6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
August 29, 2025
in Persona
I Ketut Bagiana, Hanoman Kecak dari Pantai Melasti

I Ketut Bagiana

KEPULAN asap kretek berembus dari mulutnya. Ia duduk bersila di teras rumahnya. Namanya I Ketut Bagiana (48), tapi sehari-hari ia kerap disapa Bli Toet. “Itu maksudnya Bli Tut,” ia menjelaskan arti di balik panggilan “Bli Toet”.

Bli Toet merupakan penari Hanoman yang andal. Ia tampil bersama Tari Kecak yang dipentaskan setiap hari di Pantai Melasti, Ungasan. Sebelumnya, menurut Bli Toet, biasanya hanya hari Jumat saja pementasan Kecak ramai penonton. Tapi sekarang hampir setiap hari selalu ramai seiring pamor Pantai Melasti yang semakin terkenal—apalagi saat musim liburan tiba, tamu domestik maupun mancanegara berbondong-bondong untuk menonton.

Sambil duduk bersila Bli Toet bercerita. Dulu, ia menari setiap hari; tetapi karena sendiri, ia merasa tidak kuat. “Saya perlu istirahat,” katanya. Sekarang ia hanya menari lima kali dalam seminggu. Bli Toet sangat menyukai profesi ini. Tapi ia mengaku tidak pernah menari di Pura Uluwatu. Ia hanya pernah ngayah di kesenian balaganjur, megambel.

Selain menjadi penari, lelaki asal Desa Ungasan, Kuta Selatan ini juga memiliki hobi menyanyi. Ia sering mengisi hiburan di acara-acara resepsi pernikahan dan ulang tahun. Selain itu ia juga bekerja di bagian operator mesin New Kuta Golf. Ini membuktikan bahwa Bli Toet termasuk orang yang produktif.

I Ketut Bagiana saat diwawancarai di rumahnya | Foto: tatkala.co/Sariasih

Ada saat di mana ia mengisi acara pernikahan pada malam hari, pukul 6 pagi bekerja sampai pukul 2 siang, lalu sore harinya ia sudah menari sebagai Hanoman saat Tari Kecak tampil di Pantai Melasti.

Namun, ada saat di mana ia merasa juga harus memilih salah satu antara memenuhi undangan pernikahan atau menari Hanoman. “Terkadang jika waktunya mepet dengan undangan mengisi pesta pernikahan, saya cari pengganti untuk nari Hanoman. Tapi kalau badan tidak fit dan lelah, saya izin tidak menari,” terangnya. “Itu cukup menguras energi,” sambungnya. Untuk menjaga stamina, ia mengonsumsi loloh (jamu) kayu manis, supaya perut tidak panas, katanya. Loloh itu bisa diselingi dengan minum susu sapi murni.

I Ketut Bagiana lahir dari keluarga yang, katakanlah, kurang mampu. Dulu, sejak kelas 3 SD ia sekolah tanpa sepatu, celananya ditambal kain, bajunya tidak pernah disetrika. Ketika kancing bajunya lepas, terpaksa pakai peniti. Bahkan sisir saja ia tidak punya. Kalau merampikan rambut, ia pakai minyak bali asli, lalu sekolah jalan kaki tanpa sarapan dengan bekal lima rupiah, itu pun kalau ada.

“Paling banyak bekal 25 rupiah. Itu bisa dapat pisang goreng 2 ditambah permen, kalau nasi 35 rupiah, banyak dapat!” Bli Toet bercerita dengan antusias.

I Ketut Bagiana saat menarikan Hanoman | Foto: Dok. Bagiana

Keluarga Bli Toet dulu makan dari hasil kebun. Ia biasanya makan singkong, jagung, dan kedelai. Makan beras jarang-jarang. Kalau pun ada biasanya dicampur dengan singkong atau jagung.

