6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gede Buda, Sosok di Balik Enam Medali Emas Muay Thai Buleleng di Porprov Bali 2025

Son Lomri by Son Lomri
September 12, 2025
in Persona
Gede Buda, Sosok di Balik Enam Medali Emas Muay Thai Buleleng di Porprov Bali 2025

Gede Buda, pelatih Tim Muay Thai Buleleng di Porprov Bali 2025 | Foto: tatkala.co/Son

TIM Muay Thai Buleleng angkut 6 medali emas, 7 perak, dan 2 medali perunggu pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali 2025.

Di balik perolehan yang gemilang itu, tentu, tidak lepas dari tangan sosok yang melatih, bagaimana ia melatih, juga bagaimana ia meyakinkan, memotivasi, para atlet supaya bermental juara. Itu semua adalah kunci—selain kegigihan para atlet tentu saja.

Sosok pelatih itu ialah Gede Sudarma, atau lebih dikenal Gede Buda. Buda adalah pelatih yang berhasil membawa Muay Thai Buleleng ke ladang juara.

Lelaki kelahiran Kalibukbuk, 19 April 1974 itu, memiliki beragam akar beladiri tradisional yang kental. Sehingga mampu menjadikan murid-muridnya sebagai atlet dengan rasa kepercayaan diri yang kuat.

“Saya tidak memandang siapa pun ketika belajar beladiri. Mau anak saya atau anak siapa pun, saya akan berikan yang terbaik sampai siap tampil. Saya gembleng mereka dengan kerja keras saat latihan, tanpa ampun. Haha,” kata Gede Buda.

Gede Buda, pelatih Tim Muay Thai Buleleng di Porprov Bali 2025 | Foto: tatkala.co/Son

Tapi itu masih belum seberapa, Gede Buda masih menakar kemampuan para atletnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Berbeda dengan nasibnya dulu ketika dilatih oleh sang ayah.

“Saya belajar silat Cimande dari bapak, dari kecil, umur delapan tahun. Dan itu wajib hukumnya saya belajar silat, dipaksa bapak,” ujarnya.

Sebagai seorang pendekar, Gede Buda belajar silat pada ayahnya, Wayan Mustara, yang disebutnya sebagai maha guru.

Semua keluarganya pesilat. Gede Buda memiliki 13 saudara tiri dari 13 ibu tiri. Ia anak tunggal dari ibu kandungnya. Semua keluarganya adalah pendekar. Ayahnya memiliki 14 istri dengan 14 anak (termasuk dia di dalamnya).

“Bapak saya keras dalam mendidik saya di silat, dulu. Kami, semua anak-anaknya, dipaksa untuk belajar, hukumnya wajib. Kalau tidak, bapak bisa marah,” kisah Buda. “Bapak memang dikenal sebagai jawara silat Cimande, dulu. Keras,” sanbungnya.

Sewaktu kecil, di umur delapan tahun, Gede Buda belajar silat Cimande Tari Kolot Kebun Djeruk Hilir (KESTI TTKKDH), sebuah beladiri asli Jawa Barat, sekali lagi, pada sang ayah.

Semua jusrus dikuasai oleh Gede Buda, kemudian sang ayah mengajarinya silat Walet Putih yang dibuat ayahnya, juga dikuasai Gede Buda dengan baik.

Di antara sanak-keluarganya, Gede Buda menjadi generasi terakhir yang masih mendedikasikan hidupnya pada ranah kependekaran.  “Meneruskan warisan leluhur. Kalau tidak, saya kuwalat nanti,” kata Gede Buda.

Wayan Mustara, Maha Guru Silat Walet Putih atau guru Gede Buda | Foto: Istimewa

Tak hanya dua aliran silat itu yang ia kuasai dari sang ayah, dengan latihan yang keras tentunya, aliran silat Sitembak Tujuh Harian (silat Bali), Silat Depok, terus Silat Harimau Putih, juga diberikan sang ayah padanya. Kemudian dikuasainya juga.

Sekitar tahun 1998, Gede Buda kemudian membuka padepokan Walet Putih di rumahnya, di Kalibukbuk, Lovina, Buleleng, dengan nyambi menjadi atlet yang juga sering ikut lomba selain melatih orang lain untuk lomba.

Gede Buda pernah mendapatkan Juara 1 Piala Tetap IPSI Buleleng (2006), Juara Umum 3 Bupati Cup III Antar Perguruan Se-Kabupaten Buleleng (2010), dan Juara 2 Piala Bupati Cup III (2012).

