Mahasiswa dan Dosen Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali berhasil mendampingi mitra dalam menciptakan desain media promosi “Demen Mie” yang diproduksi oleh Poklahsar Merta Nadi dari Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung – Bali. Desain yang diciptakan itu lebih professional, berbasis digital dan menjadi identitas visual yang lebih komunikatif, sehingga lebih meyakinkan calon pembeli terhadap produksi local bermanfaat itu.
Tim PKM juga berhasil meningkatkan dari aspek produksi dan manajemen usaha yang dikelola Poklahsar Merta Nadi Desa Kutuh itu, melalui melalui kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2025. Kegiatan yang dilakukan mulai dari peningkatan higienitas, kuantitas produk dan efektivitas sumber daya manusia sebagai tenaga kerja produksi dan kualitas desain kemasan. Semua itu sangat berdampak pada penghematan biaya produksi.
“Media promosi menjadi hal penting setelah kemampuan produksi dan pengemasan dapat meningkat melalui modifikasi mesin pencetak mie yang lebih cepat dan otomatis. Maka, Tim PKM ISI Bali berhasil pula melakukan pendampingan modifikasi mesin pembuat mie, sehingga menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan jumlah produksi per hari atau per bulannya,” kata Prof. Dr. I Gede Mugi Raharja, M.Sn, selaku Ketua Tim Pengusul PkM ini.

Prof. Dr. I Gede Mugi Raharja memang memiliki kepakaran dibidang Desain, sehingga mampu menerjemahkan konsep manajemen desain dan pemasaran kekinian berbasis digital berdasarkan karakteristik perilaku konsumen. Ia dibantu dengan Prof. Dr. Drs. I Wayan Mudra, M.Sn (bidang kriya produk) dan I Putu Suparthana, S. P., M. Agr., Ph.D bidang teknologi pangan) serta Dr. I Nyoman Larry Julianto, S.Sn., M.Ds selaku anggota dalam Program Pengabdian Kepada Masyarakat, Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.
Mudra menegaskan, dengan membuat desain terkait visual branding dan medium kemasan itu akan lebih meyakinkan produk. Selain itu, Teknologi Pangan, strategi pemasaran berbasis digital, pengetahuan material kemasan, dan manajemen produksi akan lebih berkualitas. Termasuk Kriya Produk, terkait dengan modifikasi mesin produksi mie. “Itulah tujuan dari PkM, sebagai pemberi solusi dalam penyelesaian permasalahan terkait upaya peningkatan jumlah produksi, sehingga mampu menyelesaikan purchase order lebih cepat ke customer,” bebernya.
Penerapan teknologi, dapat meningkatkan jumlah produksi, sehingga mampu memenuhi permintaan pasar yang sangat tinggi. Produktivitas proses pengolahan rumput laut cotonni sebagai bahan baku utama yang berkualitas tinggi dari 5 kg, kini meningkat menjadi 10–12 kg dengan ukuran kemasan yang sama. “Melalui pemahaman manajemen sumber daya, kami harapkan mitra mampu meningkatkan efektivitas produksi produk mie instan, sehingga mampu menekan jumlah total biaya produksinya,” harapnya.

Sebelumnya, pangsa pasar Demen Mie hanya lokal Bali saja, namun sejak setahun terakhir berhasil melakukan pemenuhan pesanan hingga ke luar daerah Bali. Bahkan, mampu menembus pasa ibukota Jakarta, termasuk kota-kota di Sulawesi, Sumatra, dan Papua. Pasar di luar Bali merupakan permintaan dari kenalan pelanggan yang memberikan rekomendasi mereka terkait rasa, kualitas dan manfaat bagi kesehatan apabila mengonsumsi Mie Instan berbahan baku rumput laut cotonni.
Poklahsar Merta Nadi Desa Kutuh memiliki kemampuan untuk mengembangkan budaya pertanian sejalan dengan perkembangan pariwisata di wilayahnya. Kelompok perempuan ini telah bergerak dibidang pertanian berhasil memproduksi mie bernama “Demen Mie”, sehingga berperan dalam penguatan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi wanita melalui kegiatan pertanian dan pengembangan produk olahan.
Industri rumah tangga telah berhasil mengolah rumput laut menjadi mie, sehingga disahkan berdasarkan Keputusan Perbekel Kutuh Nomor 53 Tahun 2021. Produk mie yang dihasilkan sangat potensial karena berbahan dasar rumput laut cotonni pilihan dari para petani sekitar yang sudah terkenal kualitasnya. Masyarakat petani rumput laut, juga memiliki keahlian mengolah rumput laut cotonni untuk diproduksi menjadi mie yang siap dikonsumsi dengan tanpa menurunkan kadar dan kualitas gizinya serta tanpa adanya bahan pengawet.
Hanya saja, saat itu belum didukung oleh peralatan produksi yang cepat dan bersifat foodgrade serta kemasan yang menarik minat konsumen. Produksi menjadi kendala karena menggunakan mesin yang cukup lambat, kurang mampu menghemat tenaga kerja serta waktu pengemasannya. Tingkat higienitas menjadi kendala, sebab tahap produksi belum menggunakan pelumas yang bersifat foodgrade, sehingga bahan baku yang bersentukan langsung dengan mesin mie menjadi sedikit riskan terkontaminasi jika pelumas melewati cover area pulley set. Kondisi eksisting dari Mitra saat ini sudah mampu memproduksi Mie rumput laut cotonni untuk dikemas dan dipasarkan hanya terbatas pada lingkup pulau Bali.

Rumput laut cotonni terkenal dengan kandungan gizinya, sehingga memiliki manfaat untuk menjaga metabolisme tubuh menjadi lebih baik. Maka, mengonsumsi ‘Demen Mie’ merupakan salah satu langkah untuk mewujudkan kehidupan sehat bagi masyarakat dan sekaligus mampu menyejahterakan petani rumput laut. Produk mie ini juga tidak mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi kesehatan, dan dikemas dengan memperhatikan foodgrade, sehingga aman untuk dikonsumsi sebagai alternatif makanan pengganti nasi dalam situasi dan kondisi tertentu. Berdasarkan hasil modifikasi mesin, maka pihak Ibu Ketut Sri selaku ketua Poklahsar Merta Nadi yang memproduksi ‘Demen Mie’ menjadi lebih percaya diri menerima tawaran untuk memproduksi mie untuk tujuan dikirim ke Luar Negeri dalam waktu dekat ini.
“Itulah alasan kami memilih Poklahsar Merta Nadi Desa Kutuh sebagai mitra dalam pelaksanaan PkM ini. Permintaan pasar terhadap mie hasil olahan rumput laut cotonni terbilang cukup tinggi, sehingga dibutuhkan solusi cerdas terkait penerapan teknologi produksi yang mampu menjadikan mitra lebih berhemat pada aspek waktu produksi serta kualitas higienitas produk,” pungkasnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























