6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
October 6, 2025
in Esai
Manusia Bali di Tengah Paradoks Pesona dan Luka

Sumber Foto: Kolase dari penulis

BUKU “Kelemahan dan Kekuatan Manusia Bali (Sebuah Otokritik)” karya Made Kembar Kerepun, yang disunting oleh Jiwa Atmaja, adalah sebuah karya yang unik sekaligus berani. Jarang sekali kita menemukan sebuah buku yang menyoroti watak kolektif suatu masyarakat dengan jujur, bahkan cenderung telanjang, tanpa basa-basi. Buku ini tidak ditulis untuk meninabobokan orang Bali dengan pujian atau romantisasi budaya, melainkan sebaliknya: menjadi cermin yang kadang membuat kita tidak nyaman saat menatapnya.

Di awal buku, penulis menggarisbawahi bahwa salah satu kelemahan paling mencolok dari orang Bali adalah enggan menerima kritik dan kurangnya tradisi otokritik. Orang Bali lebih suka menerima pujian, tetapi cepat tersinggung ketika kelemahan dirinya disorot. Sikap mental seperti ini, menurut Kerepun, berimplikasi panjang: masalah-masalah mendasar dalam kehidupan masyarakat seringkali dibiarkan berlarut-larut, tidak pernah diselesaikan secara tuntas, hanya ditutup dengan seremonial atau euforia sesaat.

Buku ini lalu memetakan kelebihan sekaligus kelemahan watak orang Bali, disertai pelajaran dari sejarah bangsa lain. Misalnya, ada bab khusus tentang “Pariwisata Bali Belajar dari Keterpurukan Etnis Hawaii”. Di sana, penulis menekankan bahwa orang Bali seharusnya bercermin dari pengalaman Hawaii, yang pernah kehilangan kendali atas tanah, budaya, dan identitasnya karena serbuan pariwisata dan kapitalisme global. Peringatan ini terasa relevan sekali bila kita bandingkan dengan situasi Bali hari ini: tanah sawah dan tegalan dijual menjadi vila, pura-pura di sekitar destinasi wisata terdesak oleh kepentingan ekonomi, dan krisis lingkungan semakin nyata.

Salah satu kekuatan orang Bali, menurut buku ini, adalah kemampuan menjaga harmoni sosial melalui adat, agama, dan budaya. Sistem banjar, desa adat, dan tradisi gotong royong adalah modal sosial yang luar biasa. Namun, di sisi lain, kekuatan ini bisa berubah menjadi kelemahan ketika solidaritas lebih dipakai untuk menutup mata terhadap penyimpangan, atau ketika adat justru dijadikan alat legitimasi kekuasaan. Pertanyaan reflektif pun muncul: apakah struktur adat Bali saat ini benar-benar menjadi pelindung masyarakat, atau justru perlahan dikooptasi oleh kepentingan politik dan ekonomi?

Dalam bab-bab lain, Kerepun juga menyinggung mentalitas ketergantungan dan kecenderungan untuk cepat puas. Orang Bali sering merasa sudah cukup hebat karena pariwisatanya mendunia, karena budayanya dipuji, dan karena Bali menjadi ikon global. Tetapi mentalitas puas diri ini berbahaya. Bali kini menghadapi tantangan serius: kemacetan parah, sampah menumpuk, air tanah menyusut, dan krisis lingkungan yang kian meruncing. Bila masyarakat hanya terbuai dengan pujian tanpa berani mengakui kelemahan diri, bukan tidak mungkin Bali akan mengalami “keterpurukan etnis” sebagaimana pernah terjadi di Hawaii.

Buku ini menekankan pentingnya introspeksi kolektif. Orang Bali, bila ingin tetap bertahan dalam pusaran globalisasi, harus berani melakukan otokritik. Misalnya, dalam dunia pendidikan, apakah generasi muda Bali masih dibekali dengan kekuatan moral dan kearifan lokal, atau justru dibiarkan larut dalam budaya instan dan pragmatis? Dalam dunia pariwisata, apakah Bali berani menata ulang model pembangunan agar lebih berkelanjutan, atau tetap mengejar angka kunjungan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan?

