RIUH netizen membahas bagaimana beberapa influencer menjual makanan dengan harga yang cukup “wow” jika dibanding dengan harga makanan yang sama pada umumnya. Netizen menyoroti disparitas harga yang cukup mencolok antara produk yang dijual para pesohor internet ini dengan makanan serupa di pasaran, bahkan dari pelaku UMKM.
Kegaduhan ini mewakilkan keresahan publik terhadap fenomena “harga popularitas” yang dinilai tidak masuk akal, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menuntut masyarakat lebih cermat dalam berbelanja.
Pinkan Mambo yang sempat menghilang dari sorot kamera kembali hadir di jagat maya, mencoba peruntungan panggung tiktok sebagai konten kreator. Kembalinya Pinkan dengan bisnis donatnya tidak luput dari sorotan publik dan menuai beragam reaksi, baik positif maupun negatif. Salah satu review datang dari food vlogger ternama, Nanakoot, pada 12 Juli 2025 mengunggah video ulasan donat Pinkan Mambo.
Dalam videonya Nanakoot secara blak-blakan menyebut donat seharga Rp200.000,- tersebut kotaknya tidak representable. Kemudian dari segi tekstur, rotinya sangat padat, “But I don’t think like I’m eating doughnut, gituloh. Lebih kearah roti goreng”, ucapnya.
Hal tersebut menuai beragam tanggapan di media sosial mulai dari “Kok kaya yang aku beli di Pasar Senen ci”, “Dusnya sedih banget”, hingga “Kayanya enakan donat 2 ribuan yang sering lewat depan rumah”. Komentar-komentar seperti ini menunjukkan preferensi netizen yang semakin condong ke arah nilai dan dukungan terhadap ekonomi lokal.
Berbeda dengan Renald Fadli, melalui platform Tiktok dan sosial media lainnya, ia berhasil menciptakan hype untuk basreng kemasan 250 gram dengan harga 30 ribuan. Harga ini memang sedikit lebih mahal dari biasanya, namun Renald mampu mengimbangi dengan kemasan yang eye-catching, serta yang paling penting adalah rasa yang enak dan konsisten.
Netizen pun membanjiri dengan ulasan yang positif, seperti “Udah order kedua kalinya disini, urusan rasa ga perlu diragukan lagi” atau “Enak banget rasanya dan gak keras”. Ini menunjukkan konsumen tidak masalah membayar lebih jika ada jaminan kualitas dan kepuasan. Usaha yang dimulai Renald dari iseng, hanya dibantu beberapa orang, kini berkembang menjadi UMKM yang maju. Ini berarti terciptanya lapangan pekerjaan baru dan ia turut berkontribusi pada ekonomi lokal.
Dari sudut pandang komunikasi bisnis, kejadian ini menjadi peringatan keras bagi para influencer dan pengusaha. Popularitas memang bisa mendongkrak penjualan, namun jika harga produk yang ditawarkan tidak resonan dengan persepsi nilai konsumen, hal itu bisa menuai gelombang kritik dan boikot massal. Netizen semakin ke sini semakin melek digital dan memiliki kekuatan kolektif, secara aktif memberikan dukungan mereka kepada masyarakat pejuang UMKM di sekitar ataupun jalanan.
Mereka menekankan bahwa makanan UMKM seringkali memiliki harga yang jauh lebih murah tetapi dengan rasa yang bersaing atau bahkan lebih otentik. Ini menunjukkan pergesaran tren, dimana konsumen tidak semata mencari produk, tetapi juga ingin berkontribusi pada keberlanjutan ekonomi masyarakat kecil, sebuah aspek penting dalam membangun citra positif dan berkelanjutan bisnis di era digital ini. [T]
Penulis: Fitria Hani Aprina
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























