6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

Mansurni Abadi by Mansurni Abadi
October 3, 2025
in Esai
Menyadari dan Resah Terhadap yang Politik

TIDAK ada satupun aspek kehidupan yang dapat  lepas dari politik. Itu adalah fakta yang harus kita sadari. Menurut Aristoteles  dalam bukunya The Politics disebutkan bahwa politik merupakan jalan untuk mengoptimalkan kehidupan bersama sehingga aktualisasi diri dan fungsi optimal individu secara kolektif dapat berlangsung dengan baik. Dalam istilah Yunani, melalui tindakan mengatur (archein) dan diatur (archesthai) yang bakal berdampak di kehidupan kita.

Bahkan agama dan budaya yang katanya dilarang untuk dipolitisasi juga tidak lepas dari politik. Agama misalnya,  menurut filsuf Roger Scruton, dalam artikelnya berjudul Must Religious Duty Conflict With Political Order? (2020) menegaskan reposisi agama dalam politik tidak mesti akhirnya mendirikan negara agama, yang memaksakan keyakinan suatu agama terhadap agama lain, tetapi reposisi agama itu dari sudut moral dan etika publik. Toh, ketika agama masih dianggap sebagai sumber kebaikan yang dapat  diterapkan, menjadi wajar kiranya agama harus  berfokus pada kontribusi terhadap keadilan dan kebaikan bersama dalam masyarakat yang majemuk.

Sementara pada konteks kebudayaan, kalau dicermati politik juga tidak lepas dari dari ruang kebudayaan.  Sehingga ada istilah politik kebudayaan yang dipertahankan melalui berbagai produk budaya yang berfungsi mempertahankan kekuasaan atau justru menghadapi kekuasaan. Sebagaimana I Nengah Duija dalam bukunya Tokoh Sabdopalon; Rekontruksi Pemaknaan Politik kebudayaan Hindu-Islam di Jawa (2015), menyebutkan produk budaya dapat menjadi wacana tanding  terhadap hegemoni pusat kekuasaan sehingga memungkinkan munculnya “penggugatan” secara fisik terhadap hegemoni suatu kelompok atau kekuasaan tertentu.

Diksi politisasi juga jangan dimaknai sebagai dorongan anti politik apalagi dengan anjuran “tidak semua hal perlu dipolitikkan”. Perlu ada pembedaaan antara politik dari Harold Lasswell, bahwa politisasi dapat diidentifikasi sebagai manipulasi simbol dan isu untuk membentuk persepsi publik secara sepihak. Dan hal itu berbeda dari sikap politik, yaitu posisi rasional individu terhadap kebijakan berdasarkan teori Demokrasi Deliberatif Habermas, yang dalam alam konteks politik dan demokrasi, ditandai dengan upaya untuk mendengarkan sudut pandang yang berbeda yang berbasis dengan alasan yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan serta bersedia berbenah jika diberikan demi kebaikan bersama .

Dengan demikian, membedakan kedua konsep ini mencegah masyarakat terjebak dalam sinisme yang anti-politik, dan justru mendorong partisipasi kritis dalam ruang publik yang sehat.  Tapi sayangnya, ketika politik masuk ranah praktik, dimana ikhitiar tersebut harus berbenturan dengan  berbagai masalah yang kesemuanya itu bermula dari adanya “ruang hampa” antara yang diberi amanah (pihak yang berkuasa) dengan yang memberi (rakyat). Kondisi itu pada akhir  terlihat pada masa-masa kritis dan akhirnya makin membenarkan anggapan jika politik sudah jauh dari kemanusiaan.

Sebagai warga negara, ruang hampa inilah yang perlu kita  kritik, jika terus terpelihara maka politik akan semakin jauh dari kemanusiaan yang hanya menghasilkan  Kalau kita cermati ruang hampa akan ini ada karena politik kurang keteladan, paradigma, pendidikan, masih tersekat oligarki, dan tunduk pada kuasa global sehingga tidak ada kemerdekaan pada dirinya sendiri.

Dan ironisnya lagi keterasingan politik dari subtansinya ini,  terus menerus dibangun diatas prasangka politik dalam bentuk oposisi yang biner nan sempit, seperti yang dikatakan oleh Norberto Bobio dalam left and right : the significance of a political distinction (2012), yaitu nalar perbedaan antogonistik antara dua pihak seperti pemerintah vs rakyat, dimana satu pihak menganggap dirinya maju, terdidik, dan lebih berkuasa.  sementara rakyat anya  menjadi pihak yang paling rendah, yang harus selalu  berada  pada posisi yang di injak, di hina, dan di abaikan bahkan dimanipulasi yang hanya diperlukan suaranya ketika momentum elektoral.

Maka dalam kondisi politik yang sedemikian, kita sebagai rakyat perlu terus resah dan sadar politik. Resahnya terhadap politik sebagai rakyat biasa adalah sikap yang krusial karena politik, dalam esensinya, adalah arena perebutan kekuasaan yang akan menentukan nasib kehidupan kolektif, sebuah realitas yang dijelaskan secara berseberangan oleh dua teori politik fundamental yaitu Teori Elit yang sinis dan Pluralisme yang idealis.