Refleksi ini semakin relevan bila dikaitkan dengan kondisi Bali pasca banjir besar September lalu yang menelan korban jiwa dan merusak infrastruktur serta rumah-rumah warga. Bencana itu menyadarkan kita bahwa persoalan Bali bukan hanya soal pariwisata dan budaya, tetapi juga kerentanan ekologis. Alih fungsi lahan, pembangunan yang tidak terkendali, serta abainya pemerintah dan masyarakat terhadap tata ruang membuat Bali semakin rentan terhadap bencana alam. Apa yang diingatkan Kerepun dalam bukunya—tentang kelemahan orang Bali yang sering enggan mengkritisi diri dan hanya menyelesaikan masalah secara seremonial—terbukti masih terjadi. Setelah banjir reda, kita kembali larut dalam rutinitas tanpa ada upaya serius membenahi akar masalah.

Buku Kerepun juga menyinggung soal kepemimpinan. Ia menyoroti kelemahan para pemimpin Bali dari zaman kerajaan hingga era modern. Kritik ini sangat tajam, sebab kepemimpinan di Bali kadang lebih sibuk dengan simbol-simbol budaya ketimbang mencari solusi substantif. Kita bisa melihat kenyataan hari ini: dikotomi dresta versus sampradaya yang memecah belah, pembangunan besar-besaran yang mengorbankan lahan produktif, atau konflik antara adat dan investor yang sering tidak jelas penyelesaiannya. Semua itu adalah cermin dari kelemahan kepemimpinan, yang seharusnya belajar dari otokritik seperti dalam buku ini.

Namun, otokritik bukan berarti pesimisme. Buku ini juga menyajikan harapan: bila orang Bali mau mengakui kelemahan dirinya, lalu mengelolanya dengan kesadaran kritis, maka kekuatan budayanya dapat menjadi modal luar biasa. Bali bisa menjadi model dunia tentang harmoni antara tradisi dan modernitas, antara spiritualitas dan pembangunan. Modal dasar seperti Tri Hita Karana, gotong royong, dan kesenian yang mendidik seharusnya tidak hanya dijadikan jargon, melainkan benar-benar dihidupkan dalam kebijakan publik.

Membaca buku ini di tengah kondisi Bali yang penuh paradoks—antara budaya agung dan krisis ekologis, antara pariwisata kelas dunia dan bencana banjir yang menelan korban jiwa—membuat kita tersadar bahwa introspeksi adalah jalan satu-satunya. Bali tidak boleh hanya menari di panggung global sambil meratap di halaman rumah sendiri.

Kerepun seakan mengajak kita semua, baik orang Bali maupun mereka yang mencintai Bali, untuk jujur melihat kenyataan: memuji keindahan sah-sah saja, tetapi keberanian mengakui kelemahan jauh lebih penting demi masa depan.

Buku “Kelemahan dan Kekuatan Manusia Bali” layak disebut sebagai salah satu karya reflektif paling penting tentang Bali modern. Ia bukan buku akademis kaku, melainkan otokritik yang mengajak pembacanya bercermin. Bagi generasi muda Bali, buku ini adalah peringatan agar tidak larut dalam euforia budaya yang dipuji dunia, melainkan berani mengoreksi diri dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.

Dan bagi kita yang mencintai Bali, buku ini mengingatkan: Bali bukan hanya destinasi wisata, melainkan tanah air dengan manusia, budaya, dan alam yang perlu dijaga dengan kesadaran kritis. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis AGUNG SUDARSA
Suara Rakyat, Suara Tuhan: Belajar dari Robohnya Tembok GWK
Tags: Bukubuku baliManusia Baliorang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Peluncuran Buku Puisi Film Kebangkitan: Puisi Menyapa Film, Film Menyapa Puisi

Next Post

Manusia Bali Membunuh Bali?

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Manusia Bali Membunuh Bali?

Manusia Bali Membunuh Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co