SORE ini, ketika aku duduk bersandar di sofa usang yang mulai kehilangan empuknya, aku menatap dua bocah lucu, cucuku tercinta. Yang satu lima tahun, yang satu lagi belum genap tiga tahun. Mereka sedang bermain lego, berteriak-teriak kecil, mulai berebut warna kesukaan masing-masing. Di sela keributan itu, aku membuka Instagram. Entah kenapa, algoritma mengarahkan ke sebuah konten bertema kohabitasi.
Kata itu terdengar asing sebagai wujud baru dari living together. Anak-anak muda memilih tinggal bersama pasangannya tanpa ikatan pernikahan yang sah. Di zamanku, ini disebut kumpul kebo, sebuah istilah yang dulu hanya dibisikkan dengan malu-malu, kini dibahas di kanal publik dengan nada santai dan percaya diri.
Aku diam, bukan karena terkejut, tapi karena bertanya dalam hati, “Bagaimana dunia yang akan ditemui cucu-cucuku kelak?”
Politik Simbolik dalam Kehidupan Sehari-hari
Sebagai perempuan yang mengabdi di dunia pendidikan dan aktif dalam berbagai ruang publik, aku menyadari bahwa pola relasi yang berubah tidak sekadar urusan pribadi. Ia adalah bagian dari konstruksi politik yang lebih besar, tentang wacana, media, dan bagaimana negara (atau aktor-aktor politik) merumuskan apa yang disebut sebagai normal.
Di sinilah kajian komunikasi politik menjadi relevan, ketika kohabitasi tak lagi sekadar praktik personal, tapi menjadi narasi yang diangkat, diperdebatkan, dan dipertentangkan dalam ruang-ruang politik budaya. Kohabitasi adalah konten viral, sekaligus pernyataan sikap atas sistem nilai. Ada politik identitas yang dibawa, ada resistensi terhadap institusi pernikahan konvensional, dan ada tafsir baru tentang kebebasan individu.
Cucu dan Konstruksi Makna Lewat Representasi Media
Anak kecil belum membaca berita, belum menonton talkshow politik. Tapi mereka, cucuku, sudah mulai menyerap makna dari tayangan YouTube, iklan, dan cerita-cerita dari teman bermain. Ini bukan sekadar hiburan, tapi proses komunikasi politik kultural, bagaimana nilai ditanamkan lewat simbol, cerita, dan citra.
Media tidak netral. Ia menyampaikan pesan-pesan yang membentuk opini publik. Jika dulu negara begitu kuat mengatur narasi keluarga lewat pendidikan formal dan televisi nasional, kini algoritma media sosial jauh lebih cepat dan menyusup lebih dalam ke ruang domestik. Termasuk ke ruang tempat cucuku bermain.
Maka, kekhawatiran ini bukan tentang moral puritan. Ini soal bagaimana negara, media, dan masyarakat saling tarik-menarik dalam mendefinisikan norma. Dan sebagai bagian dari warga negara yang juga seorang nenek, aku merasa punya tanggung jawab untuk ikut menyulam narasi tandingan, dengan cara paling sederhana: lewat cerita, lewat pelukan, lewat diskusi kecil sebelum tidur.
Politik Tubuh dan Narasi Rumah
Dalam komunikasi politik, rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga arena produksi wacana. Siapa yang tinggal dengan siapa, bagaimana relasi dibentuk, siapa yang memutuskan dan siapa yang patuh, semua adalah ekspresi dari kuasa. Maka ketika kohabitasi menjadi gaya hidup, yang bergeser bukan hanya praktik tinggal bersama, tapi makna dari komitmen, perlindungan hukum, dan reproduksi sosial.
Aku tidak ingin membesarkan cucuku dalam ketakutan terhadap perubahan. Tapi aku ingin ia tumbuh dalam kesadaran bahwa tidak semua pilihan bebas dari konsekuensi. Bahwa kebebasan memilih bukan berarti kebebasan dari tanggung jawab sosial. Bahwa ada sistem nilai yang diproduksi lewat relasi kekuasaan, dan penting baginya kelak untuk bisa membaca, bukan hanya mengikuti arus.
Menyemai Kesadaran Lewat Kehadiran
Kami punya kebiasaan kecil: membaca buku sebelum tidur. Kadang tentang binatang, kadang tentang petualangan ajaib. Di sela cerita-cerita itu, aku menyelipkan nilai, tentang rumah yang aman, tentang saling menjaga, dan tentang pentingnya komitmen dalam relasi apa pun bentuknya.
Barangkali nanti, ketika ia remaja, akan muncul pertanyaan, “Nenek, kenapa teman-temanku tinggal bareng pacarnya tanpa menikah?”
Aku tidak ingin menjawab dengan larangan. Tapi aku ingin bisa mengajaknya duduk, memetakan bagaimana wacana tentang relasi dibentuk, dan mengajaknya berpikir kritis tentang pilihan-pilihan hidup.
Mewariskan Nalar Kritis
Sebagai nenek yang juga seorang warga negara, aku tidak bisa mengatur masa depan cucuku. Tapi aku bisa membekalinya dengan nalar. Bahwa setiap keputusan personal selalu punya dimensi sosial. Bahwa tubuh dan relasi bukan cuma urusan privat, tapi juga medan politik yang selalu dinegosiasikan.
Kohabitasi, seperti banyak isu lain, bukan sekadar hitam-putih. Tapi dari ruang rumah yang kecil ini, dari meja makan dan tempat tidur, aku berharap cucuku bisa tumbuh dengan kesadaran kritis: bahwa hidup bersama bukan hanya tentang berbagi ruang, tapi tentang memilih nilai yang menopang kehidupan bersama. [T]
Penulis: Sri Pangestuti
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























