LELUHUR kita Bali (manusia) meninggalkan banyak warisan pengetahuan yang bisa kita baca, ketahui, pahami dan praktekan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Hindu Bali adalah persembahan berupa “canang” (rangkaian bunga) yang di dalamnya diberi pandan arum yang diiris tipis yang disebut kembang rampe. Arum bunga-bunga dan kembang rampe yang terhirup melegakan hidung dan nafas, indah warna bunga dan rangkaian menyegarkan mata.
Dalam pengetahuan tentang kandungan, sifat, jenis energi, biasanya kita hanya terpaku pada yang kita lihat, dengar, makan dan minum, dan abai pada yang kita hirup, padahal yang kita hirup tercerap langsung ke paru-paru, ke atas mempengaruhi otak, pikiran, organ-organ tubuh, indria-indria dan rasa, dan perasaan.
Hanya “perokok” yang dengan sadar menghirup asap yang mengandung aroma yang mempengaruhi pikiran, perasaan dan organ-organ tubuhnya. Tapi banyak yang tidak tahu, tidak paham, apa kenapa dan bagaimana aroma yang dihirupnya.
Tidak tahu karena tidak mau belajar, tidak belajar membuat bodoh, sehingga mudah dibodohi oleh yang lebih berpengetahuan. Terutama yang memiliki pengetahuan tentang cara-cara membodohi dan memperbodoh.
Kita masyarakat Bali juga sesungguhnya nyaris seperti “perokok” yang terjerumus menjadi pecandu, yang tidak sadari apa, kenapa dan bagaimana yang kita hirup. Asap dupa yang memenuhi ruang-ruang pemujaan, jarang kita tahu, dan pahami jenis, sifat dan kandungan energinya.
Padahal dasar dari kehidupan organisme (mahluk hidup) adalah bernapas, sehingga apa yang diirup menjadi dasar kuaalitas kehidupan makhluk hidup.
Kini di Bali kembang rampe (pandan arum) yang menyebar harum , diberi pewarna (konon agar tampak lebih hijau dan tahan lama), sebuah kreativitas yang mengingkari kealamiahan, menjauhkan dari makna, fungsi dan manfaat sejati kembang rampe (pandan arum).
Mewarnai kembang rampe tidak saja seperti mendurhakai pengetahuan leluhur, tetapi juga mengembangbiakkan kebodohan.
Jadi mari belajar beragama dan berbudaya dengan kesadaran untuk selalu belajar pengetahuan yang diwarisi leluhur agar tak mudah dibodohi, tak memelihara dan menjadi mengembangbiak kebodohan.
Yang paling sederhana kita bisa mulai belajar dari kembang rampe, daun pandan yang diiris tipis, dimaksudkan arumnya menyebar di udara.
Daun pandan (pandan arum) mengandung berbagai vitamin, mineral, dan antioksi dan vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin B3, vitamin C, dan karotenoid.
Manfaat daun pandan:
1. Meredakan nyeri sendi (ekstrak/minyak daun pandan)
2. Mencegah penyakit jantung/penyembitan pembuluh darah (meminum rebusan daun pandan) (aterosklerosis).
3. Mengobati luka bakar ringan/karena paparan matahari (daun pandan kering dihaluskan ditaburkan pada kulit)
4. Menjaga fungsi penglihatan (Vitamin A dan kandungan beta karoten meningkatkan kesehatan mata dan melindunginya)
5. Menjaga kesehatan kulit
6. Mengontrol kadar gula darah (mengkonsumsi ekstrak daunnya menghambat penyerapan gula di usus dan meningkatkan produksi insulin dalam tubuh)
7. Mencegah penyakit kanker
Mengonsumsi daun pandan juga berpotensi mencegah penyakit kanker.(mengandung vitamin A, vitamin C, dan beta karoten yang bersifat antioksidan)
Semoga pikiran baik datang dari segala penjuru. Semangat. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA: