SUASANA pagi di Teba Majelangu, Kertalangu, Denpasar, begitu semarak pada Jumat, 29 Agustus 2025. Udara masih segar ketika puluhan remaja mulai berdatangan dengan ransel besar, matras yang digulung, dan wajah penuh semangat.
Alih-alih tenda kecil yang terpisah-pisah, panitia menyiapkan dua tenda besar sebagai tempat beristirahat bersama: satu untuk peserta perempuan dan satu untuk peserta laki-laki. Di tengah halaman yang dikelilingi hamparan sawah dan rimbun pohon, tenda-tenda itu berdiri kokoh, menjadi saksi dilaksanakannya Jambore Generasi Berencana (GenRe) Kota Denpasar 2025 ─ perhelatan perdana yang dirancang bukan hanya sebagai perkemahan ─ melainkan juga ruang belajar, bermain, dan berproses bersama.
Bagi sebagian peserta, tidur di tenda besar bersama puluhan teman baru adalah pengalaman yang benar-benar berbeda. Malam itu mereka tidak hanya berbagi ruang, tapi juga berbagi cerita, tawa, bahkan lagu yang dinyanyikan lirih sebelum tidur. Bagi yang lain, jambore ini adalah kesempatan langka untuk memperluas jejaring pertemanan lintas sekolah dan komunitas.

Para peserta jambore saat melakukan jelajah alam │Foto: Dok. Forum GenRe Kota Denpasar
Jambore perdana ini mengusung tema “Menjadi Remaja Cerdas, Sehat, dan Berkarakter Bersama GenRe”. Ketua Panitia, Nengah Ari Suputra Bawa mengatakan, tema ini bukan sekadar slogan, melainkan cermin dari kenyataan sehari-hari. Remaja menghadapi tantangan nyata: pernikahan dini yang masih terjadi di beberapa daerah, perilaku seks bebas, hingga penyalahgunaan narkoba. Melalui Program Generasi Berencana (GenRe) yang diinisiasi Kemendukbangga/BKKBN, kegiatan jambore ini mencoba menjawab tantangan itu dengan cara yang berbeda: edukasi dikemas lewat kebersamaan dan kegiatan luar ruang yang menggembirakan.
Kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari satu malam ini diikuti oleh 60 peserta. Mereka adalah anggota Forum GenRe Kota Denpasar, perwakilan Pusat Informasi Konseling Remaja/Mahasiswa (PIK-R/M) dari sekolah dan kampus, Duta GenRe Desa, serta Forum Anak Daerah Kota Denpasar.
Hari pertama dimulai dengan pembukaan secara formal. Setelah itu, peserta mengikuti sesi materi tentang program GenRe dan kesehatan reproduksi. Para fasilitator atau narasumber mengajak mereka berdiskusi, berbagi pengalaman, bahkan mengekspresikan pandangan lewat simulasi singkat.

Para peserta jambore saat melakukan jelajah alam │Foto: Dok. Forum GenRe Kota Denpasar
Siang harinya, peserta diajak jelajah alam menyusuri jogging track Kertalangu. Setiap kelompok harus melewati pos-pos dengan tantangan berbeda. Ada yang menyelesaikan teka-teki silang tentang GenRe, ada pula yang membuat konten video singkat untuk media sosial. Pada sesi ini, kreativitas sekaligus kerja sama antarkelompok diuji.
Canda tawa bercampur teriakan semangat terdengar sepanjang jalur. Menjelang sore, peserta kembali ke lapangan untuk outbound ringan. Permainan perang bantal menjadi yang dinanti-nanti. Meski sederhana, kegiatan ini menumbuhkan sportivitas. Ada kelompok yang kalah lalu tertawa terpingkal-pingkal, ada pula yang menang dengan penuh gaya. Semua larut dalam keceriaan yang membuat lelah seakan hilang.


Permainan perang bantal di Jambore GenRe Kota Denpasar 2025│Foto: Dok. Forum GenRe Kota Denpasar
Ketika sore berganti malam, api unggun menyala di tengah halaman, para peserta pun berdiri melingkar. Cahaya dari kobaran api membuat suasana semakin hangat. Malam itu diisi dengan pentas seni. Setiap kelompok tampil bergiliran: ada yang menampilkan teater, ada pula yang menyanyikan lagu bersama. Riuh tepuk tangan dan sorak-sorai mengiringi keseruan malam itu.
Kendati demikian, puncak keheningan justru hadir di akhir malam, saat sesi refleksi atau renungan dengan tema ‘Surat untuk Diri Sendiri’. Dalam hening, peserta merenungkan harapan, cita-cita, dan janji pribadi untuk masa depan. Ada yang larut dalam renungan, ada pula yang berteriak secara tiba-tiba. Sesi renungan itu menjadi penutup kegiatan hari pertama.

Para peserta mengitari api unggun│Foto: Dok. Forum GenRe Kota Denpasar
Malam ditutup dengan renungan, pagi diawali dengan senam
Hari kedua pun dimulai dengan senam pagi. Di halaman, puluhan peserta bergerak serempak mengikuti irama musik, sebelum sarapan bersama. Seusai sarapan, permainan tarik tambang digelar.
Sorakan riuh dari peserta menambah semangat kelompok yang berjuang menarik tali sekuat tenaga. Ada yang jatuh, ada yang tergelincir, namun tetap berjuang untuk bangkit, semuanya berlangsung dalam semangat kebersamaan. Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan evaluasi, pembagian sertifikat, dan sesi foto bersama.

