6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pertunjukan Seni Tradisi dan Seni Modern di Satu Panggung: Mempertemukan Ego Antarseniman

Gede Angga Prasaja by Gede Angga Prasaja
April 11, 2025
in Esai
Pertunjukan Seni Tradisi dan Seni Modern di Satu Panggung: Mempertemukan Ego Antarseniman

Pentas gong kebyar dan musik di Taman Bung Karno Singaraja | Foto: tatkala.co/Rusdy

DENGAN berkembangnya industri kreatif di era globalisasi ini, dunia seni terus bergerak cepat dengan penuh semangat yang membuat kolaborasi antar genre seni menjadi hal yang sudah biasa.

Panggung pertunjukan saat ini tidak lagi kaku dalam menyajikan satu jenis seni saja, melainkan lebih terbuka untuk dapat menyandingkan genre seni yang berbeda dalam satu ruang yang sama.

Salah satu kolaborasi yang sangat sering disuguhkan pada acara-acara adalah menggabungkan seni pertunjukan tradisional dengan seni pertunjukan modern, terutama pertunjukan musik, dalam satu panggung. Sesungguhnya tidak tepat disebut kolaborasi, karena tak ada penggabungan antara dua unsur kesenian itu. Tepatnya, bisa disebut tampil dalam satu acara di atas panggung secara bergiliran.

Tapi, apa pun namanya, dua jenis seni pertunjukan dari dua zaman yang berbeda itu selalu menarik untuk diperbincangkan. Sangat menarik, bagaikan bulan dan matahari bertemu, saling mengisi serta memperkaya suasana.

Namun apakah pertemuan selalu semulus konsep di atas kertas?

Seringkali, kolaborasi ini justru terhambat oleh satu hal yang paling mendasar yaitu ego antar pelaku seni.

Seni pertunjukan tradisional dan seni modern masing-masing pastinya memiliki filosofi, bentuk, hingga cara penyampaian yang berbeda. Seni tradisional bermula dari nilai-nilai adat tradisi dan budaya yang diwariskan turun-temurun. Indahnya seni tradisional tidak hanya terlihat dari ekspresi gerak atau bunyi, tetapi juga terlihat dari maknanya yang begitu dalam, serta kesakralan yang terdapat di dalamnya.

Seni modern tumbuh dari semangat kebebasan mengekspresikan diri, bebas mencoba hal-hal baru, serta sering juga bisa berani keluar dari kebiasaan , lebih cair dan lebih dapat menyesuaikan keadaan.

Ketika dua seni ini disatukan dalam satu ruang, sering muncul permasalahan. Salah satu contoh yang sering terjadi pada acara seni adalah pembagian panggung. Seniman tradisional sering merasa keberatan jika alat-alat musik modern seperti drum set, gitar, keyboard, hingga amplifier ditempatkan di atas panggung yang sama.

Mereka, seniman tradisional itu, berpendapat bahwa alat-alat tersebut mengganggu keindahan visual panggung tradisional, bahkan bisa juga dianggap mengganggu nilai kesakralan, Yang akhirnya beberapa di antaranya di setiap acara meminta agar alat-alat tersebut tidak dikeluarkan dulu (tidak diposisikan di panggung)  atau ditutup tirai sepenuhnya saat pertunjukan tradisional berlangsung.

Sebaliknya, seniman modern sering merasa permintaan itu adalah bentuk pembatasan dalam berekspresi dan juga harus menunggu lama untuk bisa memasang perlengkapan mereka, yang menurut mereka, akan mengganggu saat mereka pentas.  

Dalam beberapa kasus, ego ini menjadi konflik. Misalnya, dalam satu acara, terjadi kericuhan kecil yang membuat semangat kolaboratif berubah menjadi persaingan diam-diam antar kelompok seni.

Permasalahan ini sesungguhnya bermula pada beberapa hal.

Pertama, ketakutan hilangnya identitas budaya. Kedua, kurangnya ruang dialog kreatif yang mempertemukan antara dua seni yang berbeda tersebut. Dan, ketiga, superioritas gaya dan nilai seni.

Namun, semua permasalahan ini bisa diatasi jika semua pihak mampu membuka ruang komunikasi, saling mendengarkan, dan bersedia untuk mencari jalan tengah yang adil. Desain panggung bisa dirancang secara fleksibel dan berlapis.

Alat musik modern bisa ditempatkan di area yang bisa ditutup saat tidak digunakan, meskipun pada acara yang sama. Misalnya dalam acara menyambut Hari Sumpah Pemuda akan dilaksanakan kegiatan seni yang melibatkan pemuda-pemudi daerah, tentu saja dalam kegiatan tersebut akan ada seni tradisional dan seni modern. Nah tempatnya (venue) bisa dibedakan, seni tradisional dipentaskan di taman budaya  dan seni modern bisa dipentaskan di lapangan terbuka.

Bagaimana dengan penonton? Apakah nanti tidak terbagi? Iya jelas, yang menonton juga pasti akan memilih pertunjukan seni sesuai dengan yang mereka suka, jadi yang suka seni tradisional pastinya akan lebih memilih menjadi penonton di taman budaya, begitupun sebaliknya.

Atau bisa juga di satu lapangan atau tempat pertunjukan dibuat dua panggung yang berbeda, panggung tradisional dan panggung modern. Hal tersebut dapat terlihat indah, karena kita bersama bisa melihat penonton berbaur dalam satu lapangan meskipun dengan minat yang berbeda. Namun, dengan catatan, sound system yang dihasilkan tentu juga juga harus diperhitungkan agar tak saling menganggu.

Yang paling penting juga adalah harus ada pertemuan antara dua seni yang berbeda tersebut sejak awal proses persiapan. Setiap kelompok seni harus diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan harapan mereka, dari sana, panitia lebih bisa menyusun skemanya dengan rapi yang membuat kolaborasi antara dua seni tersebut indah.

Pemahaman juga sangat perlu disampaikan bahwa kolaborasi bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap tradisi, melainkan bentuk keberlanjutan yang menyesuaikan kondisi dan situasi. Seni tradisional tidak akan kehilangan maknanya jika dikemas dengan cermat dan tetap menghormati nilai dasarnya. Seni modern pun bisa menjadi jembatan agar nilai-nilai tradisional lebih bisa diterima generasi muda.

Bulan dan Matahari pastinya tidak akan bisa bertemu namun bulan dan matahari bisa dirasakan manfaatnya oleh mahluk hidup di Bumi. Artinya seni tradisional dan seni modern tidak bisa kita samakan dari segi maknanya, namun bisa dinikmati keindahannya oleh penonton. Akhirnya, seni bisa menyatukan manusia, bukan memisahkannya. Ego antar pelaku seni hanyalah hambatan yang bisa diselesaikan dengan niat dan komunikasi yang baik. [T]

Penulis: Gede Angga Prasaja
Editor: Adnyana Ole

“Tamasya Tak Biasa”, Mengenang Kepergian Cok Sawitri dengan Pentas Seni Tak Biasa
Menuju PKB, Gong Kebyar Anglocita Suara “Sparring Partner” dengan Dwi Mekar — Keduanya Top
Oratorium Panji Sakti, Ragam Nusantara dan “Shortcut” — Catatan Malam Apresiasi Seni HUT Kota Singaraja
Konser Ake Buleleng: “Timpal Ake, Timpal Ente,” Semua Top…
“Wiranjaya Thailand” dan Ketidakkonsistenan Kita: Catatan Terkait Ribut-ribut Tari Wiranjaya Duta Buleleng di PKB
Tags: baligong kebyarmusikseni modernseni tradisional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali, Label dan Ogoh-ogoh

Next Post

Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar

Gede Angga Prasaja

Gede Angga Prasaja

Musisi. Kini bekerja di Pemkab Buleleng

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar

Melompat ke Jurang Imajinasi: Kreativitas Tak Lagi Punya Pagar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co