MASYARAKAT pecinta seni modern boleh berbangga, karena Festival Seni Bali Jani (FSBJ) ke-7 tahun 2025 akan digelar selama sepuluh hari, mulai Sabtu 19 Juli hingga Senin 28 Juli 2025. Dalam pelaksanaan tahun ke-7 ini, mengangkat tema “Semesta Cipta Jagat Kerthi: Harmoni Bumi Bali”. Tema ini menekankan pada konsep keselarasan alam Bali dan kreativitas dalam menciptakan karya seni yang harmonis.
“Festival Seni Bali Jani merupakan kegiatan apresiasi budaya untuk pemajuan kesenian modern, kontemporer dan seni inovatif diselenggarakan sebagai aktualisasi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, yang diundangkan 9 Juli 2020,” kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar.,M.Hum., Kamis 17 Juli 2025.
Karena sudah diperdakan, jelas Prof. Gede Arya Sugiartha, maka Festival Seni Bali Jani tetap harus berlangsung dan berdiri sendiri. Di dalam pelaksanaanya, melalui lima konsep. Konsep eksplorasi yakni pencapaian seni inovatif berbasis kreativitas pribadi, sementara ide dan subjek eksplorasi tetap berbasis tradisi atau nilai local dengan lima konsep eksproimentasi yakni pencapaian seni modern/kontemporer berbasis kreativitas dan percobaan medium/media.
Selanjutnya konsep lintas batas adalah pencapaian seni baru berbasis alihmedia, multimedia maupun transmedia. Konsep kontektual yakni pencapaian seni baru secara tematik, gaya, dan style relevan dengan konteks tema dan waktu penyelenggaraan Festival Seni Bali Jani, dan konsep kolaborasi adalah proses dan pencapaian seni modern/kontemporer berbasis sinergi dan kerjasama antar seniman Bali atau luar daerah/luar negeri.
Materi di dalan ajang seni modern itu sama seperti tahun sebelumnya yang menyajikan sebanyak 8 materi, yaitu Pawimba (Lomba), Adilango (Pergelaran), Utsawa (Parade), Beranda Pustaka (Bursa Buku), Aguron-guron (Loka karya), Timbang Rasa (Serasehan), Megarupa (Pameran), dan Bali Jani Nugraha. “Materinya seperti Pesta Kesenian Bali, tetapi jumlahnya lebih sedikit, tetap ada lomba, pergelaran, serasehan, pameran, penghargaan seni,” paparnya.
Untuk lomba ada dua jenis, yaitu musikalisasi puisi dan lomba tari modern untuk tingkat SMA/SMK dan umum se-Bali. Peserta lomba musikalisasi puisi diikuti sebanyak 16 kelompok, dan lomba tari modern diikuti sebanyak 11 peserta. “Peserta lomba musikalisasi puisi dan lomba tari modern kali ini cukup banyak. Kalau missal kita pakai tingkat kabupaten dan kota, itu hanya ada 9, tetapi ini lumayan lebih,” ucapnya.
Pembukaan Festival Seni Bali Jani berbarengan dengan Penutupan PKB ke-47 yang berlangsung di Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Bali. Setelah penutupan PKB ke-47, dilanjutkan dengan Pembukaan Festival Seni Bali Jani dengan mempergelarkan kolosal kolaborasi berjudul “Maya Kala Tekno” yang bukan lagi sendratari. Ini merupakan garapan Sanggar Kokar Bali. Sedangkan saat penutupan “Selebrasi Musika Jani” – Lolot Band & Friends, musik-musik Pop Bali yang sedang ngetop diberikan peluang untuk menghibur penonton.
Festival Seni Bali Jani tahun 2025 ini juga dimeriahkan oleh seniman-seniman dari luar daerah yang sudah mumpuni memiliki reputasi nasional bahkan internasional. Mereka itu Teater Garasi (Yogyakarta) sebuah Teater Modern “The Brief History Of Dance” dan Teater Legion 28 (Tasikmalaya) Teater “Megatruh”.
“Kehadiran kesenian luar daerah ini untuk menjadikan tempat anak-anak belajar dari karya teater yang sudah mapan, kita mencontohnya menjadikan rujukan juga,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Bali Arya Sugiartha (kiri) dan kurator Festival Seni Bali Jani, Warih Wisatsana | Foto: tatkala.co/Bud
Sementara untuk Adilango (Pergelaran) Sedang menampilkan Teater Selem Putih : Teater Modern bertajuk “Topeng”, Teater Mini : Teater Modern “Topeng”, Teater Agustus : Teater Modern dengan judul “Bumi, Bum, Bum, Bum!”, Teater Kini Berseri : Teater Modern bertajuk “Les Tari” dan Tari Modern Naluri Manca : Pertunjukan Tari berjudul “Cipta Rwa Loka”. Naluri Manca ini memiliki karya-karya yang sangat menarik. “Judul garapan mereka juga unik-unik,” sebutnya.
Utsawa (Parade) lebih banyak tentang musik pop Bali. Dulu, ada di PKB sekarang dipindahkan ke Festival Seni Bali Jani, lagu yang memang pop Bali menggunakan tangga nada pentatonic yang Bali yang pernah dipopulerkan dulu. Lagu pop Bali Eka Mahardika: Lagu Pop “Berhembus dalam Mahardika Terbuai Harmoni Bali Jani” (Denpasar), Lagu pop Bali Cressendo : “Lagu Bali – Pekeling lan Pitutur” (Gianyar), Lagu pop Bali Sanggar Semaradhana: “Musik Bali Kreasi, Buleleng North Bali” (Singaraja).
Ada Emoni Bali: Pagelaran Musik ”Rarasantara Jejak Rasa Bumi Bali, Dramatisasi Puisi oleh Dermaga Seni Buleleng piminan Prof. Dr. Gde Artawan) : “Tribute to I Gde Dharna, yang banyak menciptakan lagu-lagu Bali. IODI (Ikatan Olah Raga Dansa) Provinsi Bali: “Dancesport Kolaborasi Nusantara”.
“IODI ini memiliki masa aktif dan pengemar banyak, sehingga dipastikan bakalan ramai,” jelasnya.
Komunitas Seni Candaka: Parade Pembacaan Puisi “Semesta Suara Pujangga”, lalu Teater Jineng: Parade Monolog “Tutur Bumi Kamulyan” serta dimeriahkan Haridwipa Gambelan Grup: ”Tribute to Samar Gantang”. Ini sebuah tribute untuk Samar Gantang yang terkenal dengan pusisi Leak.
Untuk aguron-guron (lokakarya) ada dua topik yaitu Upaya Alih Media Seni Kini dan IT dalam Seni Kini. Lokakarya ini sasarannya adalah para pelajar, mahasiswa, komunitas seni modern, pemerhati seni. Sementara narasumber yang dihadirkan para maestro yang memiliki kompetensi dan rekam jejak yang relevan dengan materi lokakarya.
Lalu, untuk Timbang Rasa (Sarasehan) mengangkat topik merespon dinamika seni modern di Bali dan Indonesia yang menyajkan materi kontekstual dengan tema serta dinamika seni terkini. Sebagai keynote speaker ibu Putri Koster, dan menghadirkan narasumber Marmar Herayukti, Dr. I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani dan Dr. Nyoman Sujana Suklu, yang ahli instalasi modern.
Untuk Beranda Pustaka (Bursa Buku) dari Sanggar Seni Gita Mahardika dengan isian acara pameran buku nasional dan buku penerima Bali Jani Nugraha, demo kartun serta diskusi buku penerima Bali Jani Nugraha 2025.
Sementara Pameran Megarupa dari Yayasan Sahaja Sehati dan ISI Bali. Sedangkan untuk Bali Jani Nugraha merupakan pengakuan dan apresiasi pemerintah Provinsi Bali, atas prestasi, dedikasi serta pencapaian seniman, penulis, kritikus, pelaku seni modern, kontemporer dan seni inovasi lainnya dalam pemajuan seni modern dan/atau kontemporer. Penerima Bali Jani Nugraha diawali dengan diseleksi, diverifikasi, dan dinilai oleh Tim Penilai Bali Jani Nugraha Provinsi Bali.
Sedangkan yang baru dalam ajang ini, yakni Stand Kuliner dan UMKM Bali Jani (Kekinian) yang ada di PKB itu dimohonkan untuk berlanjut lagi sepuluh hari. Termasuk IKM yang sedanga berpameran di Bali Bangkit, sehingga menjadi ramai.
“Biar sama kunjungannya dengan PKB itu keinginannya. “Untuk Festival Seni Bali Jani ada total 27 sajian acara, dan total 2.148 seniman yang terlibat,” kata Arya Sugiartha. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