Teori Elit, yang diasosiasikan dengan pemikir seperti Gaetano Mosca dan Robert Michels, pernah berargumen jika dalam masyarakat mana pun, hanya segelintir minoritas yang terorganisir (elit) yang pada akhirnya akan memegang kekuasaan nyata, sementara mayoritas (rakyat) hanya menjadi objek yang diperintah, sebuah realitas yang digambarkan dalam “Hukum Besi Oligarki”; dalam pandangan ini, ketidakresahan publik akan menyebabkan kekuasaan elit menjadi absolut dan sewenang-wenang.

Sebaliknya, dalam teori Pluralisme yang dikemukakan oleh Robert Dahl justru menawarkan narasi yang lebih optimis dengan melihat politik sebagai pasar bebas di mana berbagai kelompok kepentingan bersaing secara demokratis untuk mempengaruhi kebijakan, dan kekuasaan pemerintah didistribusikan secara luas; namun praksis dari teori ini perlu menempatkan tanggung jawab besar pada setiap warga untuk aktif bersuara dan berorganisasi, karena jika rakyat biasa pasif,  maka “pasar” politik ini akan didominasi oleh kelompok dengan sumber daya terbesar, seperti korporasi, sehingga mengubah demokrasi menjadi tirani.

Sementara sadar terhadap politik artinya menjadikan diri terdidik terhadap yang politik dari mulai Literasi tentang politik sampai ke Hak politik tanpa harus menjadi bagian dari gemarak politik praktis yang munafik. Untuk sadar terhadap yang politik selain diperlukan pergerakan dan kepekaan juga diperlukan ketekunan atau rasa ingin tahu terhadap yang politik, ketika saya membaca  Kearifan budaya Jawa, dalam tembang pucung serat wedhatama karya KGPAA Mangkunagara IV, ada nasehat yang amat menarik, nasehat itu berbunyi “, “ilmu iku kalakone kanthi laku”, ilmu itu bisa dikuasai dengan belajar secara tekun artinya tidak ada yang rumit dalam memahami segala sesuatu termasuk politik. Lalu apa bentuk nyata dari sadar dan resah terhadap politik, secara sederhana ada dua yang dapat dilakukan.

Memaknai semua permasalahan bangsa secara politis

Pertama sekali, pada intinya, politik adalah proses untuk menentukan “siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana”. Sebagian besar permasalahan bangsa seperti kemiskinan, kesenjangan ekonomi, ketersediaan pangan, persoalan keamanan, akses kesehatan, dan kualitas pendidikan pada dasarnya adalah persoalan alokasi sumber daya dan kebijakan publik. Karena anggaran negara, undang-undang, dan program pemerintah yang mengatur distribusi ini lahir dari proses politik, maka wajar jika setiap permasalahan tersebut dilihat melalui kacamata politik.

Sebuah keputusan tentang lokasi pembangunan rumah sakit atau kenaikan harga BBM, misalnya, tidak bisa dilepaskan dari tarik-ulur kepentingan antar-partai, kelompok tekanan, dan ideologi yang berkuasa. Dengan kata lain, memaknainya segala sesuatu secara politis adalah cara untuk memahami akar penyebab dan siapa yang diuntungkan atau dirugikan oleh suatu kebijakan.

Disamping itu ada persoalan terkait nilai, prinsip, dan ideologi yang berbeda-beda di dalam masyarakat.  Banyak sekali permasalahan yang tidak memiliki jawaban tunggal. Perbedaan pandangan inilah yang diperjuangkan di arena politik. Oleh karena itu, ketika masalah-masalah seperti ini muncul, mereka secara otomatis terpolarisasi menjadi isu politik karena mewakili pertarungan gagasan tentang masa depan bangsa yang diinginkan. Jadi Memaknai suatu konflik sosial atau budaya secara politis menjadi inevitabel (tidak terelakkan) karena ia mencerminkan perpecahan mendasar dalam tubuh masyarakat tentang nilai-nilai apa yang harus dijunjung tinggi.

Terlebih lagi, dalam era komunikasi yang masif dan demokrasi elektoral, politik telah menjadi medan pertarungan narasi. Setiap kelompok politik berusaha membingkai (framing) suatu permasalahan untuk memperkuat posisi mereka, mendiskreditkan lawan, dan memenangkan dukungan publik. Dalam konteks ini, memaknai segala sesuatu secara politis adalah strategi untuk bertahan dalam percaturan kekuasaan. Sebagai rakyat biasa kita perlu peka terhadap berbagai kecenderungan berbagai kebijakan atau peristiwa besar yang sebenarnya tidak lepas dari motif politik untuk menjaga, merebut, atau mengkonsolidasikan kekuasaan, terlepas dari niat baik yang mungkin ada di baliknya.