Waktu kecil ia sering mencari kayu bakar—atau biasa disebut saang—untuk memasak dan mencari pakan sapi, ngarit di ladang. Tapi sekarang ladang-ladang itu sudah menjadi beton. “Kalau banyak dapat kayu kering, setengahnya bisa dijual,” kenangnya.

Pendidikan Bli Toet hanya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia memilih bekerja di New Kuta Golf untuk membantu perekonomian keluarga. “Ingin lanjut sekolah, tapi tidak bisa karena ekonomi,” tambahnya. Sembari bekerja di New Kuta Golf, ia menjadi penari Hanoman yang pentas di hotel-hotel di Bali.

***

Lelaki kelahiran 1977 itu begitu tertarik dengan karakter Hanoman—kera putih dalam epos Ramayana. Karakter itulah yang memotivasinya untuk menjadi penari Hanoman dalam Tari Kecak. Ia menyampaikan, di dekat tempat tinggalnya pernah ada Tari Kecak. Dari situlah ia mulai tertarik ingin menari sebagai Hanoman. Dan ia pertama kali menari dari hotel ke hotel.

“Karena terlalu suka, dulu, walaupun jauh, misalnya pentas di hotel-hotel di Nusa Dua, atau hotel-hotel di Jimbaran, saya datangi, bawa motor sendiri, beli minyak sendiri, beli kamen [kain Bali] sendiri,” aku Bli Toet mengenang masa lalu.

“Tapi itu sulit, karena pakai biaya sendiri, upahnya juga sedikit. Hotel yang ngasih honor sekali pentas berapa, sih? Kalau sekarang, yang di Melasti ini kan dibayar berdasarkan persentase. Kalau tamunya banyak, kita ya dapat banyak. Pokonya penghasilannya lebih besar,” katanya membandingkan antara upahnya di hotel dengan pentas di Pantai Melasti. Ia mengatakan hal tersebut sembari tertawa.

Saya bertanya apakah ia pernah menari di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK)? Ia menjawab, “Aduh, sudah bosan, berapa tahun sudah itu. Belasan tahun menari di situ. Sebelumnya saya menari di hotel-hotel, dari Bali Jimbaran, Nusa Dua, sampai ke Pecatu. Makanya sudah berpuluh-puluh tahun Kecak di sini, dari zaman Hotel Bali Cliff  tahun 1993 berdiri.”

I Ketut Bagiana diajak foto para tamu | Foto: Dok. Bagiana

Sudah 32 tahun menari Hanoman, Bli Toet mengaku tetap was-was kakinya terbakar karena dalam pertunjukkan Tari Kecak ada adegan api ketika Hanoman dikepung oleh pasukan Rahwana. Itu ia anggap sebagai tantangan. Selain itu, tenaganya kini juga cepat terkuras karena adegan melompat-lompat.

Bli Toet bercerita, sebenarnya ia kesulitan menarikan Hanoman, kini. Menurutnya, sekarang lebih susah menari karena terasa lebih melelahkan. Ia merasa versi Kecak hari ini lain daripada yang dulu, ceritanya agak berbeda.

“Kalau dulu, Hanoman keluar di tengah-tengah pertunjukan—saat hendak menyelamatkan Dewi Sita. Misalnya satu jam pentas, pada menit ke tiga puluh itu Hanoman baru keluar. Tapi sekarang lain, satu jam pentas, dari awal sampai akhir, saya harus menari Hanoman,” kisah BlI Toet.

Dan itu menurutnya cukup melelahkan. Bli Toet juga bercerita bahwa Kecak zaman dulu tak ada agegan api. Sedangkan sekarang setiap hari ia harus berhadapan dengan kobaran api, sampai kakinya selalu menjadi taruhan, di kulitnya banyak bekas luka bakar.

“Sangat susah cari orang untuk jadi Hanoman—karena ada apinya itu, berisiko. Saya masih menari karena suka; karena keberanian juga, sih,” katanya sambil tertawa lagi.