Para peserta bermain tarik tambang │Foto: Dok. Forum GenRe Kota Denpasar
Salah satu peserta, Ari Witarini, membagikan kesannya. “Jambore ini sangat berkesan, seru banget ketemu teman-teman baru, belajar hal-hal baru, dan bisa bermain bersama. Salah satu yang paling mengesankan saat explore alam. Setiap ketemu pos, kita diminta menyelesaikan tantangan untuk meningkatkan kerja sama tim. Walaupun kita baru kenal, tapi solidaritasnya bukan main. Awalnya kami merasa nggak bakal dapat juara, ternyata dapat juara satu,” ungkapnya penuh semangat.
Kesuksesan jambore perdana ini tentu tidak lepas dari kerja keras panitia. Ketua Panitia, Nengah Ari Suputra Bawa, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. “Dua hari satu malam ini benar-benar menjadi pengalaman berharga, tidak hanya bagi peserta tapi juga bagi kami selaku penyelenggara,” ujarnya saat sesi penutupan.

Penyerahan hadiah kepada peserta oleh Desak Made Diah Aristiani, Ketua Forum GenRe Kota Denpasar│Foto: Dok. Forum GenRe Kota Denpasar

Sesi foto setelah penyerahan hadiah bersama Made Ayu Wahyuni, SE., M.Si., Kepala KBK3 Kota Denpasar (depan tengah)│Foto: Dok. Forum GenRe Kota Denpasar
Ari juga mengakui ada tantangan maupun kendala dalam pelaksanaannya. Cuaca yang berubah-ubah sempat menguji, begitu juga koordinasi antar divisi. Namun, semua bisa diatasi berkat soliditas panitia. Ia bahkan melihat hambatan itu sebagai bagian dari proses belajar bersama. Malam itu, ketika api unggun menyala, Ari menyampaikan alasan mengapa kegiatan ini disebut jambore. “Kami ingin jambore ini berbeda dengan seminar di ruangan. Di sini remaja bisa belajar, bermain, dan berproses bersama dalam suasana yang menyenangkan sekaligus bermakna,” jelasnya, disambut tepuk tangan dan sorakan peserta.
Apresiasi juga datang dari Desak Made Diah Aristiani, Ketua Forum GenRe Kota Denpasar. Menurutnya, jambore ini menjadi langkah penting untuk memperkuat peran Forum GenRe di kalangan remaja, khususnya di Kota Denpasar.
“Rasanya senang sekali, Forum GenRe Kota Denpasar dapat menjadi wadah pengembangan diri bagi remaja. Kami berharap melalui kegiatan jambore ini, bisa memberikan edukasi dan menyebarluaskan vibrasi positif untuk remaja di Kota Denpasar, terutama bagi perwakilan peserta,” ujarnya.
Harapan untuk masa depan dan keberlanjutan
Sebagai kegiatan perdana, Jambore GenRe Kota Denpasar 2025 meninggalkan kesan yang mendalam bagi para peserta. Ia bukan sekadar rangkaian acara formal, melainkan momentum untuk merajut persahabatan, memperkuat solidaritas, dan menyosialisasikan gerakan hidup sehat.
Setiap aktivitas mengandung pesan tersendiri: outbound mengajarkan kerja sama, pentas seni menumbuhkan rasa percaya diri, renungan malam menanamkan kesadaran, dan tarik tambang menekankan arti strategi serta kekompakan. Dengan cara ini, nilai-nilai GenRe tidak hanya disampaikan lewat kata-kata, tapi dialami langsung oleh peserta.

Pembukaan kegiatan dengan simbolisasi pelepasan burung dara oleh Kepala Bidang KBK3 (kiri) dan I Gusti Agung Sri Wetrawati, Kepala Dinas P3AP2KB Kota Denpasar (kanan), didampingi Ketua Forum GenRe Kota Denpasar dan Ketua Panitia │Foto: Dok. Forum GenRe Kota Denpasar

Foto bersama di hari pertama, setelah pembukaan acara secara formal │Foto: Dok. Forum GenRe Kota Denpasar
Forum GenRe Kota Denpasar sendiri sudah merencanakan jambore sebagai agenda tahunan. Diharapkan, semakin banyak remaja yang ikut serta, semakin luas pula dampak yang dihasilkan. Menurut Desak Made Diah Aristiani selaku Ketua Forum GenRe Kota Denpasar, jambore ini adalah investasi jangka panjang. Dari sinilah diharapkan lahir kader-kader muda GenRe yang mampu menjadi teladan, penggerak, sekaligus agen perubahan. Dan bagi para peserta, jambore 2025 akan selalu menjadi cerita yang mereka kenang ─ tentang tenda besar yang dipenuhi canda, tentang api unggun yang menghangatkan malam, tentang perenungan diri dan harapan besar.
“Lebih dari itu, jambore ini mengingatkan bahwa memberi ruang bagi remaja untuk tumbuh berarti memberi ruang bagi masa depan remaja Kota Denpasar untuk bersinar. Sebuah perjalanan kecil, tapi menuju cita-cita besar: Indonesia emas yang cerdas, sehat, dan berkarakter,” kata Desak Diah. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























