DI Desa Les, gunung dan laut saling berhadapan. Sebab itulah nyegara-gunung dalam Les Ngembak Festival, Minggu, 30 Maret 2025, diabadikan sebagai akar filosofis—ruh festival mereka, ketika mengenalkan diri sebagai desa wisata.
Melalui pembicaraan pariwisata, merawat alam menjadi fokus utamanya. Kalau alam baik, keindahannya akan tetap bertahan. Sebab alam yang sehat, di luar maupun dari dalam, membuat segenap makhluk yang hidup di sana akan sejahtera. Termasuk manusianya.
Dan melalui pembicaraan pariwisata, cara pandang materialistik cukup menjalar di masyarakat. Masyarakat merasa diri mesti mengurangi buang sampah sembarang, agar desa mereka tetap bersih. Agar terus-terus menjadi daerah pariwisata—yang mendatangkan banyak orang, dan menaburkan uang di setiap jajanan lokal .
Tetapi saya yakin, bukan hanya sekadar uang yang dicari oleh masyarakat Desa Les. Tetapi juga kesehatan alamnya yang mereka hormati sejak dulu. Sehingga, membahas laut atau gunung, berarti pula membahas keselamatan manusianya.
Seperti yang dikatakan oleh Muhidin M. Dahlan dalam opininya “Sastra dan Bagaimana Tentara Memandang Laut” di Jawa Pos: “..Barangsiapa kehilangan air, dia kehilangan tanah, barangsiapa kehilangan laut dia kehilangan darat.”
Melalui nukilan di atas, juga spirit Les Ngembak Festival itu, narasi membahas gunung bahwa tak melulu membahas kemolekan pohon-pohon dan hewan-hewannya di dalam hutan. Juga tentang laut, tidak sekadar dibahas bentuk keseksian bibir pantainya, atau kemolekan lautnya yang biru, yang menjadi jingga yang indah ketika sore.
Tetapi juga membahas perjuangan masyarakat dalam memperlakukan berkat Tuhan itu dengan agung.

Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Sepanjang 5 kilometer pantai terbentang di Desa Les, sepanjang itu masyarakat menggunakannya sebagai wisata desa. Laut terbentang dan biru, dimanfaatkan pula sebagai tempat melaut, menangkap ikan, menghidupi anak dan istri.
Pada satu waktu, ya, di Les Ngembak Festival itu, di sela hujan masih turun, Tari Nelayan ditarikan oleh tiga perempuan masih remaja desa, yakni Kadek Ayu Pratiwi Asih, Luh Anindya Trisna Putri, dan Luh Manis Sri Ayuni. Mereka membawakan satu kontemplasi sangat dalam bagaimana hubungan masyarakat desa dengan laut—sangat kuat.
Tari Nelayan diciptakan I Ketut Merdana di desa Kedis, Kecamatan Busungbiu, Buleleng pada tahun 1960. Sesuai namanya, gerakan yang dihadirkan diadopsi dari gerakan-gerakan nelayan Bali dalam menjalankan aktivitas menangkap ikan.
Melalalui tarian itu juga, kita membayangkan kembali laut bukan barang mati. Tetapi laut juga hidup seperti gunung yang menumbuhkan pohon-pohon, meneteskan air bening, biasa disebut air terjun.
Laut memberi banyak ikan dan garam—yang menjadi masyarakat desa kuat dan kreatif. Sebab itulah, ia harus diurus. Dimanfaatkan secara baik dan organik. Tak boleh dirusak. Kesadaran material semacam itu, memiliki efek yang baik. Masyarakat seperti meyakini jika rusak alam, rusak diri sendiri.
“Dulu, sempat ada masyakat yang ngambil ikan dengan cara dibom. Tapi itu dulu, sekarang sudah nggak. Laut kita sekarang cukup bersih, apalagi setelah menjadi keunikan desa dalam pariwisata. Setidaknya kesadaran untuk menjaga laut atau gunung itu sudah mulai muncul,” kata Gede Adi Wistara, Perbekel Desa Les di sela acara.

Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Di atas panggung, Kadek Ayu Pratiwi Asih, Luh Anindya Trisna Putri, dan Luh Manis Sri Ayuni—masih menarikan tari nelayan. Di dalam tarian itu, ketiganya memiliki peran masing-masing. Seperti Ayu, ia memiliki peran atau tugas untuk menyimpan ikan.
Sementara Anindya berperan sebagai nelayan yang menangkap ikan, dan Manis Sri bertugas untuk mendayung kapal. Di sana juga ada adegan bagaimana salah satu mereka terluka tangannya. Hal itu membuat para pentonton membayangkan kembali bahwa laut, menjadi tempat berjuangnya masyarakat pesisir.
Luka reda. Ketiga penari itu setelah duduk melingkar, mengobati, mereka berdiri. Kemudian menari lagi hingga selesai…
Melalui gerakan yang dinamis, seperti mendayung, menebar jala, dan menarik ikan, tarian ini mencerminkan keuletan masyarakat di desa itu dalam mencari nafkah di laut. Tarian ini setidaknya menggambarkan Desa Les sebagai desa dengan potensi bahari yang dimiliki. Kaya.

Tari Nelayan pada Les Ngembak festival 2025 | Foto: tatkala.co/Rusdy
Laut dan gunung sebagai potensi besar masyarakat untuk kembali melakukan hal-hal yang kreatif dan asik. Melalui festival ini, narasi nyegara-gunung kembali dihidupkan.
“Laut menjadi bagian penting harus dirawat dengan kesadaran yang penuh. Menjaganya secara kultural (dengan aktivitas budaya), bukan sekadar kampanye: mari merawat alam dengan cara tidak buang sampah sembarang di laut!” kata Nyoman Nadiana, ketua pelaksana festival. [T]
Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole