ENAM seniman pengabdi seni dari masing-masing desa adat di Kecamatan Kuta menerima penghargaan Abdi Budaya Nugraha bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI, Minggu (17/8). Penghargaan Abdi Budaya Nugraha tahun ke-3 ini diberikan oleh LISITBIYA Kecamatan Kuta sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya dalam menjaga denyut nadi kebudayaan di Kecamatan Kuta.
Inisiasi apresiasi ini lahir dari gebrakan LISTIBIYA Kecamatan Kuta melalui kepemimpinan Dr. I Gusti Made Darma Putra, M.Sn. Sejak awal, LISTIBIYA bukan hanya wadah administratif, melainkan garda terdepan penggerak kebudayaan. “Pengabdian para seniman ini adalah sumber api bagi perjalanan seni di Kecamatan Kuta. Mereka telah menyalakan suluh budaya tanpa pamrih,” kata Ketua Listibiya Kecamatan Kuta, Dr. I Gusti Made Darma Putra.
Pria yang akrab disapa Agung Ade Dalang itu menegaskan, penghargaan ini tidak boleh dipandang hanya sebagai seremoni. Abdi Budaya Nugraha adalah cara LISTIBIYA Kecamatan Kuta menyalakan semangat baru dalam ekosistem seni Kuta. “Melalui penghargaan ini, kami ingin memberi pesan jelas bahwa pengabdian terhadap seni tidak pernah sia-sia. Para seniman harus merasa dihargai, dan para generasi muda harus merasa tertantang untuk melanjutkan estafet berkesenian. Inilah energi kebudayaan yang sedang kami bangun di Kuta,” ungkapnya.
Enam nama dan enam teladan itu, yakni Alm. I Wayan Keplug – Desa Adat Kedonganan (Pengabdi Seni Karawitan) yang sejak muda hingga akhir hayatnya mendedikasikan diri pada dunia seni karawitan, khususnya dalam spesifik bidang suling Bali. Ia dikenang bukan hanya di Kecamatan Kuta, tetapi juga di luar wilayah, sebagai pakar suling Bali yang menorehkan teladan dalam ketekunan dan pengabdian.
Ni Ketut Suwendri, S.Pd – Desa Adat Kelan (Pengabdi Seni Tari), seorang guru seni tari yang konsisten menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap tari Bali. Melalui Sanggar Sekar Jepun yang tertelak di Desa Aday Kelan, ia membina anak-anak muda dari tingkat desa hingga kecamatan. Pengabdiannya menjadikan Desa Kelan dikenal sebagai desa dengan denyut seni yang selalu bersemi.
I Nyoman Kona Rajonta – Desa Adat Tuban (Pengabdi Seni Karawitan), merupakan tokoh seni Desa Adat Tuban yang tak henti memberi semangat dan motivasi bagi generasi muda. Ia kerap dipercaya mengkoordinir duta seni Desa Adat Tuban dalam berbagai kegiatan, mulai dari gong kebyar hingga kesenian lainnya. Spirit pengabdiannya menjadi teladan yang menghidupkan Tuban sebagai desa dengan semangat seni yang menyala.
I Wayan Dendi – Desa Adat Kuta (Pengabdi Seni Karawitan), sebagai penjaga setia gending-gending Maestro Lotring, pusaka musikal agung yang menjadi kebanggaan Desa Adat Kuta. Dengan ketulusan, ia mengabdikan diri agar warisan musikal tersebut tetap hidup dan berkesinambungan. Melalui perannya, generasi muda Kuta terus mewarisi karya-karya besar Maestro Lotring.

Ketua Listibiya Kuta Dr. I Gusti Made Darma Putra, M.Sn. menyerahkan penghargaan | Foto: Bud
I Nyoman Nyampet – Desa Adat Legian (Pengabdi Seni Karawitan), seorang pengabdi seni dari Desa Adat Legian yang berhasil melahirkan banyak seniman berbakat. Dengan spirit pengabdian, ia menanamkan nilai-nilai seni yang kini telah berbuah manis. Jejak langkahnya menjadi fondasi kuat bagi Legian untuk terus mengembangkan seni sebagai warisan budaya yang berharga.
Anak Agung Ketut Adi Kusuma – Desa Adat Seminyak (Pemerhati Seni dan Budaya), seorang pemerhati seni dan budaya yang dilandasi kegelisahan akan pudarnya semangat generasi muda Seminyak terhadap seni. Dengan penuh harapan, ia membangun kembali semangat itu hingga seni Seminyak bangkit dan berkembang. Visi dan dedikasinya menjadikan beliau penggerak kebangkitan seni di Seminyak.
Sekretaris Kecamatan Kuta, I Made Agus Suantara, SE., MSi., MAP, memberikan penghargaan yang tinggi atas inisiatif LISTIBIYA Kecamatan Kuta. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata komitmen Kecamatan Kuta bersama LISTIBIYA Kecamatan Kuta dalam menjaga, melestarikan, sekaligus memberikan ruang penghormatan kepada para seniman yang telah mendedikasikan hidupnya bagi budaya.
“Seni adalah denyut nadi kehidupan masyarakat Kuta, dan apresiasi ini harus menjadi energi positif untuk terus berkarya, menguatkan identitas, serta memperkaya jiwa generasi penerus,” ungkapnya.
Sedangkan, Kasi Pemberdayaan Masyarakat, I Ketut Astawa Wibawa, ST., MAP, mengatakan, penghargaan ini adalah bukti bahwa kesenian tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga memiliki kekuatan sosial yang mampu memberdayakan masyarakat. “Melalui dedikasi para seniman, masyarakat Kuta akan terus memiliki ruang untuk tumbuh, menemukan jati diri, serta menjadikan seni budaya sebagai pilar kebersamaan dan kesejahteraan bersama,” ucapnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























