SIRINE meraung tiba-tiba. Aula utama SMK Kesehatan Bali Medika seolah berguncang. Para siswa baru yang tengah duduk rapi sontak berdiri, menunduk sambil melindungi kepala, lalu bergerak keluar mengikuti instruksi. Beberapa terlihat panik, yang lain mencoba tetap tenang, melangkah dengan langkah-langkah kecil penuh kewaspadaan.

Simulasi bencana gempa bumi di SMK Kesehatan Bali Medika (Kesbam) │Foto: OSIS Kesbam
“Gempa! Berlindung, lalu evakuasi!” teriak seseorang, berseru dengan pelantang suara.
Begitulah suasana pada hari kedua kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMK Kesehatan Bali Medika, Denpasar pada Selasa, 22 Juli 2025. Sekolah kesehatan yang telah berdiri selama 16 tahun ini menyisipkan pelatihan kesiapsiagaan bencana ke dalam kegiatan orientasi siswa.

Para siswa berhamburan menuju halaman │Foto: OSIS Kesbam

Putu Witha, SE., saat mempresentasikan materi│Foto: OSIS Kesbam
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh Putu Witha, SE., selaku Kepala Seksi Pelayanan Kegawatdaruratan, BPBD Provinsi Bali. Dalam presentasinya, ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan tindakan saat terjadi bencana, terutama di daerah rawan seperti Bali. Terlebih Bali adalah salah satu daerah yang dilalui zona megathrust. Jadi, tetap perlu waspada terhadap potensi gempa bumi dan tsunami.
“Bencana tidak bisa diprediksi, tapi dampaknya bisa diminimalkan jika masyarakat tahu apa yang harus dilakukan. Pendidikan kesiapsiagaan kebencanaan harus dimulai sejak dini, termasuk di sekolah,” ujar Putu Witha.

Simulasi bencana gempa bumi di SMK Kesehatan Bali Medika│Foto: OSIS Kesbam
Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi evakuasi gempa bumi yang diisi oleh I Nyoman Suka Arnawa, SH., MAP., selaku Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda, BPBD Bali. Ia mengarahkan langsung jalannya simulasi, mulai dari pembunyian sirine, evakuasi menuju titik kumpul, hingga penanganan korban luka-luka.
“Simulasi ini tidak sekadar formalitas. Kami ingin siswa benar-benar mengingat langkah-langkah yang mereka ambil saat menyelamatkan diri. Bukan hanya hari ini, tapi juga saat bencana sungguhan terjadi,” tegas Suka Arnawa di hadapan peserta.

Simulasi pertolongan terhadap korban bencana gempa bumi │Foto: OSIS Kesbam
Beberapa siswa berperan sebagai korban dengan luka ringan. Guru dan siswa lain ikut ambil peran sebagai tim medis dan penolong. Suasana dibuat semirip mungkin dengan situasi gempa sungguhan, di mana setiap gerak-gerik mereka punya andil besar.
Simulasi berlangsung selama satu jam dan ditutup dengan evaluasi singkat dari tim BPBD. Mereka mengapresiasi ketertiban dan keterlibatan siswa, serta berharap kegiatan seperti ini menjadi agenda rutin dalam dunia Pendidikan, khususnya di SMK Kesehatan Bali Medika.
Kegiatan itu menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan bagi sebagian siswa baru SMK Kesehatan Bali Medika. Mereka datang ke sekolah untuk belajar tentang dunia kesehatan, tapi justru mendapat pelajaran pertama yang sangat penting: kesiapsiagaan dan keselamatan adalah ilmu dasar yang tak boleh dilewatkan sebagai seorang tenaga kesehatan. Dan siapa sangka, pelajaran itu dimulai bukan dari catatan buku ataupun ceramah membosankan, tapi dari raungan sirine dan langkah cepat menyelamatkan diri.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto



