Saat menari Hanoman, Bli Toet sering berinteraksi dengan penonton—interaksi yang hangat. Apalagi ketika ia mendekat ke bangku penonton. Walaupun tak jarang berteriak takut, beberapa penonton merasa senang dihampiri sosok Hanoman.

“Ada yang kaget, tetapi tidak ada yang memasang raut muka kesal. Penonton lokal maupun mancanegara suka,” katanya.

I Ketut Bagiana diajak foto para tamu | Foto: Dok. Bagiana

Dari sekian karakter dalam Tari Kecak, Hanoman merupakan sosok yang menyita perhatian. Sosok ini lebih banyak diminta atau diajak berfoto. “Sebanyak apa pun yang minta foto, saya layani. Buat penonton puas!” ucapnya dengan tegas.

Selain menari di Pantai Melasti, Bli Toet juga pernah menari di pura, terutama di pura desa dan pura segara. Ia menganggap pentas di pura sebagai wujud rasa syukur; sedangkan di Pantai Melasti sebagai bentuk menyambung hidup.

Ada banyak pengalaman menarik selama Bli Toet menari Hanoman. Salah satunya adalah ketika ia mendapat kekasih dari Jepang. Perempuan Jepang itu sudah ia anggap istri. Perempuan itu juga sangat menyukai karakter Hanoman dalam Tari Kecak. Namun sayang, perempuan dari Negeri Sakura itu bukan jodohnya. Akhirnya, Bli Toet, lelaki berambut tipis sebahu yang suka memakai kacamata hitam itu, kini sudah memiliki dua anak, perempuan dan laki-laki, dari perempuan lain.

Saat saya tanya mengenai masa depan Kecak, Bli Toet menjawab dengan tegas. Menurutnya, Kecak masih menjanjikan di masa depan. “Dulu nggak banyak peminat, karena masih belum ramai. Sekarang karena sudah ramai, banyak yang ingin ikut ngecak. Tapi ya itu, ingin ikut karena tertarik upahnya, tidak benar-benar ingin berkesenian,” terangnya, menggebu-gebu.

Di akhir perbincangan, Bli Toet mengutarakan harapannya. Ia berharap anak keduanya, Kadek Dwik, bisa mewarisi dan meneruskan keahlianya dalam menarikan Hanoman, sebagaimana kakaknya, Luh Santika Putri, yang sudah menjadi penari.[T]

  • Catatan: Artikel ini adalah hasil dari pelatihan jurnalistik berkaitan dengan program magang mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali di tatkala.co

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Jaswanto

Tags: Desa UngasanHanomanI Ketut Bagianakecakkuta selatanPantai Melasti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Rakyat Kerja Rodi, DPR Bikin Komedi

Next Post

Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails

Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

by Angga Wijaya
February 16, 2026
0
Kevin dan Panggung yang Ia Tafsir —Dari SMAN 1 Kuta Selatan, Lahir Dalang Muda Berbakat

DI sebuah pementasan karya guru dan siswa SMAN 1 Kuta Selatan, Sanghyang Dedari Tunjung Biru Prabawan Dewi Saraswati, pada Sabtu...

Read moreDetails

Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

by Dede Putra Wiguna
January 10, 2026
0
Dari Kebun ke Mimbar Guru Besar: Prof. I Wayan Suanda dan Ilmu yang Tetap Membumi

TAHUN 2026 baru berjalan beberapa hari ketika Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mencatat peristiwa penting dalam sejarah akademiknya. Rabu,...

Read moreDetails

Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

by Dede Putra Wiguna
December 29, 2025
0
Konsisten Merawat Lingkungan, Nyoman Wirayuni Berhasil Raih Penghargaan Gender Champion dari Pemkot Denpasar

BERTEPATAN dengan Peringatan Hari Ibu Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025, di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Nyoman Wirayuni, SH.,...

Read moreDetails
Next Post
Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co