LUH Putu Citra Lestari dan Kadek Suka Satia Budi tampak senang ketika ditetapkan sebagai pemenang dalam ajang Grandfinal Pemilihan Truna-Truni Dharma Duta Week #4 di kampus Institut Mpu Kuturan (IMK) Bali di Singaraja, Minggu, 31 Agustus 2025.
Kadek Suka Satia Budi adalah Mahasiswa aktif Program Studi Manajemen Ekonomi semester 3 yang lahir 10 Februari 2006 sebelumnya pernah meraih pada Top 5 Pemilihan Putera Puteri SMENSI tahun 2022. Sementara Luh Putu Citra Lestari, juga Mahasiswa aktif Program studi Manajemen Ekonomi semester 3, lahir pada 14 Agustus 2005, dan sebelumnya pernah meraih Juara Harapan 3 LTW Kabupaten Buleleng tahun 2023 yang diselenggarakan PMI Kabupaten Buleleng.
Dalam ajang Pemilihan Truna-Truni Dhuta Dharma Week #4 ini, Satia Budi dan Citra Lestari berhasil menyisihkan 4 pasang truna-truni dari berbagai prodi jurusan Dharma Duta di IMK yang masuk grandfinal.
Era Digital dan Mental Health Matters
Isu tentang era digital dan mental health matters, mejadi perhatian utama para finalis Grand Final Pemilihan Truna Truni Dharma Duta Week #4 di Panggung Terbuka, IMK, itu.
Acara malam itu bertajuk “Abhinaya Cakra Aksata Dharma Duta”, diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Dharma Duta Institut Mpu Kuturan Singaraja.

Kadek Agus Dirgantara dan Adinda Putri Dwiani sedang tampil bicara di sesi speech challenge | Foto Panitia
Ada sepuluh finalis atau lima pasang an di acara itu. Mereka adalah pasangan Ketut Agustiantini (Manajeman Ekonomi) dan I Made Anom Adhinata (Pariwisata Budaya dan Keagamaan), Luh Putu Citra Lestari (Manajemen ekonomi) dan Kadek Suka Satia Budi (Manajeman Ekonomi), Komang Deni Indah Yuliartini (Ilmu Komunikasi) dan Kadek Agus Dirgantara (Ilmu Komunikasi), Adinda Putri Dwiani (Ilmu Komunikasi) dan Kadek Andi Partika (Ilmu Komunikasi), serta pasangan Ida Ayu Putu Mawar Puspita (Pariwisata Budaya dan Keagamaan) dan Komang Paris Krisnanda (Manajeman Ekonomi).
“Ketika di antara mereka sudah ada yang terpilih jadi duta jurusan, yang terpilih itu akan tampil di garis depan bertugas memperkenalkan jurusan. Memberi contoh hal-hal baik pada mahasiswa di kampus, serta aktif membangun relasi dengan duta-duti lainnya,” kata Pande Nyoman Trimahanarayani, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Dharma Duta.
Namun sebelum itu, masing-masing dari finalis tentunya diuji terlebih dulu. Pada sesi speech challenge, misalnya, masing-masing pasangan memilih salah satu tema dari tiga tema yang sudah disiapkan panitia. Lalu dipresentasikan di atas panggung dengan durasi dua menit.
Di sesi ini, mereka diuji kecakapan public speaking dan keberanian untuk speak up.
Ada tiga tema di sesi itu. Pertama, Mental Health Matters (menjaga Kesehatan mental dilingkungan perkuliahan. Kedua, menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan prinsip-prinsip etika dan tanggung jawab sosial. Ketiga, merangkul perubahan, tantangan dan peluang generasi muda di era digital.

Pasangan Kadek Agus Dirgantara dan Komang Deni Indah Yuliartini sedang menyapa audiens di atas panggung | Foto: Panitia
Dan pada malam itu, Luh Putu Citra Lestari dan Kadek Suka Satia Budi mengambil tema “Merangkul Perubahan : peluang dan tantangan generasi muda di era digital” dan “Mental Health Matters”.
Melihat mereka berjalan serasi dan kompak dengan kostum khas Bali yang anggun di atas panggung, tiga juri penilai; Ni Nyoman Ayu Risma Maryuni, S.H., CPS., I Gede Arysantika, S.Pd., Gr, dan I Wayan Titra Guna Wijaya, S.Fil.H., M.Ag., lantas mendengarkan pemaparan mereka secara saksama, begitu juga terhadap finalis lain.
Era Digital Banjir Informasi Kikis Identitas
“Di era Revolusi Industri 4.0, di tengah Society 5.0, generasi muda bukan sekadar konsumen informasi — kita adalah produsen dan penentu arah masa depan digital. Kita memiliki akses tanpa batas pada ilmu, jejaring global, dan kekuatan mencipta inovasi yang dapat mengubah dunia,” kata Luh Putu Citra Lestari bicara lantang di atas panggung, di depan para juri.