Namun, melihat perkembangan kompetisi dunia persilatan telah banyak mengalami perubahan, Gede Buda akhirnya berdialog dengan keadaan, untuk mencoba aliran silat lain yang berasal dari luar, yaitu Muay Thai dan Wushu.

“Yang mengarahkan saya ke Muayhtai itu teman, Wayan Suwita dan Gede Betran sekitar tahun 2014,” kata Gede Buda.

Dua aliran beladiri itu juga dikuasainya dengan baik. Dengan begitu, padepokannya berubah nama menjadi Walet Fight Club sejak tahun 2015.

“Tapi sekarang lebih fokus untuk Muayhthai daripada Wushu. Tapi di Wushu juga beberapa kali murid saya sabet juara. Anak saya yang pertama, itu raih medali emas beberapa tahun lalu,” kata Gede Buda.

Sampai di situ, Gede Buda juga menjelaskan, melihat kemampuan para muridnya yang kurang mendapatkan tempat untuk bersaing secara kompetitif di silat tradisional, dialihkan pada Muay Thai—dengan silat lokal sebagai akarnya.

Gede Buda dan tim Muay Thai Buleleng di Porprov Bali 2025 | Foto: KONI Buleleng

“Sebenarnya, tidak terlalu jauh berbeda antara silat tradisional dengan Muay Thai itu. Tinggal kita memperdalam apa yang beda, dan silat tradisional juga masih kami gunakan sebagai dasar,” jelas Gede Buda.

Di arena perlombaan, pertandingan silat cenderung memiliki aturan yang lebih ketat. Berbeda dengan Muay Thai, beladiri asal Thailand itu, justru terkesan lebih terbuka, alias boleh memukul daerah apa saja kecuali kemaluan, mata, kepala bagian belakang, dan yang paling penting jangan menggigit area tubuh mana pun.

Seni beladiri Muay Thai juga kerap disebut sebagai seni beladiri delapan tungkai. Yang menggunakan delapan titik kontak tubuh untuk menyerang. Antara lain, kedua kaki (tulang kering), kedua siku, dan kedua tinju.

“Sehingga, di Muay Thai bisa lebih ngeri ketika di pertandingan,” kata Gede Buda.

Sampai di situ, ia juga menjelaskan apa yang biasa terjadi di pertarungan Muay Thai adalah luka berat. Mata bisa keluar oleh sabetan kaki, hidung bisa pecah, bahkan kepala bisa bocor oleh elbow atau dihantam dengan lutut.

Oleh karena itu, ia menekankan kepada setiap muridnya agar fokus pada ketahanan fisik supaya memiliki pertahanan bagus selain menyerang dalam persiapan Porprov Bali tahun ini.

“Satu hari, mereka disesuaikan kemampuannya untuk berlari 15 km,” Buda menjelaskan. “Latihan fisik lainnya seperti dipukul perut dengan tebu, mereka juga mesti menjaga pola makan dengan baik. Harus tahan dengan godaan makanan,” lanjutnya.

Apa yang dikatakan Gede Buda kepada atlet Muay Thai Buleleng ternyata betul. Kekuatan tubuh memang menjadi modal utama selain penguasaan teknik. Emas, perak, perunggu, adalah hasil gemblengannya selama empat bulan. Terima kasih Gede Buda. Terima kasih para atlet. Panjang umur. Merdeka.[T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Tags: Gede BudaKONI BulelengMuay ThaiPekan Olahraga Provinsi (Porprov) BaliPorprov BaliPorprov Bali 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seruan Introspeksi Politik

Next Post

Refleksi Banjir, Hilmar Farid: Bali Harus Kembali ke Akar Melalui Humaniora

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails

Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

DI sebuah pementasan karya guru dan siswa SMAN 1 Kuta Selatan, Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati, pada Sabtu...

Read moreDetails

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

by Dede Putra Wiguna
January 10, 2026
0
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

TAHUN 2026 baru berjalan beberapa hari ketika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mencatat peristiwa penting dalam sejarah akademiknya. Rabu,...

Read moreDetails

Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

by Dede Putra Wiguna
December 29, 2025
0
Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

BERTEPATAN dengan Peringatan Hari Ibu Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Nyoman Wirayuni, SH.,...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Banjir, Hilmar Farid: Bali Harus Kembali ke Akar Melalui Humaniora

Refleksi Banjir, Hilmar Farid: Bali Harus Kembali ke Akar Melalui Humaniora

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co