I Nyoman Manda, seorang tokoh sastra Bali yang sampai saat ini masih aktif menulis puisi, cerpen, dan novel. Karya-karyanya sering mengangkat tema-tema kehidupan sosial dan kritik terhadap modernitas. Termasuk menyoroti ketimpangan sosial, perbedaan penghasilan antara seniman dengan pemandu wisata, serta refleksi atas kehidupan modern yang serba cepat dan penuh gemerlap. Karya-karya puisinya yang akrab itu sering diaransemen untuk dijadikan musik puisi.
I Nyoman Manda menerima penghargaan Bali Jani Nugraha serangkaian Festival Seni Bali Jani 2025 yang diserahkan Gubernur Bali I Wayan Koster pada malam penutupan festival itu di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, Senin, 28 Juli 2025.
Pria kelahiran Banjar Pasdalem Gianyar, 14 April 1938 itu memang layak mendapatkan Bali Jani Nugraha, Ia mulai aktif menulis awal tahun 1970-an, terutama ketika Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) Provinsi Bali dan Balai Bahasa Singaraja mengadakan lomba. Lomba sastra itu merangsang anak-anak muda menggeletuti sastra, termasuk dirinya. Ia sangat tertarik, dan terlibat sebagai peserta. Ia kerap kali keluar sebagai pemenang, seperti berhasil sebagai penulis drama terbaik, penulis naskah terbaik dan lainnya. Ia mendapat kesempatan tampil di BBC London membaca Puisi Pantai.
Nyoman Manda yang lahir dari keluarga seniman Dramatari Arja sangat mencintai seni sastra Bali. Ia seakan gila dengan sastra Bali modern itu. Ia banyak melahirkan karya sastra yang sering diterbitkan di Harian Merdeka, Suara Karya, Bali Post, dan Nusa Tenggara. Karyanya yang terkenal saat aktif menulis di Bali Post, yaitu Bunga Gadung Ulung a Bancang, Love Story dan karya sastra lainnya.
Karyanya yang juga terkenal, beruoa cerpen berjudul “Togog” yang memenangkan hadiah pertama dalam sebuah sayembara. Lalu, puisi “Buin Pidan ada Anak Nyatua” karya sastranya yang berisi kritik terhadap dunia modern memikat para pecinta sastra. Lalu, karyanya “Kasih Bersemi di Danau Batur” didramakan oleh Gede Darna dengan karya “Tresne Leket di Danau Batur yang menjadi suguhan favorit saat itu.
Suami Alm. Ni Made Serut ini memiliki motto hidup untuk menulis. Aktivitas sastranya semakin aktif, ketika menjadi guru SMA Negeri Gianyar. Ia mengajar ekstra kurikuler drama kepada para siswa. Sejak saat itu pula, membuat dan membentuk Teater Malini dengan kegiatannya akif membaca puisi. Di sana, ada seniman Bali terkenal Umbu Landu Paranggi yang hanya memanfaatkan Bale Dangin sebagai tempat latihan. Kebetulan, ada TVRI, sehingga menyambung. Sebab, setiap hari berlatih puisi dan drama, lalu diberikan pentas di TVRI.

I Nyoman Manda
Ayah dari tiga putra ini banyak terinspirasi dari Sutan Takdir Alisjahbana. Pengarang sastra Indonesia yang terkenal itu ikut bekerjasama dengan Sanggar Malini yang hampir 11 tahun. Saat itu, sering melakukan pentas di Toya Bungkah, Kintamani, Bangli. Aktivitasnya ini sangat mendukung berkembangnya sastra Bali modern di Bali. Hal itu dibuktikan dengan terbentuknya kembali sastra bernama “Sanggar Purnama” yang anggotanya pemain drama gong, seperti Anak Agung Payadnya.
Kedua sanggar sastra itu, seakan menjadi nafas semakin berkembangnya sastra Bali modern di Pulau Dewata. Selain giat berlatih, dan melakukan pementasan, sanggar sastra ini juga mendapat apresiasi untuk tampil di TVRI Bali. Saat itu, tiga sastrawan yang aktif menyajikan kegiatasan sastra di TVRI, yaitu Nyoman Manda menanmpilkan Drama Modern Remaja, Anom Ranuara menyajikan Drama Klasik, dan Made Taro mementaskan drama anak-anak.
Tampil dalam tayangan TVRI itu, selain membuat Nyoman Manda senang dan bangga, kegiatan itu juga sebagai uapaya untuk menjaga dan mengembangkan sastra Bali modern ke masyarakat Bali secara luas. Walau dalam kegiatan drama itu tidak menghasilkan uang, namun ia merasa bangga dan senang dapat menjaga sastra Bali modern untuk tetap hidup. Ia terkadang bersama Sutan Takfir Alishaybana memanfaat tayangan TVRI sebagai ajang untuk membaca puisi.
Perintis majalah sastra Bali Modern
Jika Sastra Sunda Modern berkembang, dan Sastra Jawa Modern maju, maka Sastra Bali Modern harus ada. Keberadaan sebagai bukti, kalau sastra Bali modern itu tetap ada dan berkembang. Rasa jengah itulah yang mendorong Nyoman Manda, bersama teman-temannya, seperti Made Sangra, Samar Gantang, Gede Darna untuk menghidupkan sastra Bali modern ini. Apalagi, Bali terkenal dengan sastra kuno Ramayana itu mestinya harus berlanjut, tidak mandek sampai disitu.
Majalah bahasa Sunda modern yang berkembang pesat, dan di Rawamangun majalah maju, maka majalah sastra Bali modern juga harus ada. Mesti ia tahu, majalah itu tidak akan banyak yang membacanya, tetapi majalah ini sebagai bukti kalau sasyra Bali modern di pulau mungil itu ada. Itulah yang mamacu I Nyoman Manda untuk menggagas membuat majalah sastra Bali modern. Ia bersama Made Sangra kemudian membuat majala berjudul “Canang Sari dan Satwa”.
