LUH Mas Sri Diana Wati, perempuan asal Kaliasem, Buleleng, itu, banyak menorehkan medali emas di Cabang olahraga Muaythai. Prestasinya tak hanya di dalam negeri, tetapi juga luar negeri.
Atlet perempuan yang lahir pada 5 April 2002 itu memiliki nyali cukup besar soal beladiri. Dia perempuan yang tak mengenal rasa takut.
Nyalinya sudah terpelihara sejak kecil. Semasa dirinya masih duduk di kelas 6 SD, Luh Mas—panggilan akrabnya—adalah seorang atlet pencak silat tradisional. Banyak belajar teknik-jurus silat lokal Walet Putih pada Gede Buda, atau padepokannya sekarang dikenal dengan nama Walet Fighter Club dengan aliran beladiri Muaythai.
Merasa diri kurang cocok di silat, di kelas 7 SMP Luh Mas lantas pindah ke Muaythai dengan guru yang masih sama. Alasan adalah kebebasan memukul.
“Saya beralih ke Muaythai karena lebih brutal dan saya merasa menjadi petarung yang benar-benar bertarung menggunakan semua teknik pukulan, siku, lutut, bahkan kaki—di mana semua teknik itu bisa mengenai semua kontak tubuh dari kepala sampai kaki,” kata Luh Mas saat dihubungi tatkala.co melalui WhatsApp, Selasa, 9 September 2025.
Pada kompetisi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali 2025 cabang olahraga Muaythai, Luh Mas sabet medali emas di kelas 57 kg kategori putri. Di dalam ring, ia melawan 4 peserta secara bertahap. Kemudian di semi final, Luh Mas bertemu dengan atlet dari Gianyar, dan waktu final bertemu dengan tuan rumah, Denpasar.

Luh Mas Sri Diana Wati | Foto: Dok. Luh Mas
Dan medali emas tahun ini, tentu bukan yang pertama dia torehkan dengan bangga. Tahun-tahun sebelumnya juga Luh Mas sempat menorehkan prestasi yang gemilang pada cabor yang sama.
Antara lain, Medali Perak Kejurnas Muaythai Lombok Senggigi (2015), Medali Emas Kejurnas Muaythai Makassar (2015), Medali Perunggu Eksebisi PON JABAR (2016), Medali Emas Kejurnas Muaythai Jakarta Selatan (2017).
Kemudian, ada juga Medali Emas Kejurnas Muaythai Serang-Banten (2018). Terus Medali perunggu kejuaraan dunia thailand (2019), Medali Perak PON PAPUA (2021) Waikru Putri, Medali Perunggu BK PON ACEH SUMUT (2024), dan Medali Emas Porprov Bali (2022).
Mengingat Peristiwa Merawat Dendam
Luh Mas, sebagai atlet perempuan yang berprestasi, ternyata memiliki cara unik untuk tetap segar di arena pertarungan, yaitu dengan cara mengingat peristiwa kekalahan dan mengawetkan dendamnya.
Dendam bagi Luh Mas adalah cara alternatif untuk kembali menyegarkan seni beladiri yang menggunakan delapan tungkai ini.
“Bertahan di Muaythai karena Muaythai sudah menjadi hidup saya. Saya mencintai olahraga ini, tapi di lain sisi juga saya bertahan karena ada kegagalan di PON Aceh 2024 yang harus saya balas tahun ini—ya, dengan kemenangan,” kata Luh Mas Sri Diana Wati.
Di dunia kompetisi, tentu, dendam adalah cara satu-satunya untuk terus merawat keberanian. Sehingga, Luh Mas mengingat kekalahannya sebagai pembelajaran yang berarti.
Ya, apa-apa yang sedang direncanakan, semoga berbuah manis. Selamat atas torehan medali emas untuk tahun sekarang, dan selamat memelihara dendam untuk nyali yang lebih kuat. Merdeka.[T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto



























