ADA banyak cara orang merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Ada yang menyiapkan tumpeng dengan doa bersama, ada yang melantunkan shalawat beriring rebana, ada pula yang sekadar duduk melingkar, membaca riwayat hidup Nabi, lalu berbagi makanan kepada tetangga. Di Yogyakarta, sebuah kota yang sejak lama dikenal sebagai ruang perjumpaan budaya dan agama, peringatan Maulid menemukan wajah lain: ia tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga ruang silaturahmi lintas iman.
Saya ingat betul, ketika masih kuliah dan hidup di Yogyakarta, kota ini selalu memberi ruang dialog yang hangat. Tidak hanya di masjid atau kampus, bahkan di kafe-kafe kecil pun diskusi lintas agama, budaya, dan kepercayaan bisa tumbuh begitu cair. Karena itu, saya tidak heran ketika mendengar cerita tentang peringatan Maulid yang digelar secara inklusif di beberapa kafe di Yogyakarta. Bagi saya, itu bukan sekadar perayaan, tetapi cermin dari wajah Yogyakarta yang sesungguhnya.
Alih-alih hanya dihadiri jamaah masjid, perayaan itu digelar di sebuah kafe sederhana, dengan pintu yang terbuka untuk siapa saja. Tidak ada batas agama, suku, ataupun status sosial. Setiap orang yang datang dipersilakan duduk, mendengarkan kisah-kisah tentang kebaikan Nabi, lalu menikmati hidangan yang sama. Ada yang Muslim, ada yang Kristen, ada pula yang mengaku ingin tahu apa itu Maulid. Semuanya diterima dengan senyum hangat.
Kisah semacam itu memberi kita ruang untuk merenung: barangkali, esensi Maulid justru tampak paling kuat ketika ia dipraktikkan sebagai ajang keterbukaan. Sebab Nabi Muhammad sendiri hadir bukan hanya sebagai figur pemimpin spiritual bagi umat Islam, tetapi juga sebagai teladan kemanusiaan universal. Ia dikenal karena akhlaknya: jujur, rendah hati, penuh kasih, dan selalu merangkul orang lain. Maka, ketika Maulid diperingati dengan semangat inklusif, sejatinya kita sedang mencoba menghidupkan akhlak itu kembali di zaman yang penuh sekat ini.
Maulid, Bukan Hanya Seremonial
Di Yogyakarta, peringatan Maulid yang inklusif menunjukkan bahwa tradisi bisa dihidupkan dengan cara yang lebih luas. Masyarakat tidak lagi sibuk mempertanyakan “siapa yang boleh hadir”, melainkan “apa yang bisa kita bagi bersama.” Poinnya bukan pada ritual, melainkan pada pesan moral yang terkandung di dalamnya: bagaimana kita bisa meneladani Nabi sebagai sosok yang membangun jembatan, bukan tembok.
Salah satu hal yang menarik dari perayaan Maulid di Yogyakarta itu adalah praktik makan bersama. Semua orang dipersilakan mengambil makanan yang sama, tanpa perbedaan. Makanan dalam konteks ini bukan sekadar konsumsi, melainkan simbol kesetaraan. Dalam budaya Jawa, makan bersama selalu dimaknai sebagai cara untuk menghapus jarak. Orang kaya, orang miskin, pejabat, mahasiswa, semua duduk di meja yang sama.
Saya masih bisa membayangkan suasana khas Yogyakarta itu. Di sebuah kafe yang tidak terlalu besar, meja kayu dipenuhi hidangan sederhana, lalu orang-orang dari latar belakang berbeda duduk berdekatan, menyantap makanan yang sama. Rasanya hangat, akrab, dan tidak ada sekat. Bayangkan jika praktik sederhana ini diperluas. Bagaimana jika setiap perayaan keagamaan di negeri ini membuka ruang untuk berbagi makanan dengan lintas komunitas? Mungkin kita akan lebih jarang mendengar kabar pertikaian, karena hati yang pernah duduk semeja biasanya enggan untuk saling membenci.