Nyoman Manda merasa iri dengan majalah berbahasa Sunda yang memiliki peran penting dalam dunia kesusastraan Sunda dan menjadi wadah bagi banyak pengarang dan penulis Sunda. Majalah ini, bahkan sebagai penyebar semangat, namun hal itu tidak ada di Bali. Nyoman Manda lantas mendorong teman-temannya untuk mengisi dan menghidupkan majalah Canang Sari dan Satwa itu. Ia sangat kagum dengan pengarang dari Sunda, Ajip Rusidi yang seorang sastrawan Indonesia. Ia kemudian merasa tertantang untuk mengembangkan majalah sastra itu. Setelah itu, dibantu Balai Bahasa Bali pimpinan Alm. Pak Bagus majalah itu bisa terwujud.
Nyoman Manda bersama Made Sangra terus menulis sastra Bali modern di majalah tersebut. Selain mengisi majalah itu, ia juga tetap menulis dan untuk mengikuti lomba ataupun kegiatan sastra. Sampai saat ini, Nyoman Manda sudah menerbitakan sebanyak 80 buku baik itu berbetuk novel ataupun sejarah, serta telah menulis puisi dengan jumlah 4000 halaman.
Nyoman Manda sangat tahu, kalau majalah itu tidak laku di Bali, tidak akan ada yang membeli, sehingga telah menyiapkan rak untuk menaruhnya. Walaupun majalah itu tidak dibaca, tetapi yang penting ada bukti, bahwa di Bali ada orang-orang yang masih mencintai Sastra Bali, yang melanjutkan sastra kuno yang ada. Ia memiliki pikiran, tidak akan mungkin orang luar bali yang melestyarikan sastra Bali itu. Kalaau bukan orang bali, lalu siapa lagi.
Walau demikian, Manda merasa senang senang karena beberapa mahasiswa menjadikan majalah itu penelitian skripsi. Kalau anak-anak muda jangan harap membacanya. Karena itu, ia mencoba untuk terus mengembangkan majalah sastra Bali modern itu. Manda berpikir, orang buisa terkenal dengan sastra Indonesia, lalu ia berpikir kenapa tidak dengan bahasa bali. Maknya ia bersama teman-temannya berusaha menghidupkan sastra Bali modern itu hingga saat ini.

I Nyoman Manda
Meski sudah memiliki banyak karya, namun Nyoman manda masih terus belajar dan belajar. Alasan itu sangat sederhana, ia berpikir kalau dulu, ada sastra Ramayana yang sangat terkenal karena sering dijadikan sesuluh hidup. Dalam posisi yang lebih muda, kemduian ada karya sastra berjudul I Swasta Setahun di Bedahulu adalah roman yang dikarang oleh Anak Agung Pandji Tisna. Namun belakangan tidak ada sastra yang muncul, sehingga hal ini yang terus didorong diawali dari belajar.
Menulis itu Bermanfaat
Ketika bertemu teman, Nyoman Manda bukan hanya menyapa basa basi, tetapi ada hal yang mesti dipetik. Sebut saja ketika bertemu Pramoedya Ananta Toer. Sebagai pengarang novel terkenal di tahun 1940-an itu mengajak Nyoman manda untuk menulis setiap hari. Ia benar-benar mengikuti jejak Pramoedya Ananta Toer itu. Nyoman Manda kemudian terus berkumpul dengan teman-temanmnya, seperti Made sangra, Gede Darna, Samar Gantang untuk terus mengarang.
Inspirasi untuk teruys menulis itu juga lahir dari penghargaan sastra Rancage yang didirikan oleh Ajip Rosidi untuk menghargai karya sastra berbahasa daerah dan tokoh yang berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerah. Penghargaan ini yang mendorong ada penulisan buku Sebab, jika tidak memiliki tulisan buku, maka tidak mungkin menerima penghargan itu. Cara seperti ini yang bisa ditiru untuk megembangkan sastra Bali modern di Pulau Dewata.
Alasannya sangat sederhana, Bali terkenal karena sastra dan budaya. Ada warisan berupa sastra kiuuno Ramayan dan Mahaberata. Namun, ia merasa tidakhanya cukup ada itu saja, melainkan mesti tumbuh karya sastra yang lain. Dengan begitu, cerita yang lahir akan menyambung sastra yang telah berkembang sejak lama. Sekarang ini pemerintah memang sudah melakukan program positif untuk merangsang satrawan-satrawan muda lahir.
Walau sudah mulai uzur, keinginan Nyoman Manda untuk menghidupkan sastra Bali modern tak pernah surut. Ia bertekad akan menulis sampai akhir hidupnya. Maka itu, ia selalu menulis, sehingga di Bale Daja, tempat ia bersantai ada computer, di kamar tidur juga ada Laptop yang setiap waktu bisa menulis.
Sekarang ini leboih banyak menulios di hand pone. Itu karena jaman telah berubah. Koran mulai jarang ada, bahkan mungkin tidak akan ada. Maka sekarang bisa membaca sastra lewat HP. Maka itu, Manda terus menulsi puisi. Mulai dua tulisan, sehingga setiap pagi selalu ada konten yang diungguh. Konten terakhir yang diunggah tentang Kertagosa dan Serombotan Klungkung.
Penghargaan
Nyoman menerima penghargaan dari Gubernur Bali, seperti Dharma Kusuma, Widya Pataka, selanjutnya sebanyak 3 kali masuk menerima penghargan dari Rancage. Setelah mendapat pengakuaran itu semakin sering menulis. Sehari-harinyua selalu menulis dan menulis. [T/*]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