Dosen Dharma Duta IMK dalam acara Pemilihan Truna-Truni Dharma Duta Week | Foto: Panitia
Luh Putu Citra Lestari, atau biasa disapa Citra itu, menjelaskan era digital sekarang, telah banyak membenturkan kehidupan masyarakat pada tantangan. Salah duanya adalah information overload dan krisis identitas digital.
“Kita terjebak dalam budaya validasi di mana angka likes—di sebuah media sosial, kerap menjadi tolok ukur harga diri,” kata Citra.
Itulah kenyataan baru yang tidak bisa diabaikan menurut Citra di jaman sekarang. Sehingga perlu setiap orang berperan aktif—untuk berhenti, agar tak hanyut—kehilangan arah, kehilangan nilai, bahkan masa depan.
Di tengah gelombang fakta semacam itu, kesadaran digital menjadi kebutuhan mendesak akhirnya, yang perlu diwaspadai setiap orang mesti menyelamatkan diri masing-masing dengan cara meningkatkan literasi digital.
Literasi digital bukan sekadar keterampilan menggunakan teknologi, melainkan bijak menggunakannya, tahu mana hoax mana yang bukan. Kemudian membangun ruang digital yang kritis, sehat, dan bernilai adalah bentuk perlawanan intelektual terhadap aliran deras informasi di internet itu.
“Mari kita jadikan kampus sebagai pusat gerakan literasi, tempat kita belajar mindful browsing, digital detox, dan responsible sharing. Perubahan tak bisa dihentikan, tapi bisa diarahkan. Dan arah itu, ada di tangan generasi kita,” ujar Citra.
Penting Kesehatan Mental, Lingkungan Kampus Harus Aman
Sementara pasangan Citra, Kadek Suka Satia Budi, menjelaskan terkait kesehatan mental pada mahasiswa itu, juga sangatlah penting. Apalagi di tengah gempuran tugas-tugas yang menumpuk. Desakan nilai yang tinggi, dan harapan orang tua yang berat. Kompleks.
“Membayangkan seorang mahasiswa yang setiap hari hadir di kelas dengan senyum dan canda tawa, tapi diam-diam sedang bertarung dengan pikirannya sendiri,” kata Kadek Satia Budi atau biasa disapa Satia.
Itulah realitas yang dihadapi banyak mahasiswa saat ini, menurut Kadek Satia Budi, kesehatan mental pada mahasiswa sangatlah penting untuk diperhatikan dengan segera. Kampus perlu membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap itu, terutama, memberikan ruang dialog yang ramah.
“Maka, mari kita mulai dari hal sederhana: bertanya dengan tulus, hadir tanpa menghakimi, dan berhenti menyamakan luka mental dengan kelemahan. Sebab dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar, dunia juga membutuhkan orang-orang yang sehat, utuh, dan bahagia,” kata Setia.
Hal serupa juga disampaikan sama oleh pasangan finalis Ida Ayu Putu Mawar Puspita dan Komang Paris Krisnanda.

Komang Paris Krisnanda dan Ida Ayu Putu Mawar Puspita sedang tampil pesona di panggung | Foto Panitia
Mahasiswa sering kali mendapati diri dibebani berbagai tanggung jawab kuliah. Seperti tugas, pekerjaan paruh waktu, dan kehidupan sosial mereka, yang juga meliputi ekonomi mereka di rumah, bisa jadi bahan pikiran yang membuat stres si mahasiswa. Apalagi yang terjerat pinjaman online, atau judi online.
“Tekanannya bisa sangat berat, dan kita mudah melupakan kesehatan mental kita. Namun, penting untuk menyadari bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesuksesan akademis kita,” kata Mawar Puspita.
Banyak dari mahasiswa mengalami stres, kecemasan, atau perasaan terisolasi selama masa kuliah. Hal itu memang wajar saja sebenarnya, tetapi tidak boleh abai pada kenyataan semacam itu.
Kemudian untuk mengobati rasa stres, Komang Paris Krisnanda atau pasangan Mawar Puspita ini memberikan solusi yang bisa diakses semua mahasiswa dan gratis, yaitu olahraga.
“Olahraga bisa menjadi satu alternatif yang bisa dilakukan agar pikiran kembali sehat,” kata Paris Krisnanda.
Selepas melewati sesi speech challenge, catwalk dan QnA, juga serangkaian proses acara seleksi satu bulan sebelumnya, segeralah dewan juri umumkan siapa pemenangnya.

Luh Putu Citra Lestari dan Kadek Suka Satia Budi berfoto bersama juri dan Truna-Truni 2024 | Foto: Panitia
Dan saat itu Luh Putu Citra Lestari dan Kadek Suka Satia Budi resmi terpilih sebagai Truna-Truni terpilih Dhuta Dharma Week #4, yang bertugas tampil sebagai wajah jurusan, dan memberikan contoh yang baik kepada mahasiswa.
“Sebenarnya susah dewan juri memilih siapa pemenangnya. Tapi di antara peserta lain, melihat finalis nomor 2 (Citra dan Satia) tadi di atas panggung sangat lugas berbicara, tepat dan juga wawasannya luar biasa, serta percaya dirinya luar biasa. Itu yang menyebabkan mereka menang, selain sudah diuji yang lainnya di serangkaian acara seleksi satu bulan sebelumnya,” kata Ni Nyoman Ayu Risma Maryuni, dewan juri.
Luh Putu Citra Lestari dan Kadek Suka Satia Budi, selamat mengemban tugas. Mari gaungkan kesehatan mental dan bermedia sosial dengan bijak untuk generasi emas Indonesia, agar tak cemas. Merdeka. [T]
Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole



