Inklusi yang Nyata
Cerita tentang Maulid inklusif di Yogyakarta memberi kita gambaran bahwa perayaan agama bisa menjadi titik temu, bukan garis pemisah. Ketika pintu dibuka lebar untuk siapa saja, Maulid menjadi ruang belajar bersama. Umat Muslim bisa menunjukkan sisi ramah agamanya, sementara teman-teman non-Muslim bisa merasakan hangatnya kebersamaan. Tidak ada dakwah yang dipaksakan, tidak ada ajakan yang menggurui. Yang ada hanyalah perjumpaan manusia dengan manusia.
Inklusi semacam ini sangat penting di tengah isu-isu kontemporer. Kita hidup di zaman di mana perbedaan kerap diseret ke ruang konflik. Polarisasi politik, gesekan sosial, bahkan perdebatan kecil di media sosial sering kali memicu permusuhan. Dalam kondisi seperti itu, praktik Maulid yang inklusif memberi contoh bahwa keberagaman bukan masalah, melainkan anugerah.
Yogyakarta dan Karakter Inklusifnya
Tidak bisa dipungkiri, Yogyakarta memang punya karakter unik. Kota ini sejak lama dikenal sebagai ruang dialog budaya. Kampus-kampus besar, komunitas seni, pesantren, gereja, vihara, hingga kafe-kafe literasi hidup berdampingan tanpa saling meniadakan. Peringatan Maulid yang inklusif hanyalah salah satu potret kecil dari karakter besar itu.
Sebagai orang yang pernah hidup di sana, saya melihat sendiri bagaimana perbedaan menjadi sesuatu yang dirayakan, bukan ditakuti. Kesadaran kolektif masyarakat Yogyakarta membuat praktik inklusi terasa wajar, bukan hal yang dipaksakan. Dari sinilah saya belajar: praktik inklusi bukan utopia, melainkan sesuatu yang bisa dijalankan ketika ada kemauan untuk membuka diri.
Relevansi di Zaman Kini
Pertanyaan pentingnya adalah: mengapa cerita semacam ini relevan untuk kita hari ini?
Pertama, karena masyarakat kita sedang diuji dengan derasnya arus disrupsi. Media sosial sering kali memperbesar perbedaan. Konten provokatif mudah tersebar, sementara ruang dialog yang sehat semakin sempit. Dalam kondisi itu, Maulid inklusif bisa menjadi penawar: ia mengajarkan kita untuk bertemu langsung, tatap muka, dan saling mendengarkan.
Kedua, karena nilai-nilai kemanusiaan universal sedang sangat dibutuhkan. Krisis iklim, ketidaksetaraan ekonomi, hingga konflik global membuat dunia terasa rapuh. Nilai kasih, empati, dan solidaritas yang menjadi inti ajaran Nabi perlu dihidupkan kembali, salah satunya lewat praktik perayaan agama yang merangkul semua.
Ketiga, karena generasi muda butuh contoh konkret. Banyak anak muda hari ini mungkin merasa agama hanya berisi aturan dan larangan. Padahal, agama juga bisa menjadi ruang kegembiraan, kreativitas, dan kebersamaan. Perayaan Maulid di kafe Yogyakarta adalah contoh nyata bahwa agama bisa hadir dengan wajah yang ramah dan inklusif.
Maulid sebagai Jembatan
Cerita dari Yogyakarta ini mengingatkan kita bahwa Maulid bukan hanya milik umat Muslim, melainkan milik semua yang ingin belajar tentang nilai kemanusiaan. Dengan membuka pintu selebar-lebarnya, Maulid bisa menjadi jembatan antariman, antargenerasi, bahkan antarbudaya.
Dalam setiap suapan makanan yang dibagi, dalam setiap senyum yang disambut, kita melihat akhlak Nabi Muhammad yang hidup kembali: akhlak yang merangkul, bukan menyingkirkan. Dan mungkin, justru dalam praktik sederhana itulah Maulid menemukan maknanya yang paling dalam.
Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa megah panggung peringatan kita, melainkan seberapa tulus kita membuka ruang bagi orang lain untuk merasakan kehangatan bersama. Yogyakarta sudah memberi contohnya. Dan saya merasa beruntung pernah menjadi bagian dari kota yang dengan rendah hati mengajarkan, bahwa inklusi bisa diwujudkan dengan cara sesederhana membuka pintu dan berbagi meja makan. [T]
Penulis: Nur Kamilia
Editor: Adnyana Ole


