Meretas politik tua

Membaca kondisi dan posisi partai politik hari ini tak bedanya seperti membaca nasib budaya teknologi. Bahkan dilihat dari makna teknologi lebih luas, institusi partai politik termasuk jenis ekspresi teknologi itu sendiri. Kalau tidak cerdas,cerdik,dan cepat bertransformasi diri dengan tantangan jaman, maka  siap-siap saja remuk terlindas jalan sejarah. Seperti halnya peradaban teknik, maka  semestinya juga harus siap untuk terus berevolusi bahkan berevolusi untuk menuju perubahan total.

Apa yang sudah tua harus tergantikan oleh pokok-pokok baru yang lebih muda. Setiap era generasi punya imajinasi dan mimpi politiknya yang berbeda yang kadang tak mudah ditangkap oleh mereka yang masih nyaman terlelap di peradaban tua. Sepertinya wajah partai politik sudah terlihat makin menua bahkan terlihat tak bisa mengatasi krisis.. Mereka semakin tak mampu menawarkan konsepsi dan visi yang lebih segar tentang politik masa depan Indonesia. Mereka kian nampak terengah-engah menangkap persoalan jaman yang kian tak dimengertinya.

Pada akhirnya apa yang tertinggal hanyalah kerak-kerak motivasi purba soal survival bertahan hidup semata, semacam raga yang makin sekarat dan butuh suntikan inpus nutrisi terus menerus agar nyawa tetap terjaga. Pertarungan politik hari ini tak lagi soal merumuskan gagasan, cita-cita dan solusi riil tentang bagaimana problem warga harus dipecahkan. Kebisingan politik yang sangat dangkal  lebih banyak diisi oleh hiruk-pikuk keributan soal bagaimana pundi-pundi materi dan gengsi dipenuhi dan sumber daya yang terbatas itu dijarah dan dibagi-bagi demi kantong kelompoknya sendiri.

Golongan tua selalu menyalahkan golongan muda seolah-olah membuat berbagai kerusakan sampai mereka lupa sebenarnya kerusakan hari ini dan yang kita wariskan nanti justru banyak diperbuat oleh berbagai tindakan politik dari generasi tua, oleh karena itu meretas dalam artian melawan dan mencoba menganti politik tua menjadi kewajiban namun dengan catatan yang mengantikan tidak melanjutkan yang negatif dari generasi tua dengan casing baru, karena tujuan utama peretasan politik tua adalah menganti dengan yang baru bukan yang terlihat seolah-olah baru namun berpola lama.

Memiliki kesadaran kelas dan terorganisir      

Individu sebagai bagian masyarakat, tanpa kesadaran kelas, yang akan membuat mereka mengerti rasa malu pada tempatnya, memiliki kepercayaan diri yang sejati, dalam situasi kekerasan budaya akan tampil palsu. Mereka akan terasing dari setiap persoalan yang sebenarnya sistematis bahkan menormalkan budaya manipulasi.

Kita tentu banyak mendengar betapa susahnya menjadi orang jujur yang percaya pada dirinya sendiri, yang peduli dengan martabat dan nama baik. Sebab martabat dan nama baik dalam masyarakat yang tidak mempunyai kesadaran kelas selalu diukur dengan ukuran-ukuran material (kekayaan). Tanpa kekayaan, martabat itu nihil. Orang tidak punya nama baik, tidak dihormati.  Sebab itulah orang-orang yang ingin dan merasa mampu menjadi pemimpin terpaksa dan dipaksa menggunakan standar kekayaan material tadi untuk tampil.

Begitupun dalam memilih pemimpin atau wakil rakyat, kita cenderung memilih yang menampilkan citra elite yang berpadukan gaya sok merakyat. Budaya sogok menyogok dan pencitraan kita normalkan apalagi ditengah hidup yang masih susah dan minim Literasi politik. Ketika pemimpin yang terpilih itu tidak becus dalam berkerja, maka kita dengan gagah berani mengutuki padahal kita sendiri turut andil dalam menaikkan mereka-mereka yang sebenarnya belum pantas mewakili atau memimpin kita. 

Masyarakat dalam kondisi seperti ini memang hancur-hancuran yang mau tidak mau maka obatnya adalah pendidikan dan penyadaran kelas, penyadaran hakikat individu dan masyarakat, penyadaran akan nilai-nilai paling dasar. Apa yang memalukan dari mengakui kita berasal dari kelas buruh?  [T]

Penulis: Mansurni Abadi
Editor:Adnyana Ole

Tags: Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Metamorfosis Ketenteraman Manusia Kini

Next Post

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Mansurni Abadi

Mansurni Abadi

Mantan pengurus divisi riset Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia 2021-2022 dan pengurus divisi riset Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malaysia 2021-2023, Saat ini berkerja sebagai relasi publik di NGO SMT di Malaysia

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

I Nyoman Tamat, Tak Tamat-Tamat Mengabdi untuk Seni Budaya Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co