkung ke Denpasar setiap hari, sambil mengurus ternak babi satu-dua ekor di kampung sebagai sambilan. Istri tercintanya pun ikut berjuang, berjualan lumpia di Pasar Galiran Klungkung dari pagi lalu sekitar pukul sembilan atau sepuluh langsung balik ke rumah, meski dulu sempat jadi tukang jarit.
Keempat anak Pak Dewa, semuanya perempuan, menjadi motivasi utama. Satu sudah wisuda, satu lagi kuliah perhotelan, sisanya masih sekolah.
“Saya cuma mau mereka sekolah tinggi,” ujarnya sederhana.

Pak Dewa sendiri hanya tamat SD karena jarak SMP 15 kilometer dulu terlalu jauh, angkot berdesak-desakan, dan ekonomi keluarga minim. SMA? 20 kilometer lagi, mustahil. Merantau ke Denpasar justru membuka mata: ada SMP dekat, 2 kilometer saja. Kini, melihat mahasiswa UPMI, ia tersenyum bangga.
“Melihat adik-adik mahasiswa, saya juga harus mampu membuat anak-anak masuk perguruan tinggi semua.”
Rahasia lumpia Pak Dewa? Bukan sulap, tapi ketulusan dan kesegaran bahan. Kulitnya dibuat dari 80% tepung terigu, dicampur air dan sedikit garam hingga adonan tipis dan elastis, lalu diisi sayur segar seperti kol, wortel, dan tauge yang ditumis ringan. Bumbunya khas: gula Bali yang manis legit, bawang putih halus, petis udang pekat, serta tauco yang asin gurih—semua direbus jadi sambal kental yang meresap sempurna. Dulu ia belajar resep ini selama setahun dari senior, tapi puluhan tahun berlalu, kini ia buat sendiri di rumah bersama istri.
“Bahan harus asli, jangan pemanis buatan, dan jangan diinapkan. Lumpia nggak boleh diinapkan, harus baru semua biar renyah dan enak,” tegasnya.
Hari biasa di kampus, dagangan bisa terjual 500-600 ribu rupiah dari lumpia, tahu, tempe—semua ludes, tanpa hitung-hitungan ketat karena dibuat hati-hati. Tapi berjualan tak selalu mulus. Tantangan terbesar? Cuaca. Musim hujan, terutama akhir tahun, bikin jualan keliling di pantai sepi total. “Lumayan berat,” akunya.
Pak Dewa menjelaskan tantangan berjualan di luar kampus, jualan keliling, pasti lah tantangannya itu cuaca apalagi mau mendekati akhir tahun pasti hujan dan itu sangat menjadi tantangannya. Karena jualan di pantai pasti jarang bahkan tidak ada yang membeli pada musim hujan. Kalau di kampus tantangannya adalah, semenjak usai corona (maksudnya pandemi Covid19) itu sedikit ada yang datang, biasanya kadang-kadang mahasiswa diberitahu ada kelas besoknya tetapi mendadak online, jadilah tidak jadi datang ke kampus, Pak Dewa sebagai pedagang lumayan merasakan sepi.
“Dulu sebelum 2019, saya hapal jadwal kuliah. Mereka tetap datang meski dosen tiba-tiba tidak jadi mengajar, karena belum ada online. Sekarang untungnya kembali ramai,” ujarnya.
Kejadian lucu sampai pedih pun pernah ia alami. Ia bercerita sambil mengingat kembali. Ketika hujan deras di kampus, ia terjatuh, punggung tersiram bumbu panas, lumpianya berserakan sampai mengganggu aktivitas mahasiswa olahraga. Atau saat upacara ngaben di Desa Siangan, ia juga tergelincir ke kali—lumpia hanyut, uang hilang, ditonton ribuan orang. “Dibilang lucu iya sedih jugaiya,” candanya sambil tertawa, menunjukkan keramahannya yang terbuka terhadap semua pengalaman yang ia pernah alami.
Interaksi dengan orang-orang di kampus jadi obat penawar. Pak Dewa sudah kenal dosen dan mahasiswa lama, ngobrol santai sambil melihat mahasiswa yang sibuk skripsian atau bimbingan.
“Enaknya, lumpia ludes, lalu bergurau bareng. Plong rasanya, nggak ada beban,” katanya. Ia tak muluk: umur 50, nasib begini, cukup sehat dan anak-anak sekolah. Pesan untuk mahasiswa? “Jangan tiru Pak jualan seperti ini. Rajin belajar, capai cita-cita!”
Mahasiswa pun tak kalah antusias. Ni Made Satyawati, mahasiswi Bahasa Indonesia, bilang Pak Dewa bukan pedagang biasa, tapi “bagian cerita keseharian kami.” Ramah, murah senyum, beli lumpia rasanya beli semangat juga. “Renyah gurih, bumbu pas, tempe bikin nambah terus. Rasa rumahan, tulus dari tangan sabar.” Ia doakan Pak Dewa sehat, rezeki lancar, dan saran yang Tya sampaikan, yaitu tambah varian pedas—tapi jangan ubah rasa sederhana yang bikin kampus hidup.
Sabina Sanji Putri, alumni baru lulus, kagum dengan keunikannya: lumpia biasa di pantai atau lapangan, jarang di kampus. “Pak Dewa sosok pekerja keras, sabar melayani pelanggan, bumbu manisnya pas buat pecinta seperti saya.”
Lalu staf perpustakaan Fakultas Bahasa dan Seni juga menambahkan, “Langganan seluruh kampus, murah, gurih, bumbunya lezat!”
Mira, salah satu mahasiswi jurusan matematika ini juga menyampaikan pendapat tentang Pak Dewa seorang penjual lumpia di kampus bahwa ia adalah sosok yang konsisten dalam berjualan lumpia dan dia bisa menguliahkan anak-anaknya melalui jualan lumpia ini.
Pak Dewa dan lumpianya bukan cuma makanan—ia simbol ketangguhan, yang renyah di luar, hangat di hati. Di era serba online ini, kehadirannya ingatkan kita: rasa autentik lahir dari perjuangan nyata. [T]
- Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co
Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole



























